LIFESTYLING DALAM PEMBENTUKAN ULANG TUBUH PRIA URBAN GOLONGAN BAWAH (STUDI KASUS “PUSAT KEBUGARAN TUBUH†GORILLA POWER BODY BUILDING, GANG BUNTU, SEMARANG, JAWA TENGAH)
Krisetiawati Puspitasari, Dr. Budiawan
2012 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaKajian ini membahas bagaimana pria urban golongan bawah, misalnya tukang becak, buruh panggul, buruh bangunan, penjaga keamanan, petugas kebersihan, melakukan lifestyling terhadap fitness lifestyle. Di Indonesia, fitness lifestyle diperkenalkan oleh pusat-pusat kebugaran melalui majalah-majalah gaya hidup. Konsep lifestyling, yang dipinjam dari Solvay Gerke (2000), dipahami sebagai perilaku yang ingin mempertunjukkan suatu gaya hidup tertentu tanpa didukung oleh kemampuan ekonomi yang merupakan dasar konsumsi sesungguhnya. Lifestyling dengan demikian merujuk pada dimensi simbolis semata dari suatu praktik konsumsi tanpa mempedulikan ‘standar yang semestinya’ karena ketidakmampuan ekonomi seseorang untuk menggapainya. Dengan studi kasus pada Gorilla Power Body Building, Gang Buntu, Semarang, yang notabene merupakan ‘klub kebugaran para pria urban golongan bawah’, penelitian ini menunjukkan lifestyling yang dilakukan masyarakat urban golongan bawah ternyata sekaligus merupakan resistensi terhadap rezim gaya hidup fitness. Dengan peralatan sederhana, pola latihan yang berbeda dan pola makan seadanya, ternyata tubuh berotot seperti yang diidealkan dalam gaya hidup fitness bisa didapatkan. Kendati tidak sepenuhnya bisa menyamai apa yang dianggap sebagai “bentuk tubuh ideal†pria urban golongan menengah ke atas. Pilihan atas gaya hidup fitness yang dilakukan oleh pria golongan bawah ini didasari oleh hasrat menjadi seperti pria golongan menengah ke atas. Melalui tubuh yang dibentuk ulang, mereka membuat narasi identitas yang berbeda dengan pria golongan bawah lainnya. Dalam hal ini, mereka melakukan classpassing, seakan berada di dalam kelas sosial di atasnya walaupun pada kenyataannya tidak terjadi perpindahan kelas.
This study aims to discuss on how lower class urban men like paddicab drivers, porters, construction workers, security guards, and cleaning service crew among others, embrace lifestyling upon fitness lifestyle. In Indonesia, fitness lifestyle is introduced by fitness centre through lifestyle magazines. The concept of lifestyling derives from Solvay Gerke (2000). It is understood as a behavior of showing off a certain lifestyle without the support of economic capability which is the fundamental basis of consumption. Therefore, lifestyling is only based on the sheer symbolic dimension of a consumtive practice without the support of economic capability. This research is based on the case study of “Gorilla Power Body Building†at Gang Buntu in Semarang that could be notified as fitness club for a lower-class urban men. The research shows that lifestyling to some extent could be considered as a resistance against the fitness lifestyle regime. It is proven tha muscular body which has been a sort of an ideal in the fitness lifestyle could easily be gained with a very simple dan hand made fitness equipment, a different kind of exercise, and a non-dietary meal. However, the ideal shape is not exactly the same as that of the urban men from the middle and high classes. The lower class urban men have chosen this fitness lifestyle because the have desire to become the urban men of the middle and high classes. Through their newly body shape, the narrate their identity that is different from the other men’s of the same class. In this case, the make class-passing as if the were on the upper class, although in reality the remain in the same class.
Kata Kunci : lifestyling, gaya hidup urban, tubuh pria, identitas