EUFEMISME DAN DISFEMISME PADA WACANA LINGKUNGAN: SEBUAH KAJIAN EKOLINGUISTIK KRITIS DALAM MEDIA MASSA DI INDONESIA
ELISA NURUL LAILI, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.
2012 | Tesis | S2 LinguistikIsu tentang lingkungan merupakan permasalahan yang aktual dan menarik untuk diperbincangkan. Ilmu linguistik dewasa ini juga mengkaji permasalahan kebahasaan yang mulai berubah seiring dengan perubahan lingkungan. Permasalahan kebahasaan yang berkaitan dengan perubahan lingkungan ini dikaji dalam ilmu ekolinguistik dan ekolinguistik kritis. Penelitian ini berusaha mengkaji permasalahan kebahasaan yang terdapat dalam wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia, yakni mengenai eufemisme dan disfemisme. Karena itulah, penelitian ini termasuk ke dalam ranah ekolinguistik kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentukbentuk, referensi, tipe-tipe dan fungsi-fungsi satuan ekspresi eufemisme dan disfemisme pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari beberapa media massa berbahasa Indonesia, baik cetak (majalah dan surat kabar) maupun elektronik (portal berita dari media internet), yang berisi tentang wacana lingkungan dengan metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Data dibatasi hanya seputar permasalahan tentang polusi, pencemaran, dan reservasi lingkungan. Kemudian data dianalisis dengan metode agih dengan teknik lanjutan berupa teknik substitusi, dan metode padan. Lalu, hasil analisis data disajikan secara informal. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Allan dan Burridge dan Trampe sebagai pisau analisis data. Namun, juga digunakan beberapa teori yang relevan agar hasil analisis lebih mendalam dan komprehensif. Setelah melakukan kajian yang mendalam, peneliti menemukan bahwa bentuk-bentuk eufemisme pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia ada empat macam, yakni kata, frase, klausa dan kalimat. Bentuk-bentuk disfemisme yang terdapat pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia juga ada empat macam, yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat. Selanjutnya, referensi eufemisme yang terdapat dalam media massa di Indonesia digunakan untuk menggantikan istilah-istilah yang kurang berkenan berkaitan dengan manusia, tumbuhan, binatang, tanah, nuklir dan material beracun, sampah dan limbah, polusi, perusakan habitat alami, kepunahan spesies dan tabu. Masing-masing merujuk pada sifat, keadaan, aktivitas, profesi, benda dan tempat. Adapun yang merujuk pada hal-hal tabu antara lain tentang aktivitas SDM (sex, defecation and micturition), kematian, kriminalitas, binatang, dan kekurangan mental menusia. Adapun referensi disfemisme yang terdapat dalam media massa di Indonesia digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan manusia, tumbuhan, binatang, tanah, nuklir dan material beracun, sampah dan limbah, polusi, perusakan habitat alami, kepunahan spesies dan tabu. Masing-masing merujuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan sifat, keadaan, aktivitas, profesi, benda, tempat, peristiwa, dan –ist disfemisme. Sedangkan yang merujuk pada hal tabu, yaitu tentang aktivitas SDM, makhluk halus, kematian, kriminalitas, dan narkotika. Adapun tipe-tipe eufemisme yang terdapat pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia sekurang-kurangnya ada 11 macam, yaitu penggunaan ekspresi figuratif, pemodelan kembali, sirkumlokusi, singkatan, satu kata untuk menggantikan kata yang lain, synecdoche totem pro parte, hiperbola, understatement, penggunaan istilah teknis (jargon), penggunaan istilah kolokial (sehari-hari), dan pinjaman dari bahasa lain. Sedangkan tipe-tipe disfemisme yang terdapat pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia sekurang-kurangnya ada 11 macam, yaitu penggunaan ekspresi figuratif, pemodelan kembali, sirkumlokusi, metonimia, sinestesia, satu kata untuk menggantikan kata yang lain, synecdoche totem pro parte, hiperbola, penggunaan istilah teknis (jargon), penggunaan istilah kolokial (seharihari), dan pinjaman dari bahasa lain. Selanjutnya, fungsi-fungsi eufemisme yang terdapat pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia sekurang-kurangnya ada 13 macam, yaitu: (1) menyembunyikan fakta, (2) menunjukkan rasa hormat, (3) menghindari tabu, (4) menyindir, (5) menunjukkan kepedulian, (6) memberi saran, (7) melebih-lebihkan, (8) menunjukkan bukti, (9) menyampaikan informasi, (10) menghindari kata-kata yang menimbulkan kepanikan, kejijikan atau trauma, (11) menuduh atau menyalahkan, (12) mengkritik, dan (13) memperingatkan. Sedangkan fungsi disfemisme yang terdapat pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia sekurang-kurangnya ada 12 macam, yaitu: (1) mengungkapkan kemarahan atau kejengkelan, (2) mengkritik, (3) menyindir, (4) menuduh atau menyalahkan, (5) mengeluh, (6) menyampaikan informasi, (7) menghina, mengejek atau mempertajam penghinaan, (8) memperingatkan, (9) menunjukkan ketidaksetujuan, (10) menunjukkan rasa tidak suka, (11) melebih-lebihkan, dan (12) menunjukkan bukti.
Environmental issues are the actual and interesting topics to discuss. Recently, linguistic researchers also investigate some topics about the influences of environmental crises to human language. Issues of environmental change that influence human language are studied in ecolinguistics and eco-critical discourse analysis area. This research is conducted to find some linguistic problems in environmental discourse of Indonesian mass media, they are euphemism and dysphemism. Therefore, this research is conducted under eco-critical discourse analysis field. This research aims to find the forms, references, types, and functions of euphemism and dysphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media. This research is descriptive qualitative research. The data are collected from some media, including magazines, newspapers, and electronic media (online medias) that contain environmental discourses. The data are focused to analyze the issues about pollution and conservation only. Then, they are analyzed with the distributional and contextual method. After that, the data are presented by informal report. This research uses the theoretical framework presented by Allan and Burridge, and Trampe. But, it also uses some relevant theories to support the researcher analysis, in order the findings are reliable, detail and comprehensive. After conducting the comprehensive investigation, the researcher finds that there are four forms of euphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media, they are word, phrase, clause, and sentence. The forms of dysphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media are also four forms, they are word, phrase, clause, and sentence. The references of euphemism in environmental discourse of Indonesian mass media are used for substituting some distasteful terms related to human, plant, animal, soil and landscape, nuclear energy and poisonous material, trash and waste, pollution, destruction of natural habitat, extinction of species, and taboo. They are including the characteristics, conditions, activities, professions, devices, and places. While taboo are including SDM (sex, defecation and micturition) activities, death, criminalities, animals and mental retardation. Furthermore, the references of dysphemism in environmental discourse of Indonesian mass media are used for expressing some terms, such as human, plant, animal, nuclear energy and poisonous material, trash and waste, pollution, destruction of natural habitat, extinction of species, and taboo. They are including the characteristics, condition, activities, professions, devices, places, events, and –ist dysphemism. While taboo are including the SDM activities, invisible creatures, and criminalities. The types of euphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media are at least 11 types, they are the usage of figurative expressions, remodeling, circumlocution, abbreviation, one for one substitution, synecdoche totem pro parte, hyperbole, understatement, the usage of technical terms (jargon), the usage of colloquial terms, and borrowing from other language. While the types of dysphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media are at least 11 types, they are the usage of figurative expressions, remodeling, circumlocution, metonymy, synestesia, one for one substitution, synecdoche totem pro parte, hyperbole, the usage of technical terms (jargon), the usage of colloquial terms, and borrowing from other language. Furthermore, the functions of euphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media are at least 13 kinds; they are (1) concealment of facts, (2) showing respect, (3) avoiding taboos, (4) teasing someone, (5) showing sympathy, (6) giving suggestion, (7) exaggerating statement, (8) showing evidence, (9) giving information, (10) avoiding traumatic, loathsome, distasteful and fearful words, (11) accusing or blaming someone, (12) criticizing, and (13) giving caution. While the functions of dysphemism used in environmental discourse of Indonesian mass media are at least 12 kinds; they are (1) expressing anger and frustration, (2) criticizing, (3) teasing someone, (4) accusing or blaming someone, (5) complaining or moaning, (6) giving information, (7) mocking, and insulting, (8) giving caution, (9) showing disapproval, (10) showing distasteful, (11) exaggerating statement, and (12) showing evidence.
Kata Kunci : eufemisme, disfemisme, wacana lingkungan