Laporkan Masalah

KONTESTASI CITRA SOSIAL DALAM PRAKTIK RITUAL HAJI (ANALISIS KRITIS TERHADAP GAYA HIDUP MUSLIM KELAS MENENGAH DI YOGYAKARTA)

Muhammad Fadli, Dr. Sugeng Bayu W.

2012 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Haji adalah ritual keagamaan yang telah sekian lama ada dimulai sejak jaman nabi Ibrahim yang diakui sebagai bapak monotheisme agama‐agama samawi seperti Islam, Yahudi dan Kristiani. Dalam Islam, haji menjadi rukun yang otonom (arkanul alislam), rukun yang mengikat pemeluknya untuk melaksanakannya ke Makkah sekali seumur hidup (wajib), terutama bagi yang mampu secara materi dan terbebas dari beban sosial, ekonomi, psikologis, kesehatan, dan lainnya. Dengan menggunakan teori‐teori cultural studis untuk melihat bagaimana perkembangan haji saat ini, kontekstualisasi dan dinamika sosial haji yang terus berubah menjadikan praktik keagamaan ini sarat berbagai multi‐kepentingan terutama ekonomi‐politik. Pergeseran ruang haji dari etis ke estetisasi, dari ritual agama ke ritual budaya, dari rasionalitas nilai ke rasionalitas ketujuan, dari asketisme ukhrawi ke asketisme duniawi dan seterusnya, merupakan kompleksitas dinamika haji diabad ke 21. Ruang haji masuk dalam pusaran globalisasi yang serba berwajah komodifikasi, dan komoditi. Tak ayal, praktik haji kemudian bergeser keranah ekonomi sekaligus membentuknya menjadi ibadah yang tidak lagi menjadi tujuan dari pengembangan nilai dan spiritualitas ketuhanan, perjuangan kemanusian dan keadilan yang galiter, melainkan bergeser ke ranah pertunjukan budaya, prestise, status, citra, dan gaya hidup pelakunya, terutama haji ONH plus yang kini justru menjadi arena pertunjukan kelas sosial masyarakat menengah atas khususnya haji ONH plus di Yogyakarta.

Hajj wass a religious ritual that has been there for so long, starting from the time of Prophet Ibrahim who was recognized as the father of divine monotheistic religions such as Islam, Judaism and Christianity. Within Islam itself, the pilgrimage to the autonomous pillars (arkanul al‐Islam), binds its adherents to carry harmony to Mecca once in their lives (mandatory), especially for those who could be freed from the burden of the material and social, economic, psychological, and others. By using the theories of cultural pilgrimage studies see how the current developments, contextualization and social dynamics of the changing religious practices make it full of a variety of multi‐mainly economic‐political interests. Space shift from ethical to estetisation pilgrimage, from religious ritual to ritual culture, from rationality to rationality to the goal value, of the worldly asceticism to the hereafter and so on, are the dynamics of the 21st century pilgrimage. Haji then entered the vortex of globalization faced paced commodification, and commodities. No doubt, the practice of pilgrimage and then shifted into shape once the economy to worship zone is no longer a goal of developing values and spirituality of the divine, the struggle equivalency of humankind and justice, but rather to shift the domain of cultural performance, prestige, status, image and lifestyle of the culprit, especially ONH plus pilgrims who had now become an arena show upper middle class people, especially in Yogyakarta.

Kata Kunci : Estetisai, Kelas, Citra, Gaya Hidup, Komodifikasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.