STRATEGIC IDENTITY NEGOTITATION OF JEMAAT AHMADIYAH YOGYAKARTA, INDONESIA
SYAIFUL ARIF, Dr. Zainal Abidin Bagir
2012 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaTesis ini membahas tentang konstruksi dan negosiasi identitas anggota Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta. Untuk membahas isu tersebut, tesis ini menggunakan konsep identitas dari Stuart Hall, Amartya Sen, dan Bikhu Parekh. Mereka berargumen bahwa identitas tidak pernah statis tetapi selalu dalam proses. Mereka juga menteoritisasikan identitas sebagai hasil dari latar belakang sejarah dan elemenelemen institusional. Studi ini memeriksa relasi antara subjek-subjek dan praktik diskursif dengan strategistrategi yang spesifik dalam bentuk aturan dan program yang berjalan dalam Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta. Melalui penelitian etnografi, penelitian ini menemukan bahwa keyakinan terhadap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, kewajiban bai’at, chandah, serta kepatuhan kepada Jema’at menjadi elemen-elemen signifikan bagi seseorang untuk menjadi Ahmadi. Namun demikian, konstruksi identitas dalam komunitas ini dinamis, terdapat anggota yang mencoba untuk melekatkan diri secara penuh terhadap Ahmadiyah dan lainnya menyesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu. Tesis ini menunjukkan bahwa melalui posisi-posisi motivasional dan strategis, anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta menegosiasikan identitas mereka dengan yang lain melalui beberapa aspek; sosial-keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah. Walaupun studi ini menunjukkan peran signifikan para Ahmadi, juga mengakui kontribusi pemerintah dan organisasi sosial yang lain dalam mendorong kesalingpahaman dan sikap menghargai terhadap perbedaan di Yogyakarta.
This thesis is about the identity construction and negotiations of the members of Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta. To account these issues, it draws on Stuart Hall’s, Amartya Sen’s, and Bikhu Parekh’s concept on identity. They argue that identity never static but it is always in process. They also theorize that it is the result of historical background and institutional elements. The study examines the relation between subjects and discursive practices with specific strategies in the form of rule and programs implemented in Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta. Through ethnographic fieldwork, this study found that the belief of Mirza Ghulam as prophet, the obligation of bai’at, chandah, and the obedience into Jema’at have become the significant elements for someone to be Ahmadi. However, the construction of identity within this community is dynamics, there are members try to get full attachment into Ahmadiyah and other adjust with certain conditions. This thesis shows that through motivational or strategic positions, members of Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta negotiate their identity with other through several aspects; social-religious, educational and governmental institutions. Although this study leads to the significant role of Ahmadis, it also acknowledges the contribution of the government and other social organizations that encourage mutual understanding and respective attitudes toward diversities in Yogyakarta.
Kata Kunci : Ahmadiyah, Yogyakarta, identity construction, identity negotiation, discursive practice, religion