ENKLAVE BAHASA JAWA DI PROVINSI BENGKULU: KAJIAN DIALEKTOLOGI DIAKRONIS
Anggy Denok Sukmawati, Dr. Inyo Yos Fernandez, M.Hum
2012 | Tesis | S2 LinguistikPenelitian “Enklave Bahasa Jawa di Provinsi Bengkulu: Kajian Dialektologi Diakronis†ini bertujuan untuk membuat deskripsi sinkronis dan diakronis dari bahasa Jawa yang terdapat di Enklave Bengkulu. Deskripsi sinkronis terbagi menjadi dua macam, yaitu deskripsi sinkronis dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Deskripsi sinkronis dimensi vertikal meliputi deskripsi unsur fonologi, morfologi, leksikon, dan sekilas pemaparan sintaksis, sedangkan deskripsi sinkronis dimensi horisontal berkaitan dengan aspek sosiolinguistik, dalam hal ini adalah tingkat tutur. Sementara itu, deskripsi diakronis meliputi pemaparan bukti kuantitatif dan kualitatif dari bahasa Jawa enkalve Bengkulu (BJEB). Bukti kuantitatif yang disajikan berupa hasil perhitungan leksikostatistik, sedangkan bukti kualitatif yang disajikan berupa pemaparan unsur-unsur inovasi dan retensi yang terjadi pada BJEB. Penelitian mengambil dua titik pengamatan, yaitu Kelurahan Kemumu dan Desa Tangsi Duren. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pupuan lapangan dengan teknik catat dan rekam. Data primer yang digunakan untuk keperluan analisis diperoleh dengan wawancara terstruktur menggunakan daftar Swadesh yang telah direvisi oleh Blust dan Kosakata Dasar Budaya. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data yang diperoleh dianalisis secara sinkronis dari tataran fonologi, leksikon, morfologi, morfofonemik, dan sintaksis. Hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan antara satu dengan lainnya untuk mendapatkan ciri-ciri yang khas yang terdapat dalam bahasa Jawa di enklave Provinsi Bengkulu. Selanjutnya, data dianalisis secara diakronis untuk menentukan tingkat kekerabatan antara dialek/subdialek yang dibandingkan. Untuk menentukan tingkat kekerabatan antara dialek-subdialek dalam bahasa Jawa di Provinsi Bengkulu digunakan metode komparatif dengan teknik leksikostatistik. Hasil analisis data disajikan dengan menggunakan kata-kata biasa dan tabel-tabel. Dari analisis yang telah dilakukan, terlihat tidak adanya perbedaan yang mencolok antara BJEB dengan bahasa di daerah asalnya. Perbedaan paling terlihat pada tataran leksikal. Pada tataran leksikal terlihat banyak kata-kata bahasa Jawa telah digantikan oleh kata-kata bahasa Indonesia. Perbedaan lain yang terlihat adalah sudah mulai ditinggalkannya penggunaan tingkat tutur oleh masyarakat Jawa di enklave Bengkulu dalam percakapan sehari-hari. Jadi, bisa disimpulkan BJEB tidak mengalami perubahan yang berarti jika dibandingkan dengan bahasa di daerah asalnya, melainkan mengalami perkembangan memburuk. Perkembangan memburuk tersebut terlihat dari semakin ditinggalkannya bahasa Jawa dan jumlah pemakainya yang semakin sedikit.
This research of Javanese Enclave of Bengkulu Province: A Study of Diachronic Dialectology aims to make synchronic and diachronic description of the Java language found in the enclave of Bengkulu. Synchronic description is divided into two kinds, synchronic description of the vertical dimension and horizontal dimensions. Synchronous description of the vertical dimension includes a description of phonological elements, morphological, lexical, and a fleeting exposure of syntactic, while the horizontal dimensions of synchronous descriptions related to the sociolinguistic aspects, in this case is the level of speech. Meanwhile, the diachronic descriptions include an exposure of quantitative and qualitative evidence of the Java language of Bengkulu enclave (BJEB). Quantitative evidence is presented in the form of the calculation results of lexicostatistics, while the qualitative evidence is presented in the form of exposure to the innovations that occur in BJEB, which includes phonological and lexical innovations. The study took two observation points, Kemumu village and Tangsi Duren village. Data collection is performed by field data collection research method with field notes and records technique. The primary data used for the analysis is obtained by structured interviews using the Cultural Basic Vocabulary. Analysis data was performed with quantitative and qualitative approaches. Data were analyzed synchronically from the level of phonology, lexicon, morphology, morphophonetic, and syntax. The results are then compared with each other to get the typical characteristics found in the Java language and in the enclave of Bengkulu Province. Furthermore, the data were analyzed diachronically to determine the level of kinship between dialects / subdialects being compared. To determine the degree of kinship between the dialect-subdialect in the Java language in Bengkulu Province used comparative methods with lexicostatistics. The results of data analysis are presented using words and tables. From the analysis that has been done, it seems that there are no significant differences between BJEB with the Javenese language in the original region. The most visible differences are on the lexical level. At the lexical level, there are many Javanese words that have been replaced by Indonesian words. Another difference visible is the abandonment of the use of speech level by the Java community in Bengkulu enclave in everyday conversation. Thus, it can be concluded that BJEB is not significantly changed when compared to the Javanese language in the original region, but it experienced a worsening developments. The worsening developments can be seen from the abandonment of the Javanese language and the numbers of users are lesser and lesser.
Kata Kunci : Dialektologi Diakronis, Enklave Bengkulu, Leksikostatistik, Tingkat Tutur.