PERBANDINGAN KEJADIAN MUAL DAN MUNTAH PADA ANESTESI MIDAZOLAM 0,05 MG/KGBB IV - KETAMIN 0,3 MG/KGBB IV DAN MIDAZOLAM 0,05 MG/KGBB IV - PETHIDIN 2 MG/KGBB IV PADA TINDAKAN METODE OPERASI WANITA (MOW)
BINTANG BERLIAN, Dr. Bambang Suryono Suwondo, SpAn.KIC.KNA.MKes
2012 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDSLatar belakang: kejadian mual dan muntah pada semua jenis operasi dan populasi pasien diperkirakan mencapai 25-30%, bahkan di antara pasien yang mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya mual-muntah dapat mencapai 80%. Keadaan hipovolemia, hipoperfusi, hipoksemia mempunyai kontribusi untuk terjadinya mual dan muntah pasca operasi. Midazolam merupakan obat sedatif yang mempunyai daya guna pencegah mualmuntah, namun obat ini mempunyai kekurangan mendepresi respirasi. Pethidine mempunyai keuntungan sebagai analgetik, onset lebih cepat dibandingkan morfin, jika dikombinasikan dengan midazolam, menimbulkan relaksasi otot yang baik. Ketamine mempunyai keuntungan sebagai analgetik kuat, obat sedatif, onset cepat (30 detik), fungsi respirasi dan fungsi kardiovaskuler tetap terjaga dan larut air, stabil dan tidak iritatif. Tujuan penelitian: membandingkan kejadian mual dan muntah pada anestesi midazolam 0,05 mg/kgbb–ketamin 0,3 mg/kgbb dengan midazolam 0,05 mg/kgbb– pethidin 2 mg/kgbb pada tindakan MOW. Metode penelitian: penelitian ini menggunakan desain percobaan acak dengan pembutaan ganda. Subyek penelitian 54 orang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok A (midazolam 0,05 mg/kgbb iv + ketamin 0,3 mg/kgbb iv) dan kelompok B (midazolam 0,05 mg/kgbb iv + pethidin 2 mg/kgbb iv). Kriteria inklusi: Wanita umur 18- 45 tahun, status fisik ASA I- II, prosedur operasi elektif dan BMI 18 – 30 kg/m2. Kriteria eksklusi: alergi terhadap midazolam, ketamin dan pethidin; pasien dengan kelainan anatomi pada leher dan saluran nafas atas; pasien dengan hipertensi yang tidak terkendali (> 140/100 mmHg), pasien dengan riwayat penyakit jantung dan paru, serta pasien merokok dan mabuk perjalanan. Pengukuran dilakukan terhadap episode PONV (mual/nausea, menjeluak/retching, muntah/vomiting) yang dicatat mulai selesai operasi sampai 3 jam pascaoperasi di ruang pemulihan. Data dianalisa dengan Independent t-test dan chi-square dengan derajat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian: Kejadian PONV pada kelompok midazolam 0,05 mg/kgbb iv + ketamin 0,3 mg/kgbb iv sebanyak 8 orang (29,4%) lebih kecil secara bermakna dibanding kelompok midazolam 0,05 mg/kgbb iv + pethidin 2 mg/kgbb iv sebanyak 12 orang (44,4%) p<0,05 (p=0,001). Kesimpulan. Pemberian midazolam 0,05 mg/kgbb iv + ketamin 0,3 mg/kgbb iv dapat menekan kejadian PONV dibandingkan dengan pemberian midazolam 0,05 mg/kgbb iv + pethidin 2 mg/kgbb iv sesudah tindakan Metode Operasi Wanita (MOW) (p < 0,05).
Background: The incidence of nausea and vomiting in all types of surgery and patient population is estimated at 25-30%, even among patients who have a high risk for the occurrence of nausea and vomiting can reach 80%. The state of hypovolemia, hypoperfusion, hypoxemia have contributed to the occurrence of postoperative nausea and vomiting. Midazolam is a sedative drug that has the benefit of preventing nausea and vomiting, but has the disadvantage that these drugs cause respiratory depression. Pethidine has advantages as an analgesic, has a faster onset than morphine when combined with midazolam, have good muscle relaxation. Ketamine has the advantage of being a powerful analgesic, sedative drugs, rapid onset (30 seconds), respiratory function and cardiovascular function is maintained, water soluble, stable and non-irritating. The purpose of the study: comparing between anesthesia with midazolam 0.05 mg / kg, ketamine 0.3 mg / kg and midazolam 0.05 mg/kg- pethidin 2 mg / kg in reducing the incidence of nausea and vomiting on famale sterilisation methode. Methods of research: study design using a double blind randomized trial. 54 study subjects who were divided into two groups: group A (midazolam 0.05 mg / kg iv ketamine + 0.3 mg / kg iv) and group B (midazolam 0.05 mg / kg iv + pethidin 2 mg / kg iv ). Inclusion criteria: Women do not smoke, do not have a history of motion sickness, physical status ASA I-II, aged 18-45 years, elective surgery procedures and BMI 18-25 kg/m2. Exclusion criteria: allergy to midazolam, ketamine and pethidin; patients with abnormal anatomy of the neck and upper respiratory tract; patients with uncontrolled hypertension (> 140/100 mmHg), and patients with a history of heart disease and lung cancer. Measurements were made of PONV episodes (nausea, retching, vomiting ) were recorded from the operation is complete up to 3 hours postoperatively in the recovery room. Data were analyzed by Independent t-test and chi-square with degrees of significance p <0.05. Results of the study. Incidence of PONV in the midazolam 0.05 mg / kg iv ketamine + 0.3 mg / kg iv as many as 8 people (29.4%) were significantly smaller than the midazolam 0.05 mg / kg iv + pethidin 2 mg / kg iv as many as 12 people (44.4%) p <0.05 (p = 0.001). Conclusion. Midazolam 0.05 mg / kg iv ketamine + 0.3 mg / kg iv to suppress the incidence of PONV compared with administration of midazolam 0.05 mg/kg iv + pethidin 2 mg/kg iv after the act of Operating Method Women (MOW) (p <0.05).
Kata Kunci : Mual-muntah, midazolam, ketamine, pethidin, MOW