Laporkan Masalah

PENGARUH PEMBERIAN RECOMBINANT HUMAN ERYTHROPOIETIN TERHADAP KEKUATAN TARIK KULIT PASCA INSISI DENGAN PERDARAHAN AKUT (Penelitian Eksperimental pada Tikus Wistar)

Daniel Tumbur Hasintongan H, drg. Prihartiningsih, SU, SpBM (K)

2012 | Tesis | S2 Ilmu Bedah Mulut

Proses penyembuhan luka pada kulit merupakan respon dari jaringan tubuh yang terluka. Oksigenasi jaringan mempengaruhi proses penyembuhan luka. Perdarahan akut 30% dari total volume darah manusia dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin.Kadar hemoglobin yang rendah dapat menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan luka sehingga penyembuhan luka terganggu. Recombinant human erythropoietin merupakan hormon yang berfungsi merangsang hematopoiesis. Selain itu hormon ini dapat meningkatkan angiogenesis pada penyembuhan luka. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang pengaruh pemberian recombinant human erythropoietin terhadap penyembuhan luka pada kulit pasca insisi dengan perdarahan akut dengan melihat kekuatan tarik kulit. Penelitian eksperimental murni dilakukan terhadap 24 ekor tikus wistar, dibagi 3 kelompok masing kelompok 8 ekor. Pada awalnya 16 tikus secara acak dibuat perdarahan 30 % agar didapatkan kadar hemoglobin rendah. Kelompok A adalah kelompok yang telah dibuat perdarahan kemudian dilakukan insisi pada kulit. Kelompok B adalah kelompok yang telah dibuat perdarahan kemudian dilakukan insisi pada kulit dan diberi injeksi recombinant human eryhtropoietin 500 IU/kg selama 7 hari. Kelompok C adalah kelompok kontrol yang tidak dibuat perdarahan kemudian dilakukan insisi pada kulit. Semua kelompok dipelihara dan di beri minum dan makanan standar selama 7 hari. Hari ke-7 dilakukan eutanasi kemudian kulit tikus diambil dan dipotong sesuai pola. Kulit tikus dilakukan uji kekuatan tarik. Data uji kekuatan tarik di analisa dengan uji Kruskall Wallis dengan uji post hoc Mann-Whietney untuk melihat perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian yang didapat dengan uji Kruskall Wallis menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan pada uji kekuatan tarik kulit tikus pada kelompok A, B dan C (P>0.05). Uji post hoc Mann-Whietney terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok A dengan kelompok B, kelompok A dengan kelompok C (P>0.05), sedangkan antara kelompok B dengan kelompok C tidak terdapat perbedaan yang bermakna (P<0.05). Kesimpulan bahwa pemberian recombinant human erythropoietin dapat meningkatkan kekuatan tarik kulit tikus pasca insisi dengan perdarahan akut.

Wound healing process in skin is a response of an injured body part. Tissue oxigenation influences the wound healing. Acute bleeding 30% of total human blood causes haemoglobin level reduction. A low level of haemoglobin can decrease the wound oxigenation thus disrupts the wound healing. Recombinant human erythropoietin is a hormone that induces the hematopoiesis. Furthermore, this hormone can increase angiogenesis in wound healing. The purpose of this research is to get an information about the influence of recombinant human erythropoietin application to wound healing in skin after the incision with acute bleeding by measuring the skin tensile strength. Pure experimental research is done on 24 wistar rat, divided into 3 groups, respectively 8 rat. First the bleeding level is made into 30% on 16 rat randomly thus get a low haemoglobin level. Group A is undergone a bleeding then was made an incision on their skin. Group B is undergone the bleeding then was made an incision on skin then given a recombinant human eryhtropoietin injection 500 IU/kg for 7 days. Group C as countrol group which is not get the bleeding then is having an incision on skin. All groups is taken care and given a standard food and drink for 7 days. On the 7 th day is having a euthanasia then the skin is taken and sliced by its pattern. Tensile strenth test is being done on the skin. The data from the skin tensile strength is being analized by Kruskall Wallis test and post hoc Mann-Whietney test to see the difference between these groups. The result of this research by using the Kruskall Wallis test shows a significant difference with the skin tensile strength on Group A, B, and C (P>0,05). In post hoc Mann-Whietney test there is a significant diffference between Group A and B, Group A and C (P>0,05), meanwhile there is no significant difference between Group B and C (P<0,05). The conclusion is that the application of recombinant human erythropoietin can increase rat skin tensile strength after an incision with acute bleeding.

Kata Kunci : recombinant human erythropoietin, hemoglobin, kekuatan tarik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.