Laporkan Masalah

PENINGKATAN KETERAMPILAN PEKERJA SEKTOR KONSTRUKSI (Studi Kasus Pelatihan Tukang Pemula pada Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah II Surabaya)

Yudhiani Titi Sundari, Drs Sukamdi,MSc

2013 | Tesis | S2 Kependudukan

Potensi penyerapan tenaga kerja dari sektor konstruksi saat ini belum dikembangkan sepenuhnya jika dilihat dari posisi sektor konstruksi dalam lapangan pekerjaan utama. Pada level nasional sektor konstruksi menempati urutan kelima dalam jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama (BPS 2010). Namun pada level daerah, Propinsi Jawa Timur menunjukkan perkembangan, perbandingan penduduk yang bekerja bulan Februari 2011 terhadap Februari 2010 Berita Resmi Statistik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan terbesar pada Sektor Konstruksi sebesar 113,7 ribu orang. Peningkatan keterampilan tenaga kerja sektor konstruksi menjadi salah satu cara dalam peningkatan kesejahteraan pekerja konstruksi Melalui pelatihan yang diberikan peserta pelatihan diharapkan dapat memiliki skill dan posisi tawar yang lebih baik. Penelitian ini mengambil studi Kasus Pelatihan Tukang Pemula yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah II Surabaya.Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah penyelenggaraan pelatihan telah memenuhi kebutuhan pekerja konstruksi dari segi peningkatan keterampilan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif berupa wawancara mendalam dan FGD, dan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif atas data sekunder peserta untuk menunjang tercapainya tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan telah memenuhi tujuan hal peningkatan keterampilan berdasarkan wawancara mendalam terhadap informan dan analisis dokumen hasil uji kompetensi peserta.Namun demikian pelatihan ini masih memiliki kesenjangan dalam tujuan akhir peningkatan kesejahteraan pekerja konstruksi hal ini dikarenakan kondisi pengupahan di masyarakat yang belum sepenuhnya mensyaratkan pekerja bersertifikat, motivasi peserta yang berbeda dalam mengikuti pelatihan khususnya peserta non tukang dengan dan peserta asli tukang, kelemahan dalam proses seleksi, dan akses informasi ketenagakerjaan yang belum dimanfaatkan sepenuhnya, serta terbatasnya kemampuan tukang untuk meningkatkan status pekerjaan. Rekomendasi yang ditawarkan adalah sosialiasi pelatihan yang lebih terbuka, proses seleksi yang lebih ketat, dan kerjasama yang lebih terprogram dengan instansi terkait seperti BLK dan PJTKI.

The construction sector ranks fifth in the national working population according to main job (BPS 2010). While at the regional level, East Java Province, a progress is being made, the comparison of the working population in February 2011 to February 2010, shows that there is gratest improvement in construction sector by 113,7 thousand people. The increasement in skills of construction workers to be one way of potential increasement in employment.Through the training provided, the trainees are expected to have skills and better bargaining position. This research took Beginner Training Case studies conducted by Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah II Surabaya. The aim of this research is to determine wheter the training meet the construction workers’ need: in terms of skills and job status improvement. The research methods used are qualitative and quantitative methods. Qualitative method is done through in depth interview and FGD, while the quantitative methods is done through descriptive analysis of secondary data to support the achievement of research goals. Results showed that the training met the need of construction worker for skills enhacement based on depth interviews and analysis of related documents. However the training has not been able to the ultimate goal of training: construction worker’s welfare improvement. It is because of waging system in society that has not fully support the sertification program, the different participant’s motivation, especially for the non construction worker and the construction worker, the weakness in the selection process, and acces to employment information that has not been fully utilized, and the limitation of construction workers in accessing higher status. The recommendation offered is a more open dissemination of training, stricker selection process, and stronger cooperation with related institution, such as BLK and PJTKI.

Kata Kunci : Peningkatan SDM, Tenaga Kerja Konstruksi, Pelatihan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.