Laporkan Masalah

PERANCANGAN LABORATORIUM PEMANFAATAN ABU SERAT KELAPA SAWIT SEBAGAI FILLER PADA CAMPURAN HRS-BC

SANDRA MUDE, Dr. Ir. Latif Budi Suparma, M.Sc.,

2012 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi

Seiring perkembangan industri sawit di Pulau Kalimantan yang terus meningkat, maka akan berdampak pada limbah padat yang dihasilkan dari pengolahan tandan buah segar (TBS). Berdasarkan beberapa penelitian dan bentuk fisik abu serat kelapa sawit, terlihat adanya persamaan dengan fly ash yang selama ini telah banyak digunakan sebagai filler untuk campuran aspal. Ditengah semakin sulitnya mendapatkan debu batu dan fly ash, maka dicoba alternatif lain bahan sebagai filler pada campuran aspal, dalam hal ini abu serat kelapa sawit. Diharapakan nantinya abu sawit dapat digunakan sebagai filler dan mampu memperbaiki karakteristik campuran aspal. Dengan begitu limbah abu serat kelapa sawit dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomis. Dalam penelitian ini digunakan 5 variasi, yaitu variasi 1 (100% debu batu + 0% abu serat kelapa sawit), variasi 2 (75% debu batu + 25% abu serat kelapa sawit), variasi 3 (50% debu batu + 50% abu serat kelapa sawit), variasi 4 (25% debu batu + 75% abu serat kelapa sawit), variasi 5 (0% debu batu + 100% abu serat kelapa sawit). Pengujian yang dilakukan berupa pengujian Marshall dengan lama perendaman 0,5 dan 24 jam, serta pengujian Indirect Tensile Strength yang dilakukan pada benda uji unconditioned dan conditioned. Dari hasil penelitian diperoleh kadar aspal optimum untuk variasi 1, 2, 3, 4, dan 5 masing-masing sebesar 6,4%, 6,65%, 6,7%, 6,85%, dan 7,3%. Hasil pengujian marshall standar (perendaman 0,5 jam) diperoleh nilai stabilitas berturut-turut sebesar 1747kg, 1710kg, 1649kg, 1578kg, dan 1469kg, pada pengujian marshall dengan perendaman selama 24 jam masing-masing nilai stabilitas sebesar 1666kg, 1618kg, 1539kg, 1437kg, dan 1325kg. Nilai indeks kekuatan sisa (IKS) yang diperoleh seluruhnya memenuhi persyaratan Bina Marga. Dari hasil penelitian terlihat nilai IKS tertinggi terdapat pada variasi 1 sebesar 95,4% dan nilai paling rendah pada variasi 5 sebesar 90,2%. Campuran HRS-BC yang menggunakan abu serat kelapa sawit sebagai filler kurang memiliki ketahanan terhadap crack (retak), hal ini terlihat dari nilai Tensile Strength Ratio (TSR) yang dihasilkan untuk variasi 1, 2, 3, 4 dan 5 masingmasing sebesar 89%, 77%, 74%, 66% dan 64%.

With the increasing growth of palm oil industry in Kalimantan, it will affect the solid waste produced by the fresh fruit bunches processing. According to some researches and its physical form, there is a similarity between palm fiber ash and fly ash which is commonly used as filler for asphalt mixture. In the middle of difficulty to obtain stone dust and fly ash, palm fiber ash is chosen as an alternative for filler in asphalt mixture. It is expected that palm ash can be used as filler and it can repair the characteristic of asphalt mixture. By that way, the waste of palm fiber ash which is a problem in palm oil production can be utilized and has economic value. In this research, 5 variations are used, they are variation 1 (100% stone dust + 0% palm fiber ash), variation 2 (75% stone dust + 25% palm fiber ash), variation 3 (50% stone dust + 50% palm fiber ash), variation 4 (25% stone dust + 75% palm fiber ash), variation 5 (0% stone dust + 100% palm fiber ash) The test used are the Marshall test with 0,5 and 24 hours of immersion, and Indirect Tensile Strength test which is done on unconditioned and conditioned specimen. From the result, the optimum asphalt content for variation 1, 2, 3, 4, and 5 is a follows 6,4%, 6,65%, 6,7%, 6,85%, dan 7,3%. The result of standard Marshall test (0,5 hour of immersion) shows the stability value is a follows 1747kg, 1710kg, 1649kg, 1578kg, dan 1469kg, on the Marshall test with 24 hours of immersion shows the stability value is a follows 16656kg, 1618kg, 1539kg, 1437kg, dan 1325kg. The obtained index value of remaining strength(IRS) meets the requirements of Bina marga. From the result, it shows the highest IRS value is achieved in variation 1 95,4% and the lowest is in variation 5 90,2%. HRS-BC mixture which uses palm fiber ash as filler is less resistant to crack, this can be seen in the Tensile Strength Ratio (TSR) which is shown by variation 1, 2, 3, 4, and 5 as follows 89%, 77%, 74%, 66% dan 64%.

Kata Kunci : Abu serat kelapa sawit, filler, HRS-BC


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.