ECONOMIC RESILIENCE OF AGRIBUSINESS HOUSEHOLDS IN PUTIH RIVER REGION FOLLOWING THE 2010 MERAPI VOLCANISM EVENTS
Bujed Pamungkas, Dr. Rini Rachmawati, M.T
2012 | Tesis | S2 Geo-Informasi untuk Manajemen BencanaTerdorong oleh survei pendahuluan yang menemukan adanya indikasi terdapatnya suatu kemampuan rumah tangga agribisnis di area Kali Putih untuk meminimalisasi kerugian ekonomi pada bisnis mereka akibat aktivitas vulkanisme Gunungapi Merapi di akhir tahun 2010, penelitian ini diarahkan untuk membangun suatu konstruksi teori kelentingan ekonomi (economic resilience theory) yang menerangkan bagaimana kemampuan meminimalisasi kerugian yang disebut sebagai economic resilienceini terbentuk, mengukur derajat dari economic resilience ini, serta memodelkan economic resilience. Konstruksi teori economic resilience yang mengadopsi metode penelitian grounded-theory menjelaskan bahwa economic resilience merupakan konsekuensi dari penerapan strategi-strategi dalam menghadapi dampak kejadian alam pada aktivitas ekonomi. Strategi-strategi ini, berkisar dari sekedar menerima kerugian hingga melakukan berbagai macam reaksi aktif, terbentuk melalui interaksi-interaksi berbagai keadaan yang mendukung maupun menghambat, serta durasi dari gangguan pada aktivitas ekonomi. Penyebab pokok dari gangguan pada aktivitas ekonomi, yakni kerusakan pada lahan pertanian, derajat kejadian alam, serta kerusakan pada infrastruktur pendukung pertanian juga memengaruhi pembentukan economic resilience. Pengukuran derajat economic resilience mengungkapkan bahwa rataan derajat economic resiliencedalam jangka waktu setahun pasca vulkanisme mencapai 0,33, menunjukkan kemampuan untuk mengembalikan fungsi ekonomi hingga sepertiga keadaan normal. Dari rumahtangga agribisnis tersurvei, derajat kemampuan ekonomi yang melebihi keadaan normal (nilai economic resilience>1,00) serta yang menunjukkan ketidakberfungsian total (nilaieconomic resilience = 0,00) juga ditemukan. Tinjauan dinamika economic resilience menunjukkan bahwa derajat economic resiliencecenderung meningkat seiring bertambahnya waktu menjauhi saat kejadian vulkanisme. Dengan model statistik yang kuat (nilai R2 melebihi 0,9), jumlah tindakan aktif yang dilakukan untuk menghadapi dampak vulkanisme pada aktivitas ekonomi ditemukan sebagai faktor yang paling berpengaruh pada derajat economic resilience. Ditinjau dari segi dinamikanya, jenis tindakan aktif yang terbukti paling berpengaruh adalah yang melibatkan perubahan pada praktik kegiatan ekonomi. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa elemen beresiko sejatinya memiliki kemampuan dari dalam dirinya sendiri untuk mengurangi bencana akibat kejadian alam. Hal ini dapat mendukung konsep “hidup berdampingan dengan alam†serta mendorong perlunya ditumbuhkannya kemampuan menghadapi dampak kejadian alam sebagai pelengkap dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam manajemen bencana. Implikasi lainnya, derajat empiris economic resilience dapat dilibatkan dalam penghitungan kerusakan dan kerugian sehingga akan menghasilkan perkiraan yang lebih akurat terhadap kerugian yang benar-benar tidak dapat ditangani. Penelitian ini mengakui kelemahannya pada penerapan metode grounded-theory secara relatif sederhana. Kesulitan metode terdapat pada penentuan indikator dan parameter pada pengukuran derajat dan pemodelan economic resilience tanpa membebani proses pengumpulan data tentang ekonomi yang dihadapkan dengan isu kerahasiaan. Meskipun begitu, penelitian ini terbukti berhasil menerangkan bagaimana economic resilience terbentuk, mengukur derajatnya secara empiris, dan membuka peluang bagi penelitian lanjutan yang mengkaji dampak kejadian alam pada ekonomi.
Motivated by preliminary field visit findings about the presence of ability to minimise loss resulting from impacts of the 2010 Merapi volcanism events on economic activity performed by agribusiness households in Putih River region, this research aimed at constructing economic resilience theory to explain the process in which this ability developed, measuring economic resilience of agribusiness households in Putih River region, as well as developing economic resilience model. Construction of economic resilience theory adopting grounded-theory methodology explains that economic resilience emerges as a consequence from the implementation of strategies in dealing with impacts of disastrous events on business activity. These strategies, ranging from simply absorbing loss to taking variety of active measures, are shaped through the interaction of internal feature of business (contextual setting) and external situations (intervening conditions), as well as the length of business interruption. The presence of causal conditions, being physical damage, intensity of disastrous events, and disruption on utility service, also contributes influence to economic resilience. Measurement of economic resilience finds the average aggregated economic resilience in a year period of time after disaster reached 0.33, denoting maintaining of one-third normal business functioning. Level of functioning that exceeds the normal functioning level (one value) as well as that reflects the absolute cessation of economic functioning (zero value) was also found. Over three timespans disaggregated economic resilience value shows tendency of inclination with time moving away from disasters. With robust statistical model (exceeding 0.9 R2 value), the number of active measures implemented to deal with disaster impact was disclosed as the most influential factor to the development of economic resilience. Seen from the variability of time, type of measures being continuously influential was the one that involves change in business practice. Those research findings and results present the existence of immanent feature of element at risk to soften severity resulting from disasters impact. This supports the possibility of living with disaster risk and can be an underlying reason to the necessity of promoting resilience nurture as complementary to mitigation and preparedness in disaster risk management practice. Another implication of this research includesinclusionof economic resilience value or index into disaster economic loss assessment practice to gain closer proxy to truly unavoidable economic loss. This research acknowledges its weaknesses, particularly in relation to its simplistic performance of grounded-theory method. Some methodological difficulties within the work of measuring and modelling empirical economic resilience at micro-economic level are also noticed, particularly in determining appropriate parameters in both works without causing excessive burden to data collection process. Despite of these flaws, this research performs its capability in explaining economic resilience development process and conducting empirical measurement on resilience using economic purview at micro-economic level, as well as opens niches for future researches in topics of disasters’ economic impact.
Kata Kunci : economic resilience, teori, pengukuran, pemodelan