Laporkan Masalah

NUKSMA DAN MUNGGUH: ESTETIKA PERTUNJUKAN WAYANG PURWA GAYA SURAKARTA

SUNARDI ,SSN,MSN, Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc.,

2012 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini bertujuan membahas unsur-unsur estetika pedalangan, proses pembentukan konsep nuksma dan mungguh, perwujudan nuksma dan mungguh dalam pertunjukan wayang, serta nuksma dan mungguh sebagai orientasi estetik pertunjukan wayang purwa gaya Surakarta. Nuksma dan mungguh dalam pertunjukan wayang dikupas berdasarkan paradigma estetika, dengan menempatkan konsep dan teori estetika Jawa dan India sebagai dasar analisis. Strategi penelitian menggunakan pendekatan multi-disipliner dengan meminjam teori rasa, konsep garap, teori hermeneutika, dan konsep budaya Jawa. Hasil penelitian menjelaskan bahwa nuksma dan mungguh memiliki kedudukan penting dalam estetika pertunjukan wayang. Nuksma dan mungguh diartikan sebagai ketepatan dan kesesuaian dalam menjiwakan pertunjukan wayang. Elemen pembentuk konsep nuksma dan mungguh, yaitu: medium, ekspresi, ketepatan dan kesesuaian, serta daya batiniah dalang. Nuksma dan mungguh pada diri dalang dapat ditempuh melalui ketrampilan teknik, garap, dan ekspresi. Perwujudan nuksma dan mungguh dalam pertunjukan wayang dapat dijelaskan melalui ketepatan dan kesesuaian ekspresi garap catur (bahasa pedalangan), sabet (gerak wayang), dan karawitan pakeliran yang menghasilkan kesan rasa regu, greget, prenès; dan sedhih. Nuksma dan mungguh menjadi dasar penjiwaan pertunjukan wayang dan petunjuk kualitas dalang, menjadi acuan penilaian pertunjukan wayang dan memberikan stimulan terjadinya katarsis bagi penonton, serta terkait dengan konsep nyawiji dan kemungguhan dalam pandangan budaya Jawa. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa nuksma dan mungguh menjadi orientasi estetik dalam pertunjukan wayang purwa gaya Surakarta.

This research aims to discuss about the elements of puppetry aesthetics, the forming process of nuksma and mungguh concept, the realisation of nuksma and mungguh in wayang performance, and nuksma and mungguh as an aesthetic orientation of wayang purwa performance of Surakarta style. Nuksma and mungguh in wayang performance are analyzed based on the aesthetic paradigm by using the concept and theory of Javanese and Indian aesthetics as an analyzing basic. The research strategy uses the approach of multi-diciplinary by borrowing the theory of rasa, the concept of garap, the theory of hermeneutics, and the concept of Javanese culture. The result of research describes that nuksma and mungguh have important roles in the aesthetics of wayang performance. Nuksma and mungguh are meant to be the accuracy and suitability in inspiring wayang performance. The elements which form the concept of nuksma and mungguh include: medium, expression, accuracy and suitability, and the dalang’s spiritual power. Nuksma and mungguh in the dalang’s soul can be reached by technical skill, garap, and expression. The realisation of nuksma and mungguh in wayang performance can be described through the accuracy and suitability of garap catur expression (the language of puppetry), sabet (wayang movements), and karawitan pakeliran that can produce the impression of rasa regu, greget, prenès, and sedhih. Nuksma and mungguh become the basic of wayang performance inspiration and a clue for the dalang’s quality. They become the reference of wayang performance appreciation and give stimulant to the audience’s catharsis, besides, they are related to the concept of nyawiji and kemungguhan in Javanese cultural view. The conclusion of research shows that nuksma and mungguh become aesthetic orientation in wayang purwa performance of Surakarta style.

Kata Kunci : nuksma dan mungguh, rasa, pertunjukan wayang, dalang, penonton


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.