Laporkan Masalah

STUDI EPIDEMIOLOGI DAN ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN BAJAWA KABUPATEN NGADA NUSA TENGGARA TIMUR

Yulius Widiyantoro, Prof. Dr. Hartono, DEA, DESS

2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Kecamatan Bajawa sebagai bagian dari Kabupaten Ngada terjadi insiden dengue yang tinggi. Kondisi lingkungan sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit. Analisis spasial Sistem Informasi Geografis digunakan untuk pemetaan penyakit, studi hubungan geografi dan pola spasial kejadian penyakit di suatu wilayah. Tujuan: Mendeskripsikan epidemiologi kejadian DBD menurut karakteristik orang, tempat dan waktu, menganalisis hubungan variabel epidemiologi lingkungan dengan kejadian DBD serta menyusun wilayah rawan DBD pada skala 1:5.000 Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan case-control untuk menguji hubungan dan mengukur faktor resiko. Penerapkan teknologi SIG untuk menguji cluster dan visualisasi wilayah rawan DBD skala 1:5.000. Hasil Penelitian: Kasus DBD pada laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, kasus DBD lebih banyak pada golongan umur <15 tahun, terbanyak di Kelurahan Ngedukelu dan tertinggi pada bulan Maret. Ada hubungan yang signifikan antara keberadaan jentik dan menjadi faktor resiko (pvalue=0,004;RO=3,4), ada hubungan kepadatan bangunan dan menjadi faktor resiko (pvalue=0,0002; RO=4,91), ada hubungan yang signifikan antara fogging dan sebagai faktor protektif (pvalue=0,0001; RO=0,16). Variabel kepadatan penghuni dan pembuangan sampah tidak berhubungan secara signifikan (pvalue=0,142 & pvalue=0,0950). Kejadian DBD tidak membentuk cluster. Kesimpulan: Kejadian DBD di Kecamatan Bajawa lebih banyak laki-laki dan golongan umur <15 tahun. Terjadinya kasus berhubungan dengan padatnya pemukiman/hunian, keberadaan populasi Aedes aegypti. Fogging menjadi faktor protektif kasus. SIG dapat membentuk wilayah rawan DBD yaitu kerawanan tinggi, sedang dan rendah.

Background: The District Bajawa Ngada as part of the high incidents of dengue. Environmental conditions greatly favor the proliferation of Aedes aegypti mosquitoes as vectors of disease. Geographic Information System spatial analysis is used for disease mapping, association studies of geography and spatial patterns of disease occurrence in a region. Objective: To describe the epidemiology of dengue incidence in the characteristics of people, places and times, analyzing the relationship with the environment variable incidence of dengue epidemiology and to develop dengue-prone areas on a scale of 1:5,000. Methods: This study uses a case-control design to examine the relationship and measure risk factors. To apply the GIS technology to test the cluster and visualize the scale of 1:5,000 dengue-prone areas. Result: Dengue cases in men more than women, more dengue cases in the age group <15 years, mostly in the Village Ngedukelu and highest in March. There is a significant relationship between the larva and the existence of a risk factor (pvalue = 0.004; OR = 3.4), there is a relationship building density and the risk factor (pvalue = 0.0002; OR = 4.91), there is a relationship between fogging and as a protective factor (pvalue = 0.0001; OR = 0.16). Variable density of residents and waste disposal are not related significantly (pvalue = 0.142 & pvalue = 0.0950). DBD does not form a cluster events. Conclusion: Incidence of dengue in the district Bajawa more men and the age group <15 years. The occurrence of cases associated with the dense residential / occupancy, the presence of Aedes aegypti populations. Fogging a protective factor case. GIS can form the dengue prone areas of high vulnerability, medium and low.

Kata Kunci : DBD, Epidemiologi, Analisis Spasial, SIG, GPS, Bajawa.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.