Laporkan Masalah

STRATEGI DEFENSIF UNTUK PROTEKSI DAN AKUMULASI KEKAYAAN DALAM MENGHADAPI ASUMSI RESESI EKONOMI STUDI KASUS: KELUARGA BUDI

Lingga Madu Darutama, Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, MBA, CWM.

2012 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Dalam bahasa Mandarin, kata ‘krisis’ (危機 – Wéijī) adalah gabungan dari 2 kanji : yakni kanji 危 (Wei) yang berarti ‘bahaya’ dan kanji 機 (Ji) yang berarti ‘kesempatan’. Krisis atau resesi ekonomi, yang ditakutkan oleh sebagian besar orang, sebenarnya merupakan kesempatan bagi seseorang untuk dapat mengakumulasi kekayaan. Kuncinya adalah rencana dan kesiapan seseorang dalam menghadapi krisis tersebut. Penelitian ini mencoba mempraktekkan prinsip di atas dalam sebuah studi kasus yang mengambil subjek Bapak Budi (disamarkan), seorang pengusaha toko komputer yang kekayaannya diduga beresiko terhadap kemungkinan resesi ekonomi. Penelitian ini dimulai dengan terlebih dahulu mengumpulkan data dan menganalisis kondisi kekayaan klien sebelum pengelolaan. Proses pengelolaan dibagi menjadi 3 tahap yakni (1) identifikasi dan analisis resiko, (2) likuidasi aset beresiko tinggi, serta (3) pengamanan kas hasil likuidasi. Kondisi kekayaan klien setelah pengelolaan kembali dianalisis untuk melihat seberapa jauh resiko paparan resesi ekonomi dapat diturunkan. Tahap akhir penelitian ini adalah analisis sensitivitas resesi ekonomi. Analisis sensitivitas ini dilakukan untuk mengetahui berapa nilai tambah yang dihasilkan oleh pengelolaan kekayaan menggunakan strategi defensif. Terdapat dua skenario yang diperbandingkan yakni skenario A (tanpa strategi defensif) dan skenario B (dengan strategi defensif). Kedua skenario ini disimulasikan dalam empat kondisi yang mencerminkan tingkat intensitas asumsi resesi ekonomi. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kekayaan Keluarga Budi memang rentan terhadap resesi ekonomi. 77,96% aset Keluarga Budi masuk dalam kategori aset beresiko tinggi dengan tingkat likuiditas hanya sebesar 2,81%. Pengelolaan kekayaan menggunakan strategi defensif berhasil menurunkan rasio aset beresiko tinggi Keluarga Budi menjadi 42,17% serta memperbaiki tingkat likuiditas menjadi 38,59%. Hasil analisis sensitivitas resesi ekonomi membuktikan bahwa pada kondisi terburuk pengelolaan kekayaan dengan strategi defensif dapat memberikan nilai tambah yang signifikan sebesar Rp. 5.203.840.000 atau 20,02% dari total kekayaan klien. Semakin buruk kondisi resesi ekonomi, semakin besar nilai tambah yang dihasilkan oleh strategi defensif di atas.

In Mandarin, the word ‘crisis’ (危機 – Wéijī) is a combination of two kanji syllables: 危 (Wei), which means ‘danger and 機 (Ji), which means ‘opportunity’. Economic crisis or recession, which is feared by most people, is actually a opportunity for someone to accumulate a great amount of wealth. A well-prepared plan is the key to face a crisis. This research tried to practice the above principle in a form of a case study. The subject of the case study is Mr. Budi, a computer shop owner, whose wealth is alleged risky to the risk of economic recession. This research began by first collecting data and analyzing the client existing condition. The wealth management process is divided into three phases: (1) risk identification and analysis, (2) liquidation of risky assets, and (3) Securing the cash from liquidation phase. Post-management wealth condition is also analyzed to see how far the risk of exposure to the economic recession could be reduced. The final step of this research included an economic recession sensitivity analysis. This sensitivity analysis was conducted to determine how much added value the defensive wealth management process generates. Scenario A (without wealth management) and scenario B (with wealth management) were then compared. Both scenarios were simulated under four incremental conditions that reflect the level of intensity of the economic recession. The research concluded that The Budis’ wealth is indeed vulnerable to the risk of the economic recession. The Budis’ asset is comprised of 77,96% risky asset, while maintaining a very low liquidity level of 2,81%. Defensive wealth management succeeded in reducing high-risk asset ratio to 42,17% while improving the level of liquidity to 38,59%. The simulation result proved that in the worst economic recession, defensive wealth management could provide a significant added value amounting to 5,3 billion rupiahs or 20,62% of client’s total asset. The worse the conditions of economic recession, the greater the added value defensive wealth management will generate

Kata Kunci : strategi defensif, resesi ekonomi, proteksi, akumulasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.