URBAN VENTILATION DI PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI Studi Kasus: Permukiman Bantaran Sungai Code, Kota Yogyakarta
MOCHAMAD HILMY, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng.
2012 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturKepadatan bangunan yang tinggi diduga sebagai salah satu penyebab kenaikan suhu perkotaan. Kenaikan suhu tersebut karena minimnya pergerakan udara di kota yang disebabkan oleh besarnya hambatan yang dimunculkan oleh bangunan dan kurangnya ruang terbuka hijau. Urban ventilation dianggap sebagai solusi untuk menekan terjadinya urban heat island. Sungai Code yang melintasi Kota Yogyakarta merupakan potensi untuk digunakan sebagai koridor ventilasi perkotaan. Mitigasi bencana terhadap banjir lahar dingin menjadikan pentingnya dilakukan penataan ulang permukiman padat bantaran Sungai Code agar dapat menjadi permukiman bantaran sungai yang layak. Simulasi diperlukan untuk mengetahui perilaku angin di bantaran sungai ini. Pergerakan angin di bantaran Sungai Code dipengaruhi oleh keberadaan sungai dan morfologi lembah sungai, tingkat kepadatan, ketinggian bangunan. Pergerakan angin dapat diarahkan dengan bangunan yang ada di bantaran sungai. Strategi FAR dipandang sebagai jawaban untuk menunjang terjadinya ventilasi dengan baik. Simulasi secara parametric study dilakukan untuk mendapatkan faktor-faktor yang berpengaruh pada urban ventilation di permukiman bantaran sungai. Sempadan sungai akan optimal menunjang upaya ventilasi jika memiliki orientasi diagonal terhadap prevailing wind. Perletakan rumah susun yang optimal terhadap sirkulasi angin di lingkungan sekitarnya dapat dicapai jika berorientasi diagonal dan panggung serta diberikan jarak 15 hingga 20 m dari permukiman di sekitarnya. Jalan lingkungan di permukiman padat bantaran sungai menjadi jalur sirkulasi udara memasuki kawasan tersebut. Penataan jalan lingkungan yang berorientasi diagonal terhadap prevailing wind dapat menghasilkan sirkulasi angin yang optimal.
It is presumed that the high density of buildings is one of the reasons for the raise in the temperature of urban areas. The increase in temperature is caused by the minimum air circulation in the city, affected by the hindrance created by the buildings and lack of open space. Urban ventilation is reputed to be a solution to suppress the imminence of urban heat island. The Code River, passing through the city of Yogyakarta, is potential for being used as a ventilation corridor of the urban areas. Disaster mitigation of the cold-lava flood has made it important to restructure the densely settlement on the Code Riverside area in order to establish a proper riverfront settlement. The wind flow at the Code Riverside area is influenced by the existence of the river and the river valley morphology, the level of density and the height of the buildings. FAR strategy is considered as a contributing answer to a satisfactory formation of ventilation. The ideal building is thin-shaped so as not to form a big wind shadow. The streets in the neighborhood of the densely settlement on the riversides become alley that allow air circulation throughout the area. A parametric study simulations conducted to obtain factors that affect the ventilation in the urban settlements along the river. River's border will support the ventilation optimally if it has a diagonal orientation to the prevailing wind. The optimal placement of flats to wind circulation in the surrounding environment can be achieved if it oriented into diagonal and stage and it given a distance of 15 to 20 m from the surrounding settlements. Alley at the riverfront settlement become into the circulation path of air entering the region. Structuring the environment oriented diagonal path to the prevailing wind can produce an optimal air circulation.
Kata Kunci : Urban Ventilation, Permukiman Bantaran Sungai, Morfologi Lembah Sungai, Mitigasi Bencana, Strategi FAR.