Laporkan Masalah

IDEOLOGI ISLAMISASI VS KEKERASAN Studi Respon Gerakan Dakwah Kampus terhadap Ideologi Kekerasan di Senat Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

TAUFANI, Dr. M. Iqbal Ahnaf

2012 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dua ideologi yang saling berlawanan di antara gerakan mahasiswa di Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. Kedua ideologi tersebut adalah ideologi Islam nonkekerasan yang didukung oleh Lembaga Dakwah Kampus Mahasiswa Pencinta Musholla (LDK-MPM) yang memiliki cabang di Fakultas Teknik dan ideologi kekerasan yang didukung oleh Senat Mahasiswa Fakultas Teknik. Penelitian ini mengeksplorasi berbagai aktivitas yang dilakukan oleh LDK-MPM dalam proses diseminasi ideologi Islam non-kekerasan. Aktivitas tersebut meliputi publikasi tulisan, training keagamaan, seminar perdamaian, aktivitas sosial, dan lain-lain dimana semuanya bertujuan untuk melawan ideologi kekerasan. Sebaliknya, Senat Mahasiswa mereproduksi ideologi kekerasan dalam memori kolektif mahasiswa baru melalui kegiatan pengkaderan dan juga melalui politik identitas yang bertujuan untuk menciptakan garis demarkasi antara mereka dengan mahasiswa fakultas lain. Kedua ideologi yang berlawanan tersebut telah membentuk warna dalam dinamika mahasiswa di UNHAS dimana gerakan kekerasan dan anti kekerasan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Data yang dianalisis dalam penelitian ini dikumpulkan melalui penelitian lapangan selama tiga bulan (Januari-Maret 2012) di UNHAS. Penelitian lapangan ini melibatkan observasi terhadap aktivitas yang dihubungkan dengan ideologi kekerasan dan anti kekerasan, observasi partisipan terhadap aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh LDK-MPM dan juga wawancara dengan beberapa informan kunci yang meliputi mahasiswa yang menjadi bagian dari Senat Mahasiswa, aktivis LDK-MPM, dan alumni Fakultas Teknik. Penelitian ini menunjukkan bahwa kedua ideologi yang berlawanan tersebut melekat dalam pikiran dan aksi masing-masing subjek ideologi karena mereka sadar bahwa ideologi lain di luar mereka merupakan sebuah ancaman. Ideologi Islam non-kekerasan secara psikologis dan sosial memiliki daya lebih karena ideologi tersebut harus muncul memberi respon pada ideologi yang menjadi rivalnya, dalam hal ini ideologi kekerasan. Ideologi kekerasan juga memperkuat kapasitas subjeknya karena mendapat tantangan dari ideologi yang diusung oleh LDK-MPM. Untuk memperkuat pentingnya kontestasi antara kedua ideologi lahir, maka penelitian ini didukung oleh teori aksi kolektif yang dipopulerkan oleh Sidney Tarrow (1994). Tarrow mengungkapkan bahwa untuk mempertahankan eksistensi sebuah ideologi, maka subjek-subjek di dalamnya harus mampu memanfaatkan berbagai peluang untuk berkontestasi dengan ideologi yang dianggap sebagai lawan (rival).

This research aims to identify two opposing ideologies among student movements of Hasanuddin University Makassar (UNHAS), South Sulawesi. The two ideologies are Islamic non-violence supported by a Muslim student association called Lembaga Dakwah Kampus Majelis Pencinta Musholla (LDK-MPM) which has a branch in Engineering Faculty and “secular” violence supported by Student Senate Board (SEMA) of Engineering Faculty, Hasanuddin University. This research explores the activities of LDK-MPM through which they disseminated their Islamic non-violence ideology. Those activities that include bulletin publications, Islamic training, seminars on peace of Islam, social activities and so forth are meant to counter the violence ideology. In turn, SEMA reproduces its violent ideology through narratives of collective memories instilled in freshmen initiation and also through the practice of politics of identity that signifies its distinct from other students of other UNHAS faculties. The two encountering opposing ideologies have shaped the landscape of students’ life of UNHAS. Violence and anti-violence movements at campus of UNHAS have been parts of students’ life. Data to be analyzed in this paper were collected through three-month fieldwork (January-March 2012) at UNHAS, Sulawesi. The fieldwork involved observations on the students’ activities related to violent/anti-violent ideologies, participant observations on the religious activities which was conducted by the activist of LDK-MPM, and interviews with several key informants that included the activist of student boards, activist of LDK-MPM, and alumnae of Engineering Faculty. This research finally argues that the two opposing ideologies have continually perpetuated in their subjects’ minds and actions because of the existence of the other. The Islamic-non violent ideology becomes psychologically and socially empowered as responses to the “rival” ideology. The violent ideology of SEMA has also strengthened among their subjects as being challenged by the other one of LDK-MPM. To make this point, this research will be informed by Sydney Tarrow (1994) theory of collective action. Tarrow argues that for an ideology to exist, its subjects should draw on the political opportunity to contest with a challenging and opposing ideology(s).

Kata Kunci : ideologi, senat mahasiswa, LDK-MPM


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.