ANALISIS KEBUTUHAN (NEEDS ASSESSMENT) LAYANAN SERVICE PROVIDER BAGI KORBAN TRAFIKING DI KEPULAUAN RIAU
Aniesaputri Junita, Prof. dr. Djaswadi Dasuki, Sp.OG(K), MPH, Ph.D.,
2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Fenomena trafiking merupakan masalah yang crusial, selalu menjadi perdebatan internasional karena termasuk ke dalam tindak kejahatan lintas negara, tersembunyi dan melibatkan sindikat. Korban trafiking berada pada suatu kondisi yang rentan dan penuh dengan masalah (kesehatan, hukum dan sosial). Kelemahan service provider yang berkaitan dengan penanganan dan pelayanan korban trafiking menjadi faktor yang memperburuk kondisi di lapangan, sehingga perlu adanya “benang merah†yang bisa mengakomodir pemenuhan kebutuhan korban trafiking termasuk identifikasi masalah service provider dalam melayani korban. Rumitnya masalah trafiking ini menjadi sorotan diseluruh negara maju maupun negara berkembang terutama pada daerah perbatasan antar negara termasuk Provinsi Kepulauan Riau. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran kebutuhan korban trafiking akan layanan oleh service provider dan layanan yang diberikan service provider untuk korban trafiking di Kepulauan Riau. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan rancangan case study research. Studi kasus dalam penelitian kualitatif ini dimaksudkan untuk memahami dan menggali fenomena apa yang dirasakan dan dialami subjek penelitian (service provider dan korban trafiking) dengan wawancara mendalam (indepth interviews). Indepth interview digunakan untuk menggali kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi service provider dalam memberikan layanan kepada korban serta mengeksplorasi bagaimana proses korban terjerat dalam kasus trafiking, permasalahan yang dihadapi dan bagaimana layanan yang diberikan oleh service provider. Hasil: Kebutuhan korban terbanyak adalah antara lain kebutuhan akan perlindungan, keuangan, pakaian, shelter dan makan minum. Kemudian selanjutnya kebutuhan akan telekomunikasi, job training dan pemulangan. Sedangkan kebutuhan akan layanan advokasi, pemeriksaan kesehatan dan konseling menempati urutan terkecil. Service provider belum memberikan layanan sesuai SPM yang ada terkait permasalahan collaboration, funding, resources dan training. Korban sudah terjerat dalam human trafficking mulai dari kampung halamannya dan selanjutnya di eksploitasi secara tidak manusiawi. Korban mengalami berbagai tindak kekerasan dan permasalahan baik dari aspek sosial, hukum dan kesehatan. Kesimpulan: Layanan service provider yang tersedia saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan korban trafiking. Layanan yang diberikan belum sesuai dengan SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang ada. Service provider sendiri memiliki banyak hambatan dan kesulitan dalam melayani korban trafiking dilapangan. Modus penipuan, penyiksaan, penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan dan kekerasan baik fisik, mental dan seksual serta ancaman merupakan hal yang sering dialami korban trafiking. Layanan untuk korban seringkali tidak dapat diakses dengan baik oleh korban.
Background: The phenomenon of trafficking is a crusial problem; it has always been an international debate as belonging to the transnational crime, hidden and involve syndicates. Victims of trafficking are in a vulnerable condition and full of problems (health, legal and social). Weaknesses of service providers related to the handling and care of victims of trafficking factors that aggravate the condition in the field, so is necessary to \"common thread\" in order that could accommodate the needs of victims of trafficking, including problem identification service provider in serving the victims. The complexity of the issue of trafficking is into the spotlight throughout the developed and developing countries, especially in border areas between countries, including province of Riau Islands. Objectives: The study was conducted to recognise the description of the needs of trafficking victims services by the service provider and the problems faced in serving the victims. Methods: The type of study is a qualitative research design of case study research. Qualitative case studies are meant to understand and explore the phenomenon of what is perceived and experienced by the subject of research (service providers and victims of trafficking) with in-depth interviews (depth interviews). Depth interview is used to explore the needs and problems faced by service providers in providing services to victims and to explore how the victims trapped in trafficking cases, the problems faced and how the services provided by the service provider. Results:. The needs of majority victims were the need for protection, finance, clothing, shelter and to eat and drink. Then further need for the telecommunications, job training and repatriation. Whereas the need for advocacy services, health screening and counseling smallest ranks. Service providers not providing services as minimum service standards available, it’s related of issues : collaboration, funding, resources and training. The victim was trapped in human trafficking from his hometown and later in the inhumane exploitation. Victim suffered numerous acts of violence and the problems both of sosial aspects, legal and health. Conclusion: Service provider services are currently available have not been able to meet the needs of victims of trafficking. The services provided have not been in accordance with the SPM (Minimum Service Standards). Service providers themselves have many barriers and difficulties in serving victims of trafficking in the field. Mode of deception, torture, abuse of power / force and violence, whether physical, mental and sexual abuse and the threat it is often experienced by victims of trafficking. Services for victims are often not accessible by either the victim.
Kata Kunci : Human trafficking, victims needs, service provider.