Laporkan Masalah

ANALISIS WACANA ATAS NASKAH AKADEMIK KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA JIP UGM (MONOGRAPH ON POLITICS AND GOVERNMENT

Didimus Dedi Dhosa, Prof. Dr. Heru Nugroho,

2012 | Tesis | S2 Sosiologi

Tesis ini bertujuan untuk menganalisis Naskah Akademik Keistimewaan Yogyakarta Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM. Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis wacana menurut Teun A. van Dijk. Skema analisis wacana van Dijk terdiri atas tiga bagian integral yakni analisis teks, kognisi sosial dan analisis sosial. Analisis teks berperan dalam melacak muatan, maksud dan makna yang terselubung pada sebuah teks. Namun bagi van Dijk, sebuah teks bukanlah medan kosong yang datang dari langit. Teks merupakan konstruksi author yang telah dijejali dengan segudang pengetahuan, informasi, pengalaman, kepentingan dan pilihan politiknya. Karena itu, pendekatan kedua yang dipilih adalah kognisi sosial. Level analisis ketiga adalah analisis sosial yang digunakan untuk menelaah proses produksi dan konstruksi wacana di tengah masyarakat. Dari ketiga hal di atas, fokus kajian ini lebih menggunakan skema analisis teks. Dua hal terakhir hanya pelengkap dalam memetakan analisis terhadap persoalan Keistimewaan Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta dalam perspektif Gramscian merupakan sebuah bentuk hegemoni. Gramsci memadang hegemoni sebagai bentuk penguasaan suatu kelompok terhadap kelompok lain. Kelompok yang dikuasai tidak hanya mengetahui dan menginternalisasi nilai-nilai dan norma dalam komunitas tetapi juga memberikan persetujuan untuk dikuasai pihak lain. Ada tiga pertimbangan penting ia dinamakan hegemoni yakni, pertama, kekuasaan Gubernur di Yogyakarta selama tiga periode sejarah Indonesia dipegang oleh kalangan Kasultanan dan Pakualaman. Kedua, kepemimpinan kedua dinasti tersebut diyakini sebagai sesuatu yang telah mendapat legitimasi hukum, historis, sosial dan kultur. Ketiga, meski gelombang euforia demokrasi yang secara esensiil mengakui hak-hak asasi (termasuk hak dalam bidang politik), masyarakat di Yogyakarta tetap mempertahankan otoritas kekuasaan pada pihak dinasti Kasultanan dan Pakualaman. Namun, kekuasaan hegemonik dalam perspektif Gramscian mendapat counter hegemoni. Counter hegemoni merupakan upaya perlawanan yang berujung pada transformasi tatanan sosial, politik, kultur dan pemerintahan. Dengan menggunakan pendekatan analisis teks van Dijk, ditemukan bahwa Tim JIP bertindak sebagai counter yang menghendaki transformasi khususnya pada tatanan pemerintahan di DIY. Counter dilakukan melalui teks naskah akademik. Bentuk counter ini terdiri atas revisi kekuasaan, proses pemilihan, dan penciptaan nama Parardhya. Ada tiga perubahan yang tampak signifikan yakni, pertama, Tim JIP mendekonstruksi jabatan Gubernur yang hanya tertutup bagi dinasti Kasultanan dan Pakualaman untuk diberikan kepada publik di Yogyakarta. Kedua, penempatan jabatan Gubernur tidak melalui proses penetapan tetapi lewat pemilihan umum yang demokratis. Ketiga, jabatan Parardhya dikonstruksi dan ditetapkan bagi Sultan dan Paku Alam. Pada titik inilah tampak jelas praktek counter hegemoni Tim JIP atas keistimewaan Yogyakarta.

This thesis aims to analyze the Academic Paper on Yogyakarta Special Region (YSR) made by Jurusan Ilmu Pemerintahan (JIP) UGM. The writer utilized analysis method coined by Teun A. van Dijk. Van Dijk’s analysis consists of three integral parts of the text analysis, social cognition and social analysis. Text analysis plays a role in tracking cargo, intent and hidden meaning in a text. Semantic construction can be traced through the textual analysis. However, for van Dijk, a blank text field is not coming from the sky. Text is an author constructs that have been overwhelmed by the myriad of knowledge, information, experience, interests and political choices. Therefore, the writer chose the second approach namely social cognition. The third level of analysis is social analysis that is used to examine the production process and the construction of discourse in the society. Of the three things above, the focus of this study is more focusing on the text analysis. The last two function as complementary tools to mapping problem in YSR. The specialty of Yogyakarta in Gramscian perspective is a form of hegemony. Gramsci’s hegemony as a form of control of a group tends to fights against other groups. Controlled group does not only know and internalize the values and norms in the community, but also give approval for the hegemonic facts. There are three important considerations which he called hegemony, first, the power of the Governor of Yogyakarta during three periods in the history of Indonesia held by the dynasty Hamengkubuwono and Pakualaman. Second, the leadership of the two dynasties is believed as legal based on the historical, social and cultural perspectives. Third, despite according to modern democracy, the current system of government in YSR is not democracy, but people in YSR still retain the current system of government. However, the hegemonic power in the perspective of Gramscian hegemony gets its counters. It is understood as an effort to counter the hegemony of the resistance that led to the transformation of the social order, politics, culture and government. JIP team UGM through academic texts is resistant to the specialty of Yogyakarta. By using text analysis approach van Dijk, JIP UGM behaves as a counter which specifically requires the transformation of the system of government in YSR. Transformation of the system of government impacts on the change of social system, politics and culture in YSR. There are three changes: first, JIP UGM proposes that governorial position in YSR is open for all by implementing the general election. In order to achieve electoral political process, JIP draws a clear demarcation between monarchy and democracy. Second, JIP revises the legal aspect for governorial position. Construction of this revision is an integral part of the Gramscian perspective as the practice of counter hegemony. By using discourse analysis of van Dijk and using Gramscian framework, the authors found that JIP proposes for change in the social, political and cultural fields.

Kata Kunci : analisis wacana, counter hegemoni, monarki konstitusional dan demokrasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.