Evaluasi Budaya Organisasional Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Menggunakan Konsep Organizational Culture Assesment Instrument (OCAI)
Yohannes Kurniawan, GoeddnoP. rof.D r.. M.B.A.
2012 | Tesis | S2 Magister ManajemenBeberapa penelitian menunjukkan penyebab kegagalan suatu organisasi adalah diabaikannya budaya organisasi, padahal keberhasilan suatu organisasi lebih ditentukan oleh sesuatu yang intangible dan lebih kuat dibandingkan dengan semua faktor pasar (external), yaitu budaya organisasional mereka. Memasuki era reformasi timbul suatu perubahan pada elemen pemerintahan khususnya pada sisi birokrasi/ tata kelola, semua diubah untuk menuju efisiensi dan efektivitas, hal ini diterminologikan sebagai reformasi birokrasi. Biro kepegawaian dan organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi subyek dalam penelitian ini untuk melihat pola profil budaya pada saat ini dan yang sebenarnya diinginkan pada biro tersebut. Metode penelitian yang dipergunakan adalah studi kasus dengan instrumen focus group discussion (FGD) dengan berbasis OCAI dan observasi. Hasil penelitian memaparkan profil budaya biro kepegawaian dan organisasi pada saat ini menunjukkan profil budaya hierarchy dan Clan mendominasi dan profil budaya market dan adhocracy berada pada poisisi medium pada keseluruhan profil budaya biro kepegawaian dan organisasi. Sedangkan pada budaya yang diharapkan (masa mendatang) terlihat organisasi menginginkan budaya clan, market dan adhocracy menjadi lebih menonjol namun profil budaya hierarchy berkurang secara cukup signifikan. Hasil terbaik dari aktivitas ini adalah biro kepegawaian dan organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata telah menerapkan implementasi dari pengelolaan mandiri berdasarkan kerjasama tim untuk melakukan perubahan budaya dengan resistensi minim dan pengalaman berbagi yang didasari kekuatan dan arah untuk mewujudkan visi, misi organisasi.
Several studies have shown the cause of the failure of an organization is the ignorance of the organization's culture, but the success of an organization is determined by something more intangible and more powerful than all the market factors (external), which is their organizational culture. Entering the era of reform there is a continual change in government elements, especially in the bureaucracy/ governance, all turned towards the efficiency and effectiveness; it is known as bureaucratic reform. Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata is the subject in this study to see patterns in the current culture profile and the actually expected at the bureau. The research method used is a case study with the instrument focus group discussion (FGD) based on OCAI and observation. Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) is one of the instruments that can be used to identify the culture of an organization. The study describes the cultural profile of Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata which is currently showing hierarchy and clan cultures dominate while market and adhocracy are at medium position on the overall profile of Biro Kepegawaian dan Organisasi. While of the expected (future) culture the organization wants clan, adhocracy, and market cultures become more prominent, and hierarchy culture is significantly reduced The best results of this activity is that Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata has implemented self-management based on teamwork to make a cultural change with minimal resistance and sharing experience that is based on the strength and direction to realize the vision and mission of the organization.
Kata Kunci : Budaya organisasi, OCAI, reformasi birokrasi, perubahan