PEMBANGUNAN HUNTARA PASCA BENCANA MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN
Harry Priyanto Putro, M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng., D.Eng.,
2012 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahIsu penting dalam pembangunan hunian sementara adalah selesainya pembangunan dalam waktu singkat. Hal tersebut penting mengingat kondisi korban bencana sangat memprihatinkan di barak pengungsian dan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengeksplorasi proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan huntara pasca bencana Merapi di Kabupaten Sleman, dan (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi proses perencananaan dan pelaksanaan pembangunan huntara pasca bencana Merapi di Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan metode deduktif dengan pendekatan kualitatif-eksploratif yang menghasilkan data deskriptif tentang proses pembangunan huntara pasca bencana Merapi di Kabupaten Sleman. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi dan kajian dokumen. Unit amatan penelitian adalah huntara komunal yang diselenggarakan oleh pemerintah dan non pemerintah (ACT) dengan fokus kajian pada huntara Kuwang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah dan ACT memiliki pendekatan yang berbeda dalam pembangunan huntara. Perencanaan kawasan huntara yang dilakukan oleh Pemerintah D. I. Yogyakarta dilakukan secara komprehensif dan melibatkan partisipasi publik. Sementara perencanaan huntara yang dilakukan oleh ACT, cenderung bersifat strategis, karena huntara merupakan jawaban mendesak untuk memenuhi kebutuhan hunian yang nyaman bagi korban bencana alam. Huntara yang dibangun oleh ACT bisa menjadi solusi pemenuhan kebutuhan hunian pada tahap tanggap darurat sebelum huntara pemerintah dapat dihuni. Pelaksanaan pembangunan huntara secara umum dilakukan melalui tiga tahap, antara lain pematangan lahan, pekerjaan konstruksi bangunan huntara, dan penyediaan fasilitas umum. Penyelesaian pembangunan huntara yang dikerjakan oleh ACT lebih cepat dibandingkan dengan yang dikerjaan oleh Pemerintah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses perencanaan huntara, yaitu sasaran pembangunan huntara, pendataan, penentuan lokasi, partisipasi publik, dan kesiapsiagaan. Sementara, faktor-faktor yang mempengaruhi proses pelaksanannya, yaitu partisipasi dalam pendanaan, kondisi site, ketersediaan bahan baku, dan metode pelaksanaan pekerjaan.
An important issue in constructing t-shelter is on how it can be finished in relatively short time. This is crucial due to the very saddening victims’ condition at the evacuation barrack, and the fact that it needs long time for rehabilitation and reconstruction process. This research aims in: (1) exploring the planning and implementation process of the post-Merapi disaster t-shelter in Sleman regency, and (2) identifying some factors determining the process of planning for and implementation of the post- Merapi disaster t-shelter in Sleman regency. This research used deductive method with qualitative-explorative approach to produce descriptive data on the construction process of t-shelter post- Merapi disaster in Sleman regency. Data were collected using interviews, observations, and document analysis. The unit under investigation was the communal life of temporary housing organized by government and nongovernment (ACT) with Kuwang t-shelter as the focus of the study. The study showed that government and ACT had different approaches in building t-shelter. The planning for t-shelter area set by D. I. Yogyakarta government was comprehensive and involved the general public. Meanwhile, the planning set by ACT was more likely to be strategic since t-shelter was considered answer to fulfill a comfortable housing need of disaster victims. The tshelter built by ACT could become a part of solution to meet the need of housing at the stage of emergency assistance before the government t-shelter could be inhabited. The implementation of the t-shelter project could generally be conducted through three stages: area maturation, temporary housing building construction activities, and equipping public facilities. The construction project conducted by ACT was completed earlier than that done by the government. Some factors contributing to the planning process for the t-shelter were also found: the target of the t-shelter construction, data collection, site determination, general public’s participation and readiness. Meanwhile, some factors determining the implementation process were participation in funding, site condition, the availability of the basic commodity, and the methods of the project implementation.
Kata Kunci : Pembangunan, Huntara, Pasca Erupsi Merapi.