Laporkan Masalah

ISLAM SYARIAH DAN ISLAM ADAT (KONSTRUKSI IDENTITAS KEAGAMAAN DAN PERUBAHAN SOSIAL DI KALANGAN KOMUNITAS MUSLIM HATUHAHA DI NEGERI PELAUW)

Yance Zadrak Rumahuru, S.Si.,MA., Prof. Dr. Irwan Abdullah

2012 | Disertasi | S3 Agama dan Lintas Budaya

Disertasi ini mengkaji isu konstruksi identitas agama dan dampaknya bagi perubahan sosial di kalangan komunitas muslim Hatuhaha (KMH) di Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian ini hendak menjawab pertanyaan (1) bagaimana konstruksi identitas KMH di negeri Pelauw terjadi dalam perjumpaan dengan kelompok-kelompok lain, yang sekaligus menjadi momentum pembentukan Islam pada wilayah tersebut (2) mengapa perbedaan praktik keagamaan muslim Hatuhaha membedakan keterlibatan mereka dalam bidang politik, ekonomi dan budaya. Bagaimana pula agama berfungsi memengaruhi perubahan sosial di kalangan komunitas muslim Hatuhaha di negeri Peluaw. Mengacu pada pertanyaan tersebut di atas, penelitian ini bertujuan menjelaskan (1) proses pembentukan identitas terjadi dalam komunitas muslim Hatuhaha di negeri Pelauw dan cara mereka memaknai identitas agama dalam kemajemukan etnis dan agama sekarang. (2) posisi agama terhadap perubahan dan perkembangan yang dialami KMH di negeri Pelauw. Penelitian ini dilakukan di negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan adalah data kualitatif berupa hasil pengamatan tentang beberapa ritual pilihan, praktik keagamaan dan kehidupan harian, serta wawancara dengan sejumlah informan. Data penelitian ini dikumpul dengan menggunakan (1) pengamatan berpartisipasi (participant obsevatoin), (2) wawancara mendalam (in-depth interview), dan (3) telaah dokumen. Subjek penelitian ini terdiri dari sejumlah informan dan informan kunci. Sehubungan dengan masalah yang dikaji, wawancara dilakukan dengan 5 orang informan kunci dari kelompok Islam syariah, 5 orang informan kunci dari kelompok Islam adat dan 4 orang informnan kunci dari kelompok transformasi. Selain informan kunci, wawancara juga dilakukan dalam bentuk tidak formal dengan sejumlah informan lain dari setiap kategori di atas, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua, dan pemuda tanpa memandang status sosial atau struktur tertentu dalam masyarakat. Mengingat konstruksi identitas dalam disertasi ini teorikan berlangsung dalam ritual sebagai arena utamanya, maka penulis memberi perhatian pada ritual orang muslim Hatuhaha di negeri Pelauw sebagai unit analisis, disamping praktik keagamaan dan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menemukan bahwa (1) Konstruksi identitas keagamaan tidak terlepas dari pengaruh kepentingan ekonomi, budaya dan politik. Dalam konteks Maluku Tengah, konstruksi identitas komunitas muslim Hatuhaha terjadi dalam ancaman, tekanan dan penyesuaian terhadap berbagai perubahan masyarakat sehingga menunjukan adanya dinamika identitas yang menarik. Identitas komunitas muslim Hatuhaha di negeri Pelauw dengan sendirinya merupakan sesuatu yang dinamis dan bersifat multi identitas. (2) Pembentukan formasi sosial Islam di Maluku Tengah terjadi melalui kombinasi antara pola ”pribumisasi” sebagaimana dikemukakan oleh Djoko Suryo dan pola ”dialog” sebagaimana disampaikan oleh Taufik Abdullah, yang oleh penulis disebut sebagai pola ”kontekstualisasi”. (3) Perbedaan penafsiran dan praktik keagamaan kelompok syariah dan kelompok adat berdampak pada sikap keberagamaan mereka. Bahkan, perbedaan ini juga memengaruhi cara pandang terhadap kebudayaan lokal serta orientasi ekonomi dan politik. (4) Agama menjadi kekuatan penting yang turut menentukan perubahan dalam komunitas muslim Hatuhaha, walau memang bukan menjadi faktor satu-satunya. Dinamika masyarakat dalam rentetan berbagai peristiwa historisnya menunjukan bahwa keberadaan agama (Islam) telah menjadi fondasi bagi perkembangan masyarakat dan perubahan sosial di Pulau Haruku, Maluku Tengah.

This dissertation studies an issue of religious identity construction and its effect on the social change within Hatuhaha moslem community (HMC) at negeri (village) Pelauw, Haruku Island District of Central Molucca Regency. This study is going to answer the questions on (1) How the HMC identity construction in negeri Pelauw occur in encountering with other groups which constitutes the momentum of Islam shaping in it? and (2) Why differences in Hatuhaha moslem religious practice distinguish their involvement in political, economy and cultural aspects and how the religion serves in affecting the social change among Hatuhaha moslem community in this village? Based on the a bove questions, this study is going to explain (1) the process of identity shaping in this community and ways they use to know the meaning of the religious identity in ethnic and religion plurality, and (2) the position of religion in anticipating the change and development undergone by HMC at negeri Pelauw. This study was conducted in negeri Pelauw, Haruku Island District, Central Malucca Regency, Malucca Province using the qualitative method with qualitative data from observational results on some selected ritual, religious practice and daily life as well as interviews with some information givers. Data were collected using participative observation, in-depth interview, and documentary studies. The subject consisted of both informant and key informants. Interview were conducted with 5 key informants from the shariah group, 5 key informants from custom group (adat group) and 4 key informants from transformational group. In addition, interview was also conducted in informal style with other informants in each category including male and female, elders, and the youth regardless social status or certain structure in the society. Considering that the above identity construction is theorized occur in ritual domain as its main arena, the author pays much attention on Hatuhaha moslem people in negeri Pelauw as analysis unit, beside religious practice and daily life. This study has found that (1) the religious identity construction is not freed from the influence of the economic, cultural and political interest. In the context of this area, the identity construction of Hatuhaha moslem community at negeri Pelauw is identity dynamic and multiple identity. (2) the social formation in Islam shaped in Central Malucca occur through combination between indigenization pattern presented by Djoko Suryo and dialogue pattern presented by Taufik Abdullah which is called by the author as contextualization pattern. (3) Difference in interpretation and religious practice between shariah group and adat group influences viewing pattern upon the local culture and economic, political orientation. (4) Religion is the important strength to determine change in Hatuhaha moslem community, although it is not the only factor. The society dynamic occurring in various historical events indicated that the existence of religion (Islam) has been a foundation for the development society and social change in Haruku Island, Central Malucca.

Kata Kunci : Identitas, ritual, muslim Hatuhaha, konstruksi, perubahan sosial


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.