Laporkan Masalah

KAJIAN KEBIJAKAN PERTAHANAN AUSTRALIA PERIODE 2008-2009 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP INDONESIA

PENNY RADJENDRA, Prof. Dr. Djoko Soeryo, M.A.

2012 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini merupakan penelitian yang terkait dengan persoalan strategis bidang pertahanan khususnya yang berhubungan dengan kebijakan pertahanan suatu negara. Penelitian ini bertujuan dalam rangka menganalisa dan memahami kebijakan pertahanan Australia periode 2008-2009 dan memahami implikasi kebijakan tersebut bagi Indonesia guna menyusun konsep strategis yang dibutuhkan dalam rangka melakukan persiapan-persiapan jangka panjang bidang pertahanan sejak dini guna menghindari terjadinya strategic shocks yang mungkin akan terjadi sebagai akibat perubahan lingkungan strategis yang semakin cair dan tak terduga dan untuk mempertahankan kepentingan nasional. Penelitian dilakukan melalui studi kepustakaan, yakni dengan mengkaji sumber dokumen, buku, artikel-artikel pada jurnal-jurnal penelitian, majalah maupun surat kabar yang relevan dengan variabel penelitian. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisa dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yakni dengan cara mengumpulkan dan mengelompokkan data, mensistematisir data dan selanjutnya dijelaskan. Untuk mendapatkan jawaban tentang implikasi dari penerapan kebijakan pertahanan itu dilakukan melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhirnya implikasi-implikasi kebijakan pertahanan Australia yang diterapkan terutama berkaitan dengan pembangunan kapabilitas militer ADF yang memfokuskan kekuatan laut dan udara, dan revitalisasi aliansi Amerika Serikat yang mengandalkan Australia dalam menghadapi peningkatan pengaruh dan militer China telah menimbulkan persepsi ancaman tersendiri. Akibatnya. bagi Indonesia yang karena letaknya berada di tengah-tengah antara Australia dan Asia Timur atau diantara persaingan Amerika Serikat dan China maka Indonesia memerlukan strategic positioning yang tepat. Opsi-opsi strategisnya adalah tetap neutral, balancing, atau bandwagoning. Konsekuensi dari pemilihan itu adalah jika neutral maka memerlukan pembangunan infrastruktur pertahanan yang kredibel dan sanggup melakukan mempertahankan wilayah dan kedaulatan NKRI dari agresor dan penyerang.. Apabila rebalancing maka kapabilitas pertahanan yang dibangun harus memiliki kemampuan laut dan udara yang dapat diandalkan sehingga sanggup melaksanakan pembalasan terhadap serangan-serangan yang terjadi dan bahkan melaksanakan proyeksi kekuatan di sekitar wilayah NKRI bahkan lebih jauh dari itu. Jika bandwagoning menjadi pilihan maka kapabilitas pertahanan yang dibangun harus memiliki kemampuan yang memadai dan memiliki interoperabilitas dengan negara master. Keputusan semacam merupakan keputusan strategis yang perlu diputuskan agar arah pembangunan pertahanan dapat didefinisikan secara lebih konkrit.

The research is a strategic research focusing on defense policy of a state. The aim of the research is to analyze and understand Australian Defense Policy within period of 2008-2009 and its implication towards Indonesia in order to formulate strategic concept which is necessary in conducting long term strategic preparation to avoid strategic shocks that could occur as the result of continuous evolving of the more liquid and uncertain strategic environment as well as to preserve our own national interests. The research was conducted by literature study that is by investigating the documents, books, articles on journals, magazine, newspaper as well as other data which are relevant to the research variables. Subsequently, the data were analyzed by using qualitative approach that is by collecting and grouping, systemizing and then assessed and clarified. In addition, interviewing was conducted in order to provide response of the implication of this long term defense policy. The research shows that the implication of Australia defence policy that focused on military capability development in particular on air and naval capabilities and revitalization of the United States-Australian alliance in facing China’s influence and presence in the region as well as China’s emerging in military power has resulted a particular threat perception. Because of its strategic space between Asia and Australia as well as between the rivalry of the United States and China, consequently, Indonesia is necessary to determine its strategic positioning. The strategic options for this positioning are neutral, rebalancing and bandwagoning. Provided that neutral is taken as strategic decision then Indonesia needs to build its conventional defence capability at high credibility that stronger enough to defend its territory and sovereignty from attackers and aggressors. While rebalancing is as strategic option, then Indonesia’s defence capability must focus on credible maritime and air capability force structure that are able to retaliate from real attack and to conduct force projection encircling Indonesian territory or beyond. If option three, bandwagoning, were the strategic decision then our defence capability build up should be interoperable with capabilities of master states. To determine strategic positioning is strategic policy which should be decided with the intention that the direction of arms building will be clearer and concrete.

Kata Kunci : Kebijakan Pertahanan, strategic positioning


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.