Laporkan Masalah

PERPINDAHAN PANAS DAN MASSA PADA PROSES PENGERINGAN BIJIAN SECARA MEKANIS MENGGUNAKAN PENGERING MODEL SILO DENGAN METODE DRYERATION

DANANG DWI PRASTYO, Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc.

2012 | Tesis | S2 Mekanisasi/Teknik Pertanian

Biji-bijian merupakan komoditas yang diunggulkan di Indonesia karena sebagaian besar penduduk mengkonsumsinya sebagai makanan pokok. Salah satu proses penanganan pascapanen biji-bijian yang penting adalah pengeringan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian proses pengeringan secara mekanis dengan menerapkan metode dryeration. Pengeringan dengan metode dryeration meliputi pemanasan suhu tinggi, tempering, dan aerasi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perpindahan panas dan massa serta unjuk kerja pengeringan dryeration dengan pengering model silo. Penelitian ini menggunakan silo yang dilengkapi dengan pneumatic conveyor, centrifugal blower, serta burner dengan bahan bakar pengering berupa gas LPG. Variasi suhu yang digunakan untuk mengeringkan jagung dengan metode dryeration adalah 70 o C, 85 o C, dan 100 o C, sedangkan untuk mengeringkan gabah adalah 50 o C. Sebagai pembanding, pengeringan jagung dilakukan dengan penjemuran, sedangkan gabah dikeringkan menggunakan metode konvensional pada suhu 70 o C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proses pengeringan biji jagung, nilai koefisien perpindahan panas konveksi (h) berkisar antara 0,104 – 0,127 W/m 2o C untuk rentang suhu udara pengering antara 70 - 100 o C, jauh lebih tinggi dari pada penjemuran yang hanya 0,009 W/m 2o C. nilai h gabah dengan dryeration 0,139 W/m 2o C dan dengan metode konvensional 0,131 W/m 2o C. Sedangkan pada proses tempering jagung nilainya berkisar antara 0,055 - 0,060 W/m 2o C. Nilai konstanta laju pengeringan jagung (kM) berkisar antara 0,161 - 0,265 1/jam yang juga lebih tinggi dari pada penjemuran 0,122 1/jam. Nilai kM pada gabah dengan dryeration 0,423 1/jam dan dengan metode konvensional 0,221 1/jam. sedangkan pada proses tempering jagung berkisar antara 0,096 - 0,164 1/jam. Pada pengujian dengan gabah diperoleh bahwa konsumsi bahan bakar solar serta gas LPG untuk pengeringan mekanis secara konvensional adalah 17 lt dan 25,5 kg, sedangkan dengan menerapkan metode dryeration hanya 13 lt dan 9 kg untuk gabah dengan berat 2 ton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Heat Utilisation Factor (HUF) berkisar antara 0,80 - 0,93 dan Effective Heat Efficiency (EHE) antara 0,90 - 0,98.

Grains is considered as prime staple food in Indonesia as it consumed by most of the people of Indonesia. One of critical post-harvest handling process is drying. In this research, mechanical drying process was examined using dryeration method, which consisted of high-temperature heating, tempering, and aeration. The purpose of this study was to analyze heat and mass transfer and drying performance of dryeration with silo-model drier This study used silo equipped with a pneumatic conveyor, centrifugal blower, and burner with Liquid Petroleum Gas (LPG) as fuel. Temperature variations used to dry corn with dryeration method were 70 o C, 85 o C, and 100 o C, while for rough rice was 50 o C. As comparison, corn was also dried using sundrying method, while rough rice was also dried using mechanical conventional method at 70 o C. The results showed that in corn drying, the value of the convection heat transfer coefficient (h) ranged between 0,104 to 0,127 W/m 2o C for drying air temperature ranged between 70 - 100°C, much higher than sun-drying coefficient value of 0,009 W/m 2o C. The h value of rough rice with dryeration method was 0,139 W/m2 o C compared with conventional method of 0,131 W/m 2o C whereas h value of corn tempering ranged between 0,055 to 0,060 W/m 2o C. Constant drying rate (kM) value of corn ranged between 0,161 to 0,265 1/hour, were also higher than sun-drying process of 0,122 1/hour. The kM value of rough rice with dryeration method was 0,423 1/hour compared with conventional methods of 0,221 1/hour, whereas kM value of corn tempering ranged between 0,096 to 0,164 1/hour. Diesel fuel and LPG consumption using conventional mechanical drying were 17 liters and 25,5 kgs, respectively, whereas for dryeration method were only 13 liters and 9 kgs, respectively, for 2 tons rough rice. The results showed that the value of Heat Utilisation Factor (HUF) ranged between 0,80 to 0,93 and Effective Heat Efficiency (EHE) ranged between 0,90 to 0,98.

Kata Kunci : pengeringan, silo, biji-bijian, dryeration, tempering


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.