PEMBUATAN & VALIDASI MODEL MATA SEBAGAI ALAT BANTU PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN KETERAMPILAN PEMERIKSAAN MATA
MOHAMMAD EKO PRAYOGO, dr. Angela Nurini Agni, Sp.M(K), M.Kes
2012 | Tesis | S2 Ilmu Pendidikan KedokteranLatar Belakang: Pembelajaran dan penilaian keterampilan pemeriksaan mata merupakan hal yang dapat menyulitkan bagi peserta didik dan pendidik terutama dalam menampilkan tanda-tanda kelainan yang terdapat pada berbagai penyakit mata. Penggunaan model sebagai simulator dapat memfasilitasi peserta didik dalam berlatih keterampilan psikomotor dan interpretasi dalam lingkungan belajar yang realistik. Berbagai model mata telah dikembangkan baik yang telah dijual secara luas maupun dalam tahap studi pengembangan, tetapi tidak ada model yang memiliki tanda kelainan baik pada segmen depan maupun segmen belakang mata. Tujuan: Tujuan studi ini adalah membuat memvalidasi simulator berupa model mata yang memiliki tanda kelainan yang terdapat pada berbagai kondisi mata seperti mata normal, katarak senilis matur, glaukoma sudut terbuka primer, glaukoma sudut tertutup primer, retinopati diabetika, konjungtivitis, dan keratitis. Metode: Model dibuat dengan memperhatikan kaidah-kaidah struktur anatomi mata sehingga mendekati kondisi nyata. Bagian kepala sebagai dudukan dibuat menggunakan bahan fiberglass dan bagian mata yang dapat dipasang lepas terbuat dari karet silikon. Bagian mata memiliki struktur-struktur yang dibuat agar menyerupai tanda kelainan pada 7 penyakit mata menggunakan bahan sederhana seperti stiker untuk meniru konjungtiva, lensa intraokuler sebagai lensa, dan kertas cetak foto sebagai fundus. Model kemudian dievaluasi oleh 2 spesialis mata dan direvisi sebanyak 3 kali. Setelah itu, validasi lanjutan dilakukan dengan melibatkan spesialis mata yang lebih banyak untuk mendiagnosis model berdasarkan skenario, memeriksa kelainan yang ada, dan memberikan pendapat mengenai kualitas dan tingkat kesulitan model. Hasil: Model katarak senilis matur, glaukoma sudut terbuka primer, glaukoma sudut tertutup primer, retinopati diabetik, konjungtivitis, dan keratitis dapat dinyatakan valid karena >66% spesialis mata mendiagnosis model dengan diagnosis yang diharapkan atau setuju dengan tujuan diagnosis. Sebagian besar tanda-tanda kelainan yang dibuat dapat dinyatakan valid (ada dan sesuai dengan kondisi sebenarnya). Tingkat kesulitan model secara keseluruhan adalah mudah sehingga diharapkan dapat digunakan pada tingkat S1 dan profesi pendidikan dokter. Kualitas model secara keseluruhan adalah sangat baik sehingga desain dan bahan baku yang digunakan dapat dipakai untuk referensi pembuatan model selanjutnya. Kesimpulan: Sebuah simulator model mata baru telah berhasil dibuat dan tervalidasi sebagai alat bantu pembelajaran dan penilaian keterampilan pemeriksaan mata. Model ini memiliki 7 variasi kasus penyakit mata yang dapat diganti dan memiki tingkat kesulitan yang sesuai untuk digunakan oleh mahasiswa kedokteran.
Background: Teaching and assessing the technique of eye examination can be challenging and frustrating for both student and teacher. The use of eye simulator provides medical students with the necessary psychomotor and interpretation skills in a realistic learning environment. Many kinds of eye simulator have been developed, but none has signs of eye diseases on its both anterior and posterior segment. Aim: To create and validate an eye model simulator that has signs of various eye conditions e.g. normal eyes, senile mature cataract, primary open-angle glaucoma, primary closed-angle glaucoma, diabetic retinopathy, conjunctivitis, and keratitis. Methods: The model was created based on eye anatomy, dimensions, and abnormality appearance to make it as real as possible. Fiberglass wig head was adapted as a base of seven interchangeable eye parts. Eye structures was made of simple materials e.g. sticker for mimicking conjunctiva, intraocular lens as the lens, and printed photo paper as the fundus. This model was evaluated by two ophthalmologists and revised for three times. Then, further validation was done with involvement of more ophthalmologists to make a diagnosis based on the model and case scenario, and also give judgment for model’s build quality and level of difficulty. Results: Senile mature cataract, primary open-angle glaucoma, primary closed-angle glaucoma, diabetic retinopathy, conjunctivitis, and keratitis models were stated as valid because >66% ophthalmologists diagnose the models in line with the expected diagnosis or agree with the expected diagnosis. Normal eyes model were stated as valid but need minor revision. Most of eye abnormalities that were made as signs of eye diseases were stated as valid. Level of difficulties of the whole models is easy, indicated that the use of these models in undergraduate medical students is possible. These models have a good build quality that means the design and materials used in these models could be take as a reference for next production. Conclusions: New eye model simulator has been developed and validated to assist teaching and assessing eye examination skills. This model has seven interchangeable various eye diseases and has appropriate level of difficulty to be used for medical students.
Kata Kunci : keterampilan klinis, pemeriksaan mata, mahasiswa kedokteran, simulator model mata, simulasi