PENILAIAN TINGKAT BAHAYA EROSI, SEDIMENTASI, DAN KEMAMPUAN SERTA KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN DAS TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Sayid Syarif Fathillah, Ir.,MP., Prof. Dr. Ir. Supriyanto N., M.Sc.
2012 | Disertasi | S3 Ilmu TanahDaerah aliran sungai (DAS) Tenggarong merupakan salah satu wilayah pengembangan bidang pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara. Oleh karena itu, data potensi lahan dan degradasi lahan merupakan hal penting untuk penatagunaan lahan di dalam DAS Tenggarong bagi keberlanjutan kegiatan tersebut. penelitian ini adalah untuk menentukan: 1) tingkat bahaya erosi berdasarkan prediksi erosi pada DAS Tenggarong, 2) besarnya sedimen pada sungai utama masing-masing sub DAS, 3) kemampuan lahan DAS Tenggarong, 4) kesesuaian lahan tanaman kelapa sawit DAS Tenggarong serta 5) rencana tata guna lahan DAS Tenggarong. Penelitian dilaksanakan di daerah aliran sungai Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, sejak bulan Juli 2009 sampai dengan April 2010 serta pada bulan Januari 2011. Penelitian ini menggunakan analisis data primer hasil survei lapangan serta data sekunder untuk mendapatkan data yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi daerah aliran sungai Tenggarong didominasi kelas tingkat bahaya erosi ringan (34,23% dari luas DAS Tenggarong) yang diikuti kelas tingkat bahaya erosi sedang (28,09%), kelas tingkat bahaya erosi sangat ringan (21,03%), kelas tingkat bahaya erosi berat (16,35%) dan kelas tingkat bahaya erosi sangat berat (0,30%). Semua sub DAS dalam DAS Tenggarong memiliki hubungan yang kuat (r ≥ 0,8) antara debit air sungainya dengan debit beban endapan layang (BEL) yang menunjukkan semakin tinggi debit air sungai semakin tinggi pula debit BEL. Kelas kemampuan lahan DAS Tenggarong didominasi oleh lahan dengan kemampuan kelas IV (26,84% dari luas DAS Tenggarong), diikuti kelas V (20,65%) dan kelas VI (46,62%). Kesalahan penggunaan lahan dalam DAS Tenggarong terjadi pada semua penggunaan lahan termasuk untuk usaha tani seperti kebun campuran, sawah dan tegalan dengan luas 22,99% dari total luas DAS Tenggarong. Kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kelapa sawit berdasarkan metode dari Djaenuddin dkk. (1994) menunjukkan bahwa DAS Tenggarong memiliki kelas kesesuaian lahan S3 (sesuai terbatas) dan N1 (tidak sesuai saat ini), sedangkan berdasarkan metode dari Sys et al. (1994) adalah kelas kesesuaian S2 (agak sesuai) dan S3 (sesuai terbatas). Secara umum topografi merupakan pembatas utama pada subkelas kesesuaian dan diikuti oleh pembatas kesuburan tanah. Penatagunaan dalam DAS Tenggarong menghasilkan sembilan kelompok lahan berupa enam kelompok lahan yang masih tetap dibiarkan seperti semula, yaitu hutan, tegalan, tegalan/agroforestri, kebun campuran, sawah dan pemukiman serta tiga kelompok lahan untuk alokasi pengembangan budidaya pertanian, peternakan dan penambahan luasan hutan.
The purposes of the study were Tenggarong watershed is one of the agricultural development area in Kutai Kartanegara Regency. Therefore, the potential of land and as well as land degradation data are important for Tenggarong watershed land use planning for sustainability of the activity. to determine: 1) the level of soil erosion hazard based on rate of erosion prediction of Tenggarong watershed, 2) the sediment amount of major river of each sub-watershed, 3) land capability of Tenggarong watershed, 4) land suitability for oil palm of Tenggarong watershed and 5) land use planning of Tenggarong watershed as well. The research was conducted in Tenggarong watershed of Kutai Kartanegara Regency in East Kalimantan Province, from July 2009 until April 2010 and in January 2011. Data from field survey and secondary data analysis were used to obtain the necessary data. The results showed that soil erosion hazard of Tenggarong watershed was dominated by light soil erosion hazard (34.23% of total area of Tenggarong watershed) followed by moderate soil erosion hazard (28.09%), very light soil erosion hazard (21.03%), severe soil erosion hazard (16.35%) and very severe soil erosion hazard (0.30%). All sub-watersheds of Tenggarong watershed had strong relationships (r ≥ 0,8) between river discharge and suspended sediment discharge which showed that the bigger the river discharge the bigger the discharge of suspended sediment. Land capability of Tenggarong watershed was dominated by land with class IV (26,84% of total area of Tenggarong watershed), class V (20,65%) and class VI (46,62%). Misuse of land in Tenggarong watershed occurred in all kind of land use, such as mixed farming, paddy fields and dry land farming with an area 22,99% of the total area of Tenggarong watershed. The actual land suitability for oil palm based on Djaenuddin et al. (1994) method showed that Tenggarong watershed had S3 land suitability class (marginally suitable) and N1 land suitability class (actually unsuitable but potentially suitable), whereas based on Sys et al. (1993) method showed that Tenggarong watershed had S2 land suitability class (moderately suitable) and S3 land suitability class (marginally suitable). In general, the topography was the major limitation to the land suitability sub class followed by poor soil fertility. Land use planning in Tenggarong watershed produced ten groups of land consisted seven groups of land had to be remained as before, namely forest, dry land farming, dry land farming/agroforestry, mixed farming, coal mining, paddy field and settlements, and three groups of land for allocation development agriculture, animal husbandry, and addition of forest area.
Kata Kunci : Tingkat bahaya erosi, sedimentasi, evaluasi kemampuan lahan, Evaluasi kesesuaian lahan, tata guna lahan