Laporkan Masalah

PERUBAHAN TEKNOLOGI dan RELASI JENDER Studi Kasus Budaya Memasak Pasca Kebijakan Konversi Bahan Bakar Minyak ke Gas di Kalangan Keluarga Miskin di Dusun Klipoh, Borobudur, Jawa Tengah

Koniherawati, Dr. Budiawan

2012 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Perubahan Penelitian ini meneliti tentang bagaimana pengaruh kebijakan konversi bahan bakar minyak ke gas yang diterapkan pemerintah terhadap teknologi dan budaya memasak di kalangan keluarga miskin dalam kaitannya pengaruh perubahan teknologi terhadap relasi jender, dengan mengambil studi kasus di dusun Klipoh, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan adanya ambivalensi dalam tugas domestik perempuan di kalangan keluarga miskin dusun Klipoh akibat perubahan teknologi alat memasak. Satu sisi, tugas domestik perempuan menjadi lebih ringan. Secara sosio historis, kaum perempuan di pedesaan yang tergolong miskin srtruktural lebih kuat daripada laki-laki, karena mereka menjadi penopang ekonomi keluarga. teknologi dalam alat memasak menjadikan para perempuan bergantung pada laki-laki, karena takut mengganti dan memasang tabung gas dan regulator. Kondisi sosial ekonomi menyebabkan tidak meratanya pendidikan, sehingga perempuan merasa sulit menyerap pengetahuan teknologi baru. Terjadilah anggapan bahwa teknologi sebagai dominasi maskulin. Di sisi lain, perempuan sebagai ’objek’ yang patuh terhadap laki-laki tanpa merasa ditindas. Dalam mengatasi ketergantungan perempuan terhadap perubahan teknologi paska diterapkannya kebijakan konversi gas tersebut, maka muncul bentuk negosiasi yaitu tetap digunakannya alat memasak tradisional luweng sebagai alat memasak utama/pokok dalam keluarga, sedangkan kompor gas hanya digunakan oleh mereka yang membuka warung makan atau jual makanan keliling. Hal tersebut sekaligus memperkuat pendapat, bahwa untuk mengubah habitus yang telah membentuk budaya dalam satu komunitas tidak dapat dilakukan dengan tiba-tiba, tetapi dibutuhkan waktu lama, bahkan bertahun-tahun.

This thesis is a study of the effect on policy conversion to gas fuel in cooking culture among poor families at Klipoh Village in Borobudur, Central Java. It emphasizes the relation between gender and the level of technological acceptance. The study showed that there is an ambivalent in women’s domestic tasks among the poor families at Klipoh village as a consequence of technological changes in cooking equipment. Socio historically, women in a village that is structurally poor, are considered stronger than men as they take multi task responsibilities, from household chores to earnings. Despite the all-round ability, these strong women are still submissive to men as the head of their household. Since the policy of energy conversion in cooking culture, the women especially those with minimal exposure to education, began to rely on their men in handling their new cooking equipment. Although the new stove offers its practicality but the use of gas tank and its regulator seemed to be its main challenge. This is the reason behind a notion that technology is a masculine domination. As a result of the low acceptance in technological change among women, a negotiating condition emerged. Luweng as the more familiar cooking equipment was still being used to prepare daily meals, while gas stove was more utilized by those who have food businesses. This condition supports the theory of habitus such as cooking, couldn’t suddenly be changed by imposing a new modern technology.

Kata Kunci : konversi bahan bakar, teknologi, relasi jender, ambivalensi, dominasi maskulin dan habitus.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.