KEARIFAN ORANG MINAHASA DI PERANTAUAN
Gloridei. L. Kapahang, SPsi, Prof. JE. Prawitasari, Ph.D
2012 | Tesis | S2 PsikologiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada interaksi antara jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan usia perkembangan pada kearifan orang Minahasa di perantauan. Selain itu, ingin juga mengetahui apakah ada perbedaan kearifan antara perantau Minahasa berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, antara perantau Minahasa dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi, serta apakah ada perbedaan kearifan di antara perantau Minahasa yang memiliki rentang usia remaja, dewasa awal dan dewasa akhir. Kearifan diukur dengan menggunakan skala yang diadaptasi dari karya Monica Ardelt (2003) yakni Three- Dimensional Wisdom Scale (3D-WS). Skala tersebut memiliki tiga dimensi, yakni: dimensi kognitif, reflektif, dan afektif. Ketiga dimensi tersebut kemudian digabungkan dengan lima kualitas manusia Minahasa yang dirumuskan oleh Tilaar (1991), yakni: kesadaran eksistensial, sosialitas, kesejarahan, wawasan masa depan, dan beriman. Skala ini kemudian diberikan kepada orang Minahasa yang merantau di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin, tingkat pendidikan dan usia perkembangan terhadap kearifan orang Minahasa di perantauan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fhitung sebesar 0,807 dan signifikansi 0,372 di mana nilai Fhitung berada jauh di bawah nilai Ftabel (2,71). Demikian juga dengan hasil penelitian pada kelompok jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan usia perkembangan yang sama-sama tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan.
This study was aimed to determine whether there was interaction effect between gender, education level, and developmental age of Minahasa people wisdom overseas. In addition, it also want to find out if there was a difference between nomads Minahasa wisdom-sex male and female, between nomads Minahasa with secondary and higher education levels, and whether there were differences among the nomads Minahasa wisdom that has the age range of adolescent, early adulthood and late adulthood. Wisdom was measured using an adapted scale from Monica Ardelt (2003) named the Three-Dimensional Wisdom Scale (3D-WS). The scale has three dimensions, they were: the cognitive, reflective, and affective dimensions. These three dimensions were then combined with the five human qualities of Minahasa people formulated by Tilaar (1991), they were: the existential consciousness, sociality, historicity, insight into the future, and faith. The scales ware given to the Minahasa people where living in Special Region of Yogyakarta. The study stated that there were no interaction effect between gender, education level and developmental age of Minahasa people wisdom overseas. This was indicated by the F value 0.807 and significance 0,372 which was the value was far below the Ftable (2,71). Likewise, the results of research on sex group, education level, and developmental age did not reveal any significant differences equally
Kata Kunci : kearifan, Minahasa, merantau