PENGORGANISASIAN KELOMPOK TANI TERNAK DALAM PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI BALI DI KECAMATAN PARIGI KABUPATEN MUNA
LA ODE RAMALAN, S.P, Endang Sulastri, S.Pt., MA., Ph.D
2012 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi PembangunanSapi potong jenis sapi Bali di Kecamatan Parigi dipelihara oleh petani peternak dengan pemeliharaan secara tradisional, tidak menggunakan sentuhan teknologi baik pakan, kesehatan maupun sistem perkawinan. Di samping pola penjualan ternak yang tidak diatur sehingga banyak ternak baik jantan maupun betina dengan fenotip baik terjual (keluar dari populasi). Dari segi pemeliharaan, ternak sapi dibiarkan bebas berkeliaran, karena tidak adanya kandang yang dimiliki oleh petani peternak. Oleh karena itu pendekatan pemberdayaan peternak menjadi penting agar peternak dapat mandiri dalam mendapatkan modal, merencanakan, mengatur dan menentukan pola serta strategi pemuliaan ternak maupun pemeliharaannya. Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk memberdayakan masyarakat pedesaan yang di dalamnya termasuk petani peternak, antara lain dibentuknya kelompok tani ternak. Terbentuknya kelompok tani saat ini masih kurang menempatkan petani sebagai pengambil keputusan dalam usahataninya, karena dominasi pengaruh intervensi pihak luar petani terhadap kelompok tani. Kelompok tani ternak yang dibentuk harus ditingkatkan pengelolaanya dengan melibatkan pengurus dan anggota kelompok tani ternak sehingga kelompok dapat berlangsung secara terus-menerus. Dalam mewujudkan hal tersebut maka diperlukan suatu pengorganisasian kelompok tani ternak. Penelitian ini menggunakan metode campuran antara metode penelitian kuantitatif dengan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan parigi Kabupaten Muna, dengan jumlah responden sebanyak 117 petani peternak yang tergabung dalam kelompok tani ternak. Tingkat penerapan prinsip demokrasi berada pada kisaran 47,01 % - 72,36 %, tingkat penerapan prinsip partisipatif berada pada kisaran 59,83 % - 68,66 %, tingkat penerapan prinsip pemberdayaan berada pada kisaran 52,78 % - 66,95 %, dan tingkat penerapan perbedaan orientasi anggota berada pada kisaran 47,22 % - 66,38 %. Indikator pengorganisasian adalah pembagian kerja, pendelegasian wewenang dan koordinasi. Dari ketiga indikator tersebut semua berada dalam kategori sedang. Tingkat pembagian kerja berada pada unsur penyesuaian kemampuan dan jenis pekerjaan dengan persentase 69,52 %, tingkat pendelegasian wewenang berada pada unsur proses pendelegasian wewenang dari ketua kelompok kepada anggota kelompok dengan persentase 63,53 %, dan tingkat koordinasi berada pada unsur koordinasi menggunakan pendekatan multi kelompok dengan persentase 66,67 %. Pengembangan peternakan dalam kandang kelompok, pakan ternak dan reproduksi. Keberadaan kandang kelompok membantu petani peternak untuk mendapatkan bantuan, terjadinya interaksi sesama petani peternak. Pengembangan pakan ternak membantu petani peternak mengenal jenis pakan ternak unggul dan pengembangan reproduksi menjadikan petani peternak cepat mendeteksi sapi yang birahi sehingga cepat dikawinkan.
In the subdistrict of Parigi, Muna, the farmers bred and cared for Baliness cows in traditional ways. They did not use any technological help for the animals food, health, or mating. Besides an unorganized way of selling the animals, lots of good quality male and female animals were also sold. As the part of care, the breeders allowed the cows to wander as they did not have stalls or fenced in field for the cows. Therefore, it was vital for the improvement of the breeders’ role in order they could be more independent in finding financing support, planning and managing their farming. The local government had been striving for these things for the villagers including the farmers aiding this by forming the farmers group. It was unfair for the cow farmers group since they could be not involved in decision making of the farming cases in that village. The breeders group that had been formed needed to improve its managing system. To achieve it, they needed a good organization system for the farmers group. This study uses a method of qualitative and quantitave research. It took place in Parigi subdistrict, Muna district, interviewing 117 of the breeders which were included in the breeders group. The range of applying the democracy principal was about 47.01% to 72.36%. The range of applying the participating principal was about 59.83% to 68.66%. The range of applying the endeavour principal was about 52.78% to 66.95%. And, the range of applying the members differential orientation was about 47.22% to 66.38%. The organizing indicators consisted of jobs distribution, authority substitutions, and coordination. From the three indicators above, they were in medium category. The range of jobs distribution was on the skill adjusting and job types with 69.52%; the range of authority substitutions was on the authority substitutions part from a group leader to a group member with 63.53%; and the range of coordination was on the coordination part using multi-group approach with 66.67%. The farming development consisted of stalls, feed for the cows, and reproduction. Stalls which were around the breeders would ease them to do their farming activities and connect with each other. The developing idea about food for the cows helped the cow farmers to identify the kinds of the good food; and the developing ideas about reproduction led the cow farmers to easily recognize a mature cow in order to be mated right away.
Kata Kunci : pengorganisasian, kelompok tani ternak, sapi Bali