PELATIHAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA PETUGAS OUTREACH PROGRAM HARM REDUCTION PADA PENGGUNA NARKOBA SUNTIK
Sarita Candra Merida, Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, SU., Psi
2012 | Tesis | S2 Magister Profesi PsikologiHIV dan AIDS di Indonesia meningkat. Khususnya pengguna narkoba suntik (penasun). Maka perlu program Harm Reduction (HR). Untuk menjembatani penasun dengan HR perlu penjangkau (outreach) dengan ketrampilan yang mendukung saat berhadapan dengan penasun. Penelitian ini melihat efektivitas pelatihan komunikasi interpersonal untuk meningkatkan ketrampilan komunikasi dengan penasun. Partisipan adalah penjangkau yang bertugas di wilayah DIY yaitu kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta. Memiliki pengalaman lama menjangkau dan tingkat pendidikan beragam, latar belakang dari mantan penasun dan bukan kalangan penasun. Rancangan penelitian adalah the one group pretest posttest design dengan follow up. Berdasarkan uji Wilcoxon menunjukkan kenaikan ketrampilan komunikasi interpersonal namun tidak signifikan. Setelah satu bulan pelatihan hanya tiga partisipan yang mengalami peningkatan. Berdasarkan perhitungan mann whitney tidak ada perbedaan signifikan ketrampilan komunikasi interpersonal pada kedua kelompok penjangkau sampai satu bulan pelatihan. Aspek bersikap positif meningkat secara signifikan dan tetap bertahan sampai pelatihan selesai. Ketrampilan komunikasi interpersonal dapat diterapkan dengan memodifikasi ketrampilan komunikasi yang lain. Ketrampilan ini akan lebih bermanfaat jika diterapkan pada penjangkau yang baru akan memulai tugasnya.
HIV and AIDS are increasing in Indonesia. Especially injected narcotic users (addict). Thus, Harm Reduction (HR) program is needed. To connect addict with HR, a connector (outreach) with promising skill of getting in direct contact with addict is needed. This research sees trough the efficiency of interpersonal communication training to increase communicating skill with the addict. The participants are outreaches that are currently assigned work in DIY, which are in Sleman, Bantul, and Yogyakarta. Experienced in outreaching and have various educational backgrounds, had history as addict and is not currently a addict. The research plan is the one group pretest posttest design with follow up. An increase on interpersonal communicating skill was shown Based on Wilcoxon test, but not significant. After one month training, only three participants show increase in the interpersonal communicating skill. Based on Mann Whitney calculation, there was no significance difference on interpersonal communicating skill on the two outreach groups until one month training. Acting-positive aspect keeps increasing significantly up until the end of the training program. Interpersonal communicating skill could be applied by modifying the other communicating skills. This skill will be even more advantageous if used by new outreach that is just at the start of his/ her work.
Kata Kunci : Penasun, HIV dan AIDS, komunikasi interpersonal, Harm Reduction, petugas penjangkau (outreach)