PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRAT DALAM BENTUK PELET DAN MASH PADA PAKAN DASAR RUMPUT LAPANGAN TERHADAP PALATABILITASNYA DAN KINERJA PRODUKSI KELINCI JANTAN
SIDIQ SETYO NUGROHO, Panjono, S.Pt., MP, Ph.D.
2012 | Tesis | S2 Ilmu PeternakanTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi pakan kelinci terhadap konsentrat dalam bentuk pelet dan mash serta mengetahui kinerja produksi kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash pada pakan dasar rumput lapangan. Penelitian ini menggunakan 20 ekor kelinci Flemish Giant jantan umur 5 bulan, dengan bobot awal 2,47±0,21 kg yang dibagi secara random ke dalam 2 macam perlakuan, yaitu perlakuan konsentrat dalam bentuk pelet dan mash. Penelitian terbagi dalam 3 tahap, tahap adaptasi dilakukan selama 7 hari dilanjutkan dengan tahap perlakuan pakan meliputi uji palatabilitas selama 10 hari, kemudian tahap selanjutnya adalah uji kinerja produksi yang berlangsung selama 40 hari. Data yang dikumpulkan meliputi konsumsi pakan, PBBH (pertambahan bobot badan harian), bobot potong, panjang SGI (saluran gastrointestinal), panjang caecum, dan bobot hati. Hasil uji palatabilitas menunjukkan bahwa konsumsi pelet lebih tinggi (P<0,05) daripada mash. Rerata konsumsi pelet dan mash pada uji palatabilitas berturut-turut adalah 24,04±2,25 dan 13,69±2,37 g/ekor/hari. Hasil uji kinerja produksi menunjukkan bahwa feed intake pada konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berbeda tidak nyata. Pada kelinci yang diberikan konsentrat dalam bentuk pelet PBBH lebih tinggi (P<0,05) daripada yang diberikan pakan mash. PBBH kelinci yang diberi pakan pelet dan mash berturut-turut 17,40±5,91 dan 10,22±3,09 g/ekor/hari. Bobot potong, bobot daging, panjang caecum, dan bobot hati lebih tinggi pada kelinci yang diberi pakan pelet (P<0,05) daripada yang diberi pakan mash. Bobot SGI kosong pada kelinci yang diberi perlakuan mash lebih tinggi (P<0,05) daripada yang diberi pakan pelet. Disimpulkan bahwa palatabilitas konsentrat dalam bentuk pelet lebih baik daripada konsentrat dalam bentuk mash. Konsentrat dalam bentuk pelet lebih efisien untuk pertumbuhan kelinci daripada konsentrat dalam bentuk mash.
This research was conducted to observe the feed preferency and performance of bucks on the pellet and mash forms of feed concentrate. Twenty Flemish Giant bucks were used in this study, with initial body weight of 2.47±0.21 kg divided randomly into 2 treatment groups, pellet and mash concentrate. Research divided into 3 phase, adaptation phase was carried for 7 days continued with concentrate treatment involved palatability test during 10 days, then next phase was performance test during 40 days. Data collected were pellet and mash consumption, average daily gain (ADG), GIT (gastrointestinal tract weight), caecum and liver weight. Pellet or mash form given ad libitum simultaneously. Result showed that palatability of pellet was higher (P<0.05) than that given mash 24,04±2,25 vs 13,69±2,37 g/day. Performance test result showed that feed intake between pellet and mash feed has not significantly difference. Bucks ADG given pellet feed were higher (P<0,05) than that given mash of 17.40±5.91 vs 10.22±3.09 g/day. Final weight, meat weight, caecum length and liver weight in bucks given pellet were higher (P<0.05) than that given mash. On the other hand, GIT empty weight in bucks given mash higher (P<0.05) compared with bucks given pellet. It can be concluded that palatability of pellet form was better than that of mash. Pellet was more efficient to improve rabbit growth than that of mash.
Kata Kunci : Kelinci, Pelet, Mash, Palatabilitas, Kinerja produksi