PENGGELAPAN PAJAK DALAM TRANSAKSI PROPERTI: VARIASI TINGKAT PENGGELAPAN ANTAR KELOMPOK WAJIB PAJAK
HERU NARWANTA, Prof. Dr. Iswardono Sardjono Permono, MA.
2012 | Disertasi | S3 Ilmu Ekonomi dan Studi PembangunanPenelitian ini bertujuan memperoleh bukti empiris perihal ada tidaknya penggelapan pajak transaksi properti, mengukur besarannya, selanjutnya mengamati perbedaan tingkat penggelapan antar kelompok wajib pajak. Sebagai cara untuk mengungkap indikasi penggelapan, pengumpulan data dilakukan melalui survey pada periode jauh hari sebelum transaksi dilakukan, yaitu ketika properti sedang dalam proses penawaran, dengan demikian dapat diketahui harga properti yang sesungguhnya. Data ini selanjutnya diuji silang dengan laporan wajib pajak ketika melakukan pembayaran pajak sehingga diketahui indikasi penggelapan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah cluster sampling. Hasil analisis data survey digunakan untuk mengkonfirmasi Lemma yang telah disusun dan dilanjutkan dengan analisis seluruh data laporan pembayaran pajak transaksi properti selama lima tahun pengamatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang lebih mendalam. Penelitian ini berhasil memperoleh bukti empiris tentang penggelapan pajak transaksi properti. Penggelapan pajak dilakukan dengan cara underreporting basis pajak dan melalui kerjasama dua pihak yaitu penjual dan pembeli (joint tax evasion). Sejumlah 78,4 persen dari 13.421 data laporan pembayaran pajak di wilayah Jakarta Barat bagian Barat terindikasi penggelapan pajak. Besaran penggelapan pajak rata-rata adalah 41,3 persen dari basis pajak. Secara rata-rata tingkat penggelapan pajak wajib pajak perorangan lebih tinggi dari wajib pajak perusahaan. Dilihat dari jenis properti, tingkat penggelapan pajak cenderung lebih tinggi pada transaksi properti residensial dibandingkan komersial. Tingkat penggelapan pajak pada transaksi properti yang dilakukan oleh wajib pajak yang sering bertransaksi lebih rendah dibandingkan pada wajib pajak yang tidak sering bertransaksi. Hasil analisis pada penelitian ini secara umum mempunyai kesesuaian dengan prediksi teori ekonomi penggelapan pajak, yaitu orang akan cenderung melakukan penggelapan pajak jika mereka mengetahui bahwa peluang untuk terungkapnya tindakan tersebut kecil. Penting untuk dicatat bahwa walaupun peluang terdeteksinya tindakan penggelapan relatif sangat rendah, ternyata tidak semua wajib pajak memanfaatkan keadaan ini. Penelitian ini mencatat sekitar 21,6 persen wajib pajak membayar secara relatif jujur, walaupun tidak sepenuhnya jujur.
This study tried to obtain empirical evidence regarding the presence or absence of tax evasion in property transactions, measure its level, then observed differences in the level of evasion between groups of taxpayers. As a way to reveal indications of evasion, survey data conducted in the period well before the transactions are made, i.e when the property are in the bidding process, thus can be known that the real price of the properties. The data are then pitted against the taxpayer reports, so that an indication of evasion can be detected. Data collection method used was cluster sampling. The results of the survey data analysis is used to confirm Lemma which has been developed and continued by analyzing all the data property transaction tax payments for five years of observations to obtain more in-depth information. This study succeeded in obtaining empirical evidence of tax evasion in property transactions. Tax evasion is practiced by underreporting of the tax base and through the cooperation of two parties, i.e. the seller and buyer (joint tax evasion). Approximately 78.4 percent of 13,421 data tax payments report in the western part of West Jakarta indicated tax evasion. The level of tax evasion average is 41.3 percent of the tax base. Tax evasion rate on individual taxpayers is higher than the corporate taxpayer. Judging from the type of property, tax evasion rate is higher in residential than commercial property transactions. Tax evasion in property transactions undertaken by taxpayers who frequently transact lower than those taxpayers who do not trade frequently. The analysis in this study generally have compatibility with the predictions of economic theory of tax evasion, that people will tend to evade tax if they knew that the probability of detection of the action is small. Important to note that although the opportunity to know the action of fraud is relatively low, it was not all taxpayers take advantage of this opportunity. This study estimates approximately 21.6 percent of taxpayers pay relatively honest, though not entirely honest.
Kata Kunci : -