Laporkan Masalah

PANDANGAN JÜRGEN HABERMAS TENTANG RUANG PUBLIK (PUBLIC SPHERE) DALAM KAITANNYA DENGAN PLURALITAS AGAMA

Supartiningsih, SS.,M.Hum., Prof. Dr. Koento Wibisono Siswomihardjo

2012 | Tesis | S3 Ilmu Filsafat

Penelitian berjudul “Pandangan Jürgen Habermas tentang Ruang Publik (Public Sphere) dalam Kaitannya dengan Pluralitas Agama” ini dilatarbelakangi oleh munculnya berbagai persoalan berkaitan dengan pluralitas agama. Konflik dan kekerasan berlatar belakang agama sering mewarnai kehidupan masyarakat plural. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap konsep ruang publik Jürgen Habermas berkaitan dengan pluralitas kehidupan beragama. Konsep ruang publik dilihat sebagai alternatif untuk melacak akar masalah dan menawarkan paradigma berinteraksi yang konstruktif dalam hidup beragama. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan model penelitian tentang pemikiran seorang tokoh. Bahanbahan yang digunakan sebagai data penelitian bersumber dari berbagai sumber kepustakaan primer maupun sekunder. Bingkai analisis yang digunakan sebagai pendekatan adalah filsafat sosial. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: inventarisasi data yang dilakukan dengan cara paraphrasa, quotasi maupun sinoptik; pengorganisasian dan pengolahan data dilakukan melalui tahap-tahap reduksi data, klasifikasi data, display data. Data yang sudah terorganisasi diolah dengan menggunakan analisis refleksi filosofis dengan unsurunsur metodis: deskripsi, intepretasi, kesinambungan historis, dan heuristik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ruang publik merupakan tempat yang di dalamnya perbedaan keyakinan dan pendapat dapat ditampung dan dibicarakan secara bebas, suatu wilayah hidup sosial yang di dalamnya suatu pendapat umum dapat dibentuk di antara warganegara. Habermas menganjurkan sebuah jalan keluar dari berbagai konflik yang muncul karena latar belakang perbedaan melalui teori rasionalitas komunikatif yang berorientasi pada saling memahami. Pluralitas agama jika tidak disikapi dengan tepat seringkali memunculkan persoalan dalam kehidupan bersama terutama konflik dan kekerasan. Dalam konteks pluralitas agama di ruang publik, setiap warga dar masyarakat yang plural hendaknya mengembangkan sikap relasi yang menjunjung ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bound of civility). Setiap pemeluk agama harus mengembangkan sikap relasi antara pengikut agama yang bersifat intersubjektif dan bukan mengobjektivasi. Ia harus memandang dalam kesetaraan. Setiap pemeluk agama diharapkan melakukan interaksi aktif melakukan komunikasi dua arah yang bebas represif sehingga konsensus bisa dicapai. Adanya komunikasi dan konsensus ini akan mewujudkan sebuah cita-cita bersama dalam kesetaraan. Namun yang perlu disadari bahwa universalisasi yang ditawarkan Habermas harus tetap dicermati dari jebakan yang mengeliminasi perbedaan, lokalitas, serta segala sesuatu yang bersifat partikular

The title of this research is “Jürgen Habermas’s View of Public Sphere in relation to Religion Plurality”. The background of this research is the rising of many problems that realated to religion plurality. Religious conflict and violence are often found in the plural society life. The aim of this research is to reveal Jürgen Habermas’ conception of the public sphere related to plurality in religiousity life. The conception of public sphere is viewed as an alternative way to trace the root of problems and offer a constructive paradigm of interaction in the religiousity life. This is a library research that explore the philosopher’s thought. Data are compiled from primary sources, that are Habermas writings; and secondary sources, that are other thinkers who write of Habermas’ philosophy. Social philosophy are used as a formal object. The stages of this research are: data inventory by paraphrasing the statements and arguments, quotations and synopsis; organising and analysis data in some stages: reducing, clasifying and displaying the data. The organised data are understood by a philosophical-reflection with some elements of method: description, interpretation, historical-continuity, and heuristic. The results of this research are: the term ‘public sphere’ essentially refers to a ‘space’ or forum in a society which is created by citizens coming together to discuss issues of public importance. Habermas has constructed a philosophical argument to say that all moral rules must have been agreed upon an open dialogue and rational debate. It is a solution for religious conflict problems in plural societies. Plurality in religion, if does not handle wisely, will often grows many problems in social life especially conflict and violence. Every citizens in plural society, especially in the religious context, sholud develop a mental state of genuine engagement of diversities within the bound of civility. Everyone has to intersubjectively develop relations among religious followers and not objectiving them. They should be viewed equally. The active interactions through dialogal communications should be done unrepressively to reach consensus. But, we have to aware for ‘universalitation’ traps in Habermas thoughts which eliminate differences, localities and particularities.

Kata Kunci : ruang publik, pluralitas agama, diskursus rasional


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.