Laporkan Masalah

Persepsi dan Identifikasi Diri Etnis Minoritas Sebagai Warga Negara, studi kasus :Cina Benteng Tangerang

Indah Juwita Sari, Samsu Rizal Panggabean, MS

2012 | Tesis | S2 Magister Perdamaian & Resolusi Konflik

Cina Benteng dikenal sebagai kelompok masyarakat keturunan Tiong Hoa yang , g n a r e g n a T a t o k i d a y n s u s u h k n e t n a B i s n i p o r p h u r u l e s i d r i p m a h r a b e s r etMayoritas Kelompok Cina Benteng tinggal di bantaran sungai Cisadane kota tangerang tepatnya di kampung Lebak Wangi, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari kota Tangerang. Kehidupan kelompok masyarakat Cina Benteng di Kampung Lebak Wangi telah membaur dengan kelompok pribumi, mereka hidup berdampingan secara damai dan sangat jarang terjadi konflik. Salah satu persoalan yang terjadi dalam kelompok ini adalah sulitnya perolehan identitas sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), meskipun mereka sudah lebih dari empat generasi tinggal di Indonesia. Untuk mewujudkan suatu Negara yang baik, dituntut sebuah komitmen tinggi terhadap warga negaranya salah satunya adalah memberikan jaminan dan perlindungan hukum terhadap hak Warga Negara. Untuk memperoleh hak tersebut maka hal penting adalah adanya pengakuan dari Negara bahwa seseorang atau kelompok sosial adalah bagian dari warga negara yang sah secara hukum, sehingga perlu berbagai bukti atau dokumen yang melegalkan status mereka sebagai Warga Negara yang sah, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga (KK). Sulitnya akses kependudukan akan mengakibatkan seseorang atau kelompok sosial memiliki ketidak jelasan status hukum karena hak mereka tidak dijamin. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu mengapa kelompok masyarakat Cina Benteng sulit untuk memperoleh akses kependudukan yang didasarkan pada persepsi kelompok masyarakat tersebut, apakah mereka mempersepsikan diri sebagai warga Negara Indonesia atau bukan. Hal ini penting karena persepsi diri mereka akan menentukan hubungan antara In-Groups dan Out-Groups, baik antar penduduk asli setempat ataupun dengan kelompok lain, selain itu persepsi diri akan sangat mempengaruhi kedudukan seseorang atau kelompok sosial terhadap hak dan kewajiban mereka serta penerimaan sebagai warga negara. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu melakukan penelitian dengan mengungkap fakta secara deskritif naratif, sehingga bersifat study kasus. Study kasus adalah deskripsi intensif dan analisis terhadap individu dengan mendapatkan data dari beberapa sumber, termasuk observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa narasumber mempersepsikan diri sebagai warga negara Indonesia keturunan Tiong-Hoa bukan sebagai warga negara asing (RRC). Mereka mendudukkan identitas sebagai identitas yang positif, yaitu sebagai warga negara Indonesia. Mereka berusaha untuk membentuk konsep diri yang positif dengan harapan ketika etnis lokal menerima, mereka akan dengan mudah dapat memperoleh hak dan kewajiban yang setara, terutama sebagai warga negara yang diakui secara sah. Mereka juga berusaha agar etnis mereka disederajatkan dan diakui seperti etnis lain di Indonesia, seperti Jawa, Batak, Bugis dan lain sebagainya, sehingga dapat disimpulkan bahwa kesulitan perolehan kartu identitas bukan disebabkan adanya sikap eklusif kelompok minoritas itu namun lebih pada faktor lain yang mempengaruhi yaitu prasangka dan stereotif, perekonomian, sejarah dan kebijakan politik.

Cina Benteng have already known as community group of Tionghoa descendant who spread almost all over Banten Province, especially in Tangerang City. But, majority of Cina Benteng have lived along Cisadane river, precisely in Lebak Wangi Village, Mekarsari Subdistrict, Neglasari District. Cina Benteng community have assimilated with the local one. They have lived together peacefully. Rarely has conflict happened. But, there is still one main problem out of many faced by this group. It is the difficulty of obtaining identity as Indonesia Citizen (WNI). Though, more than four of their generations have lived in Indonesia. High commitment towards the citizens is absolutely required to realize a good government. One of these is giving citizen rights warrant and legal protection. Obtaining such rights needs recognition from the government mentioning that a person or social group is legally part of citizens. So, it needs a various documents to legalize their status as legitimate citizens, such as Identity Cards or ID Cards (Kartu Tanda Penduduk/KTP), Certificate of Birth, and Family Identification Card (Kartu Keluarga/KK). The difficulty of citizenship-relatedaccess causes someone or social group’s legal status becomes unclear. This happened because their rights are not guaranteed. This research aims to know why Cina Benteng community is difficult to gain citizenship-related-access based on their perception, whether they perceive themselves as Indonesian citizen. Its important to know because their selfperception determines the relationship between in-group and out-group, not only with the local community, but also with other groups surrounding them. Besides, self-perception greatly affects their rights, obligations, and how they perceive themselves as citizens. This research uses a qualitative approach, that is bringing facts up using descriptive-narrative method. It is called case study. Case study is an intensive description and analysis of the individual by searching data from various sources, including observation and interview. This research concludes that respondents prefer to perceive themselves as Indonesian citizens who is Chinese descendant rather than as foreigner (People’s Republic of China/Republik Rakyat Cina, for example). They perceive identity as a positive one, namely as an Indonesian citizen. They try to establish a positive self-concept so that they easily obtain equal right and obligation, particularly as a legally recognized citizen. They hope the local community accept them as well. They also try to keep themselves equalized and recognized as other ethnic groups in Indonesia, such as Javanese, Batak, Bugis, and so forth. So, it can be concluded that the difficulties on obtaining an identity card is not caused by minority’s exclusivism, but rather by other factors, such as prejudice, stereotyping, economic condition, historcal aspects, and governmental policies.

Kata Kunci : Cina Benteng, Kartu Identitas, Warga Negara, Mayoritas, Minoritas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.