KONTRIBUSI LOKALITAS TERHADAP TATA KELOLA DESTINASI PARIWISATA: STUDI NILAI ETIKA, ESTETIKA, DAN EKONOMI LOKAL DI DESTINASI PARIWISATA KOMODO-LABUAN BAJO, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR
FRANS TEGUH, Dr. Baiquni, M.A.
2013 | Disertasi | S3 Kajian PariwisataLokalitas dan tata kelola destinasi menjadi isu penting dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan. Lokalitas diperlukan untuk meningkatkan daya tahan dan penciptaan faedah destinasi pariwisata secara berkelanjutan. Kelestarian lingkungan alam dan budaya merupakan salah satu prasyarat bagi terwujudnya kepariwisataan berkelanjutan. Setiap destinasi memerlukan pendekatan tata kelola yang mengadopsi prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan berkelanjutan yang berbasis lokalitas. Tata kelola destinasi pariwisata yang tepat diperlukan untuk menyeimbangkan penerapan nilai etika, estetika dan ekonomi lokal agar meningkatkan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dunia usaha dan wisatawan. Nilai lokal sebagai elemen substantif lokalitas menentukan titik beda dan keberlanjutan kegiatan pariwisata. Pembangunan pariwisata sejatinya mempertimbangkan nilai dan kapasitas ekologis, keberlanjutan ekonomis, kesetaraan dan diterima secara sosial oleh masyarakat. Dimensi lokalitas menjadi komponen utama dalam memperkuat keberlanjutan sumber daya dalam pariwisata. Kontribusi lokalitas disinergiskan dengan keberlanjutan bumi, dan penciptaan faedah bagi masyarakat. Dengan demikian, relasi pertukaran dalam pariwisata didasarkan pada pemahaman bahwa pariwisata merupakan bagian dari proses perukaran sosial yang berkeseimbangan antara masyarakat dan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menemukan unsur – unsur nilai etika, estetika dan ekonomi lokal yang dimiliki masyarakat setempat, (2) menemukan nilai terinduksi yang direspons masyarakat setempat, (3) menjelaskan besaran kontribusi nilai lokal dan nilai terinduksi dalam tata kelola destinasi pariwisata, dan (4) menemukan model dan pola tata kelola destinasi yang berkeseimbangan dan berkelanjutan. Analisa statistik melalui uji hipotesis (X2 ; p = 5%) menemukan kontribusi lokalitas masih rendah terhadap tata kelola destinasi. Nilai etika, estetika dan ekonomi lokal memiliki kapasitas untuk diadopsi sebagai basis di dalam menciptakan keseimbangan model tata kelola destinasi pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing. Penerapan nilai lokal memberikan manfaat keberlanjutan ekonomi lokal, harmoni, keserasian serta pengalaman estetis, dan ketaatan untuk menjaga tradisi lokal, serta tanggungjawab etis terhadap lingkungan. Tranformasi nilai lokal diterapkan secara konsisten untuk memperkokoh otentititas dan kedaulatan lokal. Realitas konflik dan bias nilai yang terjadi antara nilai lokal dengan nilai terinduksi ternyata tidak serta merta menimbulkan hibriditas nilai namun melalui dialog budaya dan proses adaptasi, kooptasi serta adopsi. Penelitian ini menemukan model keseimbangan asimetris atau keseimbangan dinamis dalam tata kelola destinasi yang berkualitas, akuntabel, dan berdaya saing.
Locality and destination governance become an important subject are in sustainable tourism development. Locality aims at encouraging sustainably resilience and benefits. Sustainability of natural and cultural environment becomes requirement to achieve sustainable tourism development. Every single destination requires management as well as destination governance approach to adopt locality-based tourism development. Therefore, appropriately tourism destination governance should adapt the balance between ethics, aesthetics and economics local value in order to benefit community, environments, investors as well as tourists. Local value as substantive element of locality determines point of difference and sustainability of tourism resources. Tourism development essentially consider ecologically capacity, economically viable, ethically, equality, as well as socially acceptable by community. Dimension of locality in tourism development is one of the main components in strengthening tourism resources. The contribution of elements of local value is integrated with sustainability of planet, profit, and people. Transactional relationship in tourism drawn based on the understanding that the relationship of value in tourism is part of the process of interaction of exchange between the community and tourists. This research attempts to show the correlation of local value to sustainable tourism destination governance. The objectives of this study are to : (1) identify the element of economic, aesthetics and ethical local value, (2) identify value-induced practiced in tourism activities, (3) find how local value contribute in tourism destination governance, (4) find the model of destination governance scheme. Therefore, this condition leads to a fundamental question of how the local value is adopted to destination governance. Hypotheses test (X2 ; p = 5%), concluded that the contribution of local value is low to destination governance. The local values application providing self-relience of local content economic benefits, harmony, appropriate aesthetic experiences, and respect to conserve traditions and values as well as ethical responsibility to enviroment. The transformation of local value consistently applied to enforce authencity and local souvereignity. A conflicting reality which is occured between local value versus value induced; empirically, is not instantly and spontaneously creating hybridity of value, but, indeed, through cultural dialogue, adaption, cooptation, and adoption process. The result of the research can be used to show finding assymetric balance or dynamic equilibrium as a model of tourism destination governance to enhance best quality and an accountably as well as competitively tourism destination.
Kata Kunci : lokalitas, nilai etika, nilai estetika, nilai ekonomi, keseimbangan asimetris/dinamis, tata kelola destinasi.