TINGKAT KECEMASAN, ASUPAN MAKAN, DAN STATUS GIZI PADA LANSIA DI KOTA YOGYAKARTA
Ninna Rohmawati, Prof. dr. Ahmad Husain Asdie, Sp.PD-KEMD,
2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Faktor psikologis seperti kecemasan mempunyai kontribusi yang besar dalam menentukan asupan makan dan status gizi lansia. Prevalensi malnutrisi pada lansia telah mencapai level yang signifikan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan asupan makan dan status gizi lansia di kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan terhadap lansia di kota Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek penelitian berjumlah 214 orang. Tingkat kecemasan diukur dengan form trait-manifest anxiety scale (T-MAS), asupan makan dengan metode semi quantitative food frequency questionnaire (SQFFQ) dan status gizi ditentukan berdasarkan body mass armspan (BMA). Data dianalisis dengan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil: Sejumlah 26,2% subyek mengalami tingkat kecemasan sedang. Faktor yang paling dominan mempengaruhi tingkat kecemasan adalah jenis kelamin (OR=3,37). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan status gizi (p<0,05), subyek dengan tingkat kecemasan sedang cenderung memiliki status gizi lebih (OR=3,54) dan status gizi kurang (OR=2,29). Ada hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan sedang dengan asupan makan lebih (p<0,001; OR=6,22). Ada hubungan yang bermakna antara asupan makan dengan status gizi (p<0,05), subyek dengan asupan makan lebih cenderung memiliki status gizi lebih (OR=6,15). Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan status gizi. Ada hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan asupan makan, dan ada hubungan yang bermakna antara asupan makan dengan status gizi.
Background: Psychological factors such as anxiety have significant contributions in determining dietary intake and nutritional status of elderly. Prevalence of malnutrition in elderly have achieved significant level. Aim: To determine correlation between anxiety level with dietary intake and nutritional status of elderly in Yogyakarta municipality. Methods: This research was observational with cross sectional design. Subjects were elderly in Yogyakarta municipality who fulfilled inclusion criteria. Research subjects consisted of 214 people. Anxiety level was measured with trait-manifest anxiety scale (T-MAS) form, dietary intake with semi quantitative food frequency questionnaire (SQFFQ) method, and nutritional status was determined based on body mass armspan (BMA). Data were analyzed with chi square test and multiple logistic regression. Results: A percentage of 26.2% subjects had moderate anxiety level. Most dominant factors that influenced anxiety level was sex (OR=3.37). Bivariate analysis showed significant correlation between anxiety level and nutritional status (p<0.05), subjects with moderate anxiety level were more likely to have higher nutritional status (OR=3.54) and lower nutritional status (OR=2.29). Significant correlation was found between moderate anxiety level with excessive dietary intake (p<0.001; OR=6.22). Significant correlation was also found between dietary intake with nutritional status (p<0.05), subjects with excessive dietary intake were more likely to have higher nutritional status (OR=6.15). Conclusions: Significant correlation was found between anxiety level and nutritional status. Significant correlation was also found between anxiety level and dietary intake, and significant correlation was found between dietary intake and nutritional status.
Kata Kunci : Lansia, tingkat kecemasan, asupan makan, status gizi.