Laporkan Masalah

DINAMIKA β-SIFLUTRIN PADA LAHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans)

Ismarti, Prof. Dr. Narsito

2012 | Tesis | S2 Ilmu Kimia

-siflutrin (3(3-(2,2-dichlorovinyl)-2,2-dimethylcyclopropanecarboxylic acid cyano -(4-fluoro-3-phenoxyphenil)-methyl ester) saat ini banyak digunakan untuk mengontrol serangga jenis Lepidoptera pada tanaman sayur. Penggunaan sintetik piretroid seperti -siflutrin secara luas beresiko mencemari lingkungan. Dalam studi ini dipelajari dinamika residu insektisida -siflutrin yang diaplikasikan pada lahan budidaya kangkung. Insektisida yang digunakan adalah Buldock 25EC dengan dosis anjuran maksimum. Analisis dilakukan pada kangkung dan media tanamnya sedangkan tanah yang tidak ditanami kangkung digunakan sebagai kontrol. Ekstraksi dilakukan dengan metode soxhlet dan proses clean up dengan kolom berlapis karbon dan florisil. Penetapan kadar dilakukan dengan kromatografi gas resolusi tinggi dengan detektor ECD (Electron Capture Detector). Pada media tanam kangkung dengan kandungan bahan organik 14,52% teramati adanya sorpsi -siflutrin oleh bahan organik tanah. Kadar -siflutrin dalam tanah dan kangkung meningkat hingga hari ke-16. Dissipasi pada tanah berlangsung cepat dengan konstanta laju 2,5 x 10-1 hari-1 pada tanah tanpa kangkung dan 5,76 x10-1 hari-1 pada tanah yang ditanami kangkung. Sedangkan pada tanaman kangkung, nilai konstanta laju sebesar 3,3x10-2 hari-1. Bahan organik tanah dan kadar air tanah memegang peranan penting terhadap laju dissipasi residu insektisida -siflutrin di tanah lahan pertanian tropis Indonesia.

-cyfluthrin (3(3-(2,2-dichlorovinyl)-2,2-dimethylcyclopropanecarboxylic acid cyano-(4-fluoro-3-phenoxyphenil)-methyl ester) insecticide has been in agricultural use in the recent years for controlling Lepidopteran pest affecting leafy vegetables crops. The extensive use of synthetic pyrethroids like - cyfluthrin has resulted in wide spread environmental contamination. A study on residue dynamic of -cyfluthrin applied to kangkong-land has been conducted. Buldock 25 EC with maximum recommended dose was used. The analysis was performed on kangkong and its land while land without kangkong used as control. Extraction was carried out with the soxhlet method, while the cleaning up process was carried out with carbon-and-florisil-double-layered column. High resolution gas chromatography with Electron Capture Detector (ECD) was used to determine the concentration. On kangkong and kangkong-land with 14,52% organic matter, sorption of -cyfluthrin was observed. Residue of -cyfluhtrin on kangkong and its land increased to 16th days. The dissipation rate on land without kangkong and kangkong-land are fast with dissipation rate 2,5 x 10-1 day-1 and 5,76 x10-1 day-1respectively. On kangkong dissipation rate is 3,3x10-2 day-. Organic matter and moisture play an important role in the dissipation rate of - cyfluthrin residue in the tropical farmland of Indonesia.

Kata Kunci : -siflutrin, Bulldock 25EC, tanah, laju disipasi, kangkung


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.