“ONDAK KE LAUT, POKOK HARI NYALAH†(Kajian Etnoekologi dan Siasat Melaut Nelayan Belawan Bahari di Tengah Gejala Perubahan Iklim)
PANGERAN PUTRA PERKASA ALAM NASUTION, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.,
2012 | Tesis | S2 AntropologiDalam satu dekade terakhir, isu mengenai gejala perubahan iklim telah menjadi perbincangan serius bagi masyarakat dunia. Dampak dari berlangsungnya gejala perubahan iklim dapat dirasakan atau dialami langsung oleh suatu kelompok masyarakat yang berada di wilayah pesisir, terutama masyarakat nelayan. Nelayan Belawan Bahari di Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan salah satu komunitas nelayan yang diduga turut merasakan dampak dari gejala perubahan iklim tersebut. Perairan laut Belawan yang selama ini diarungi mereka demi melanjutkan kehidupan, dinyatakan sebagai salah satu wilayah yang mendapatkan pengaruh dari berlangsungnya gejala perubahan iklim. Permasalahan yang tengah dialami oleh nelayan Belawan Bahari tersebut dicoba diungkap di dalam kajian ini dengan menelusuri: 1) pengetahuan mereka dalam memahami dan memprediksi keadaan lingkungan (laut); 2) pandangan mereka terhadap keadaan lingkungan yang semraut (sulit diprediksi) dalam kurun waktu terakhir; 3) upaya (siasat melaut) yang diterapkan dalam menghadapi kesemrautan keadaan lingkungan tersebut. Penelitian atas kajian ini dilakukan di Desa Belawan Bahari. Data yang digunakan dalam analisis merupakan data kualitatif yang diperoleh dari 20 informan dan 5 informan kunci. Pengumpulan data dilakukan dengan penelitian pustaka, metode observasi partisipasi, hearing, indepth interview, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala perubahan iklim memang tengah berlangsung dan berpengaruh terhadap keadaan lingkungan (laut). Pengaruh dari berlangsungnya gejala perubahan iklim tersebut ditandai dengan beberapa perubahan keadaan alamiah di lautan, seperti: ketidakmenentuan atas peristiwa terjadinya hujan, keadaan angin yang bertiup, keadaan ombak, dan keberadaan ikan di lautan. Kenyataan atas perubahan keadaan lingkungan tersebut mengakibatkan sebagian besar pengetahuan lingkungan (pokok hari) yang dimiliki nelayan Belawan Bahari cenderung tidak presisi. Sistem pengetahuan lingkungan yang kini cenderung tidak presisi (pokok hari nyalah) mengharuskan mereka menerapkan berbagai siasat melaut secara tepat. Siasat tersebut ditujukan untuk menghadapi kesemrautan lingkungan yang dapat mengancam keselamatan mereka ketika melaut, dan juga agar tetap dapat memperoleh hasil tangkapan melaut. Kesemrautan lingkungan (laut) yang tengah dihadapi oleh nelayan Belawan Bahari merupakan suatu kondisi yang sedang berproses, sehingga sistem pengetahuan lingkungan yang mereka miliki selama ini juga turut mengalami proses penataan kembali (rekognisi).
In the last decade, the issue of climate change phenomenon has been a serious debate for the people around the world. The impact of the climate change symptom can be felt or experience directly by a societal group in coastal area. Belawan Bahari fishermen in Medan Belawan district, Medan city, North Sumatera province is one of the fishermen community who allegedly suffered the effects of the climate change phenomenon. ‘Belawan’ marine waters which had been forded by them for the sake of their lives, declared as one of the affected areas which impacted by the climate change. The problems being experienced by ‘Belawan Bahari’ fishermen related with the climate change phenomenon was revealed in this study by tracing: 1) their knowledge in understanding and predicting the circumstances of the environment (over the sea); 2) their perception about the environment (over the sea) which has been more unpredictable in the recent time; 3) the effort (fishing strategy) that were applied by them to face of the unpredictable circumstances of the environment. The research of this study has been conducted at Belawan Bahari Village. The data used in analysis was a qualitative data which obtained from 20 informants and 5 key informants. The data has been gained by literature review, participated observation method, hearing, in-depth interviews, and documentation. The research result indicated that climate change symptom was occurring and influenced the circumstances over the sea. The impact of the climate change was indicated by some changes in natural condition such as unpredictable of the rain season, wind, wave, and the fish condition over the sea. The unpredictable circumstances caused the knowledge on environment (pokok hari) was going imprecise. The imprecise of the environmentally knowledge system (pokok hari nyalah) makes them applying strategy to sail appropriately. The strategy is intended to face unpredictable environment that can threat their safety and sailing and to get result of their sail. The unpredictable environment (over the sea) which had been faced by them was under process condition, it makes their knowledge on environment is in process of recognition
Kata Kunci : Perubahan Iklim, Pokok Hari, Pokok Hari Nyalah, Siasat Melaut