Laporkan Masalah

KAJIAN ADAT BAHUMA DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN LADANG BERPINDAH (Studi Kasus Desa Juhu, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan)

Muhammad Varih Sovy, Prof. Dr. Sutikno

2012 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

Ladang berpindah sering dituduh sebagai penyebab kerusakan hutan dan dianggap tidak akan berlanjut di masa datang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aturan adat Bahuma sebagai ciri khusus ladang berpindah suku Dayak Meratus dalam mengatur perladangan berpindah dan untuk mengkaji keberlanjutan ladangan berpindah di masa datang melalui peran adat Bahuma dalam mengatur pembukaan ladang, bercocok tanam dan hasil panen. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus di desa Juhu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Sifat penelitian ini campuran (mixed-method) dengan metode pencarian data in-depth interview untuk mengetahui aturan-aturan adat Bahuma yang tidak tertulis. Hasil data dianalisis dengan pendekatan grounded theory, menggunakan triangulasi (uji kebenaran) data berupa observasi lapangan dan triangulasi teknis berupa analisis citra, analisis vegetasi dan kesuburan, analisis data-data demografi dan penghitungan indeks pembangunan manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adat Bahuma mengatur pengelolaan dan kepemilikan ladang serta hutan secara komunal. Adat mengatur bercocok tanam dengan mendorong suksesi alami melalui sistem gilir balik atau rotasi ladang untuk keperluan hara tanaman, hujan alami untuk irigasi dan perawatan intensif secara manual untuk mencegah hama. Penanaman padi sangat penting bagi adat untuk tujuan subsisten dan religius. Adat Bahuma beradaptasi dengan perubahan lingkungan sosial melalui penanaman karet melalui aturan komunal untuk mencegak eksploitasi lingkungan. Adaptasi aturan adat Bahuma diperlukan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai terutama bagi pendidikan dan kesehatan. Uji triangulasi menunjukkan pembukaan hutan selama tahun 1990-2010 sebesar 2,8 % dari total hutan primer milik adat. Efektifitas sistem gilir balik efektif mengembalikan hara C-Organik searah dengan lamanya suksesi ladang bera, namun fosfor (P) terus menurun seiring banyaknya pemakaian suatu ladang dan kemiringan ladang. Indeks keragaman pada tingkat suksesi ladang berpindah menunjukkan nilai sangat baik dengan rata-rata 4 bit/individual. Indeks Pembangunan manusia menunjukkan nilai dibawah rata-rata nasional, yaitu 0.49(skala 0-1). Ladang berpindah masih berpotensi untuk menjadi sistem pertanian alternatif berkelanjutan.

Swidden Agriculture often accused as one major factor of forest degradation, and considered not to be sustain in long term period. The objectives of this research are to investigate Bahuma customary law as a specific rule of conduct for Swidden Agriculture in studied area, and to assess Swidden Agriculture sustainability in long term period, through Bahuma customary law in land clearing, farming, and crop harvesting practices. This is a case study research, located in Juhu Village, Hulu Sungai Tengah Regency, in the province of South Kalimantan. Nature of the research is mixed method, using in-depth interview method to investigate Bahuma customary law. Data outcome analyzed by grounded theory approach, and triangulation test, especially for field observation findings, satellite imagery data, vegetation analysis, soil fertility analysis, demographic data analysis, and human development index calculation. Study result shows that Bahuma customary law ruled farming practices, and farming field and forest ownership, as a communal properties and institution. This customary law regulate farming and encourage natural succession process by gilir balik system or field rotation system, in order to preserve and be self sufficientof soil nutrients supply, adjusted to rainwater supply, and using intensive organic practices against pests. Bahuma customary law, valued paddy (oryza sativa sp.) farming as very important activities to fulfill subsistence and religious purposes. Bahuma customary law has been adapted to social environment changing by allowing communal rubber plant, in order to prevent excessive exploitation of natural resources. This adaptation is needed to fulfill need of cash money, especially cash money for education and health services. Triangulation test has shown that forest clearing in 1990-2010 period is amounted 2.8% of total communal primary forest, under annual deforestation in Indonesia (1.8 % per year). Gilir balik system has proved as an efficient method for organic carbon (C) nutrient recovering, inline to the period of Fallow field succession. In the other hand, Phosphor (P) decreasing continuously, in line to land using intensity, and field slope. Diversity index on Swidden Agriculture succession practices is found to be very good, with average amounted of 4 byte/individual. Human development index shown a number slightly under average, which is 0.49 in scale of 0 to 1. All of explanation given above leads to the conclusion that Swidden Agriculture have the potential to be an alternative system for the sustainability farming

Kata Kunci : adat bahuma, keberlanjutan lingkungan, ladang berpindah, Dayak Meratus


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.