Laporkan Masalah

PEMBERITAAN KONFLIK DALAM SURATKABAR KOMPAS (Analisis Isi Berita Konflik Ahmadiyah, Tarakan dan Papua dalam Suratkabar KOMPAS)

WIDOWATI MAISARAH, Dr. Kuskridho Ambardi, M.A.,

2012 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu Komunikasi

Pemberitaan konflik di Indonesia pada umumnya, sering terjebak dengan apa yang dinamakan jurnalisme konflik. Jurnalisme konflik adalah pemberitaan tentang konflik yang hanya berfokus pada konflik dan kekerasan. Praktek jurnalisme yang berorientasi pada kekerasan bisa terjadi karena ketidaksadaran dan keterbatasan jurnalis. Tetapi tidak menutup juga karena kesengajaan untuk mendramatisir konflik sehingga berita menjadi menarik dan seru. Secara normatif, pemberitaan yang berorientasi pada konflik dan kekerasan adalah bentuk jurnalisme yang tidak etis. Etika dalam pemberitaan sangat penting karena akan ada implikasi signifikan jika berita tidak etis. Selain merugikan kredibilitas media dan jurnalisnya sendiri, berita yang dinilai tidak etis akan sedikit banyak mempengaruhi persepsi khalayak terhadap konflik yang diberitakan. Pembaca tentunya mengharapkan berita konflik yang jernih, jelas, netral dan tidak mengutamakan sensasi pemberitaan. Khalayak yang belum tentu memiliki kesadaran bermedia yang bagus, cenderung akan terbawa dalam pemberitaan konflik sehingga emosinya terpancing. Padahal, dalam menanggapi konflik, lebih baik menggunakan pemikiran yang jernih dan logis. Pemberitaan konflik yang sarkas, emotif dan tidak jernih akan membuat konflik semakin keruh. Diperlukan cara pemberitaan konflik yang profesional agar khalayak tidak tergiring ke dalam emosi yang ikut memanas atau salah persepsi terhadap konflik yang diberitakan. Pemberitaan konflik yang etis dan profesional inilah yang disebut jurnalisme damai. Sedangkan pada kutub ekstrim yang berlawanan adalah jurnalisme konflik yang ditengarai memuat semacam dramatisasi konflik, pemihakan, komodifikasi konflik demi sensasi atau minimal, mencerminkan ketidakprofesionalan jurnalis dalam melaksanakan tugasnya. Cara media memberitakan konflik dipengaruhi oleh sistem kekuasaan dimana media tersebut berada. Termasuk juga di Indonesia. Dalam kungkungan rezim otoriter Soeharto, media tabu memberitakan konflik. Tipikal rezim otoritarian memang demikian, cenderung memberikan represi kuat terhadap pers agar pemerintah tercitrakan dengan bagus. Konflik, korupsi, skandal pemerintah merupakan topik-topik yang terlarang bagi pemberitaan media massa. Tidak jarang, kenekatan media memberitakan konflik berakhir dengan fatal. Pembredelan adalah akibat yang harus ditanggung oleh pers masa Orde Baru apabila nekat memberitakan konflik horisontal. Ketika sistem telah berubah menjadi demokrasi, secara logis media menjadi lebih trbuka memberitakan konflik. Secara teori, media dalam sistem demokrasi sudah memiliki kebebasan untuk mengungkap fakta apapun, termasuk konflik, sekalipun konflik tersebut merupakan konflik SARA. Yang menjadi persoalan hanya tinggal bagaimana cara media memberitakan konflik? Konstruktif kah? Deeskalatif kah? Etis kah? Persoalan-persoalan tersebut yang coba dijawab dalam penelitian ini. Menggunakan kerangka besar teori jurnalisme damai, penelitian ini akan mencoba menjelaskan pola pemberitaan konflik di dalam salah satu suratkabar KOMPAS.

Looking back to previous researches, conflict journalism generally dominated conflict news coverage in Indonesian newspapers. Conflict journalism refers to conflict news coverage focuses at violence and win-lose orientation. Therefore, this coverage way is usually accused using conflict as no more than comodification object. Conflict has high news value which makes it is worth reporting. Frequently, journalists are trapped to expose and discover only the violence and material aspects of conflict. That kind of journalism practice could proceed from the journalists’ limitation, default and unconsciousness. But it could be caused by the consciousness of news agenda setting. Partial, unclear and provocative conflict news coverage could raise conflict tension. It has possibility to intensify conflict. Conflict coverage needs solution to change the conventional way which is usually used by the most of press media. And the solution is defined as peace journalism, a theory of conflict coverage proposed by Johan Galtung. It offers more ethic, detail, clear and professional methods at reporting conflict. Peace journalism model is the most ideal normative model ever offered to reform the conflict coverage. It gives media practitioners the better alternatives for conflict reporting. There are aspects improved in peace journalism due to replace the old conflict reportage and coverage. The important things that require attention in peace journalism are the ethical side of reporting and writing news, the constructive perspective which is shaped in news and the impartiality of both sources and news angle. This thesis would examine the implementation of conflict news coverage in the biggest newspaper in Indonesia, KOMPAS. It would explore and explain how KOMPAS reported Ahmadiyah, Tarakan and Papua conflict according to peace journalism theory frame. It also would describe the KOMPAS’ strength and weakness at reporting conflict. Using Johan Galtung’s indicators, this research project would try to find and then generalize the pattern of KOMPAS news reportage. The result is thereabouts representation of the way of reporting and covering conflict in national media.

Kata Kunci : pemberitaan konflik,konflik ahmadiyah,surat kabar kompas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.