Laporkan Masalah

KELUARAN KLINIS FRAKTUR INTERTROKHANTER FEMUR PADA LANSIA YANG DILAKUKAN FIKSASI INTERNAL DAN HEMIARTHROPLASTI

M. Wibowo Ariyanto, dr. Rahadyan Magetsari, PhD, SpOT, FICS

2012 | Tesis | S2 Ilmu Bedah

Pendahuluan Manajemen fraktur intertrokhanter femur pada lansia masih menjadi tantangan. Menurunnya kualitas tulang, sulitnya reduksi anatomi oleh karena fragmen fraktur yang sangat kominutif, tidak adekuatnya stabilitas fiksasi internal dan komorbid akan menyebabkan keluaran klinis dan radiologis pasca fiksasi internal tidak memuaskan. Akhir - akhir ini hemiarthroplasti menjadi terapi alternatif untuk mendapatkan keluaran klinis dan fungsional yang terbaik. Metode Penelitian Sebanyak 50 pasien fraktur intertrokhanter tipe tidak stabil pada lansia yang dilakukan fiksasi internal ataupun hemiarthroplasti diteliti untuk menilai keluaran klinis pasca operasi. Status fungsional sendi panggul dinilai dengan Haris Hip Score dan kualitas hidup penderita dinilai dengan Health Related Quality of Live Short Fom 36. Temuan Pernelitian dan Diskusi Fraktur intertrokhanter tipe tidak stabil pada lansia yang dilakukan fiksasi internal diperoleh 28 (56 %) kasus, terdiri dari 7 pria dan 21 wanita dengan rata-rata usia 71,1 (60-85) tahun, sedangkan penderita yang dilakukan hemiarthroplasti diperoleh 22 (44 %) kasus, terdiri dari 10 pria dan 12 wanita dengan rata-rata usia 76,4 (65-87) tahun. Penderita mempunyai rata-rata nilai HHS 76,1 setelah dilakukan fiksasi internal, sedangkan setelah dilakukan hemiarthroplasti mempunyai rata-rata nilai HHS 80,5. Keluaran status fungsional sendi panggul yang lebih baik secara signifikan (p = 0,015) dicapai pada fraktur intertrokhanter femur yang dilakukan hemiarthroplasti, sedangkan kualitas hidup pasca kedua terapi tidak menunjukkan perbedaan. Fraktur intertrokhanter femur pada lansia yang dilakukan hemiarthroplasti memberikan keluaran klinis yang memuaskan.

Introduction Management of fracture of elderly intertrochanter femur is still challenge. Poor bone quality, difficult anatomical reduction due to severe comminutive fracture, inadequate stability of internal fixation and comorbidity cause unsatisfactory clinicoradiological outcome after internal fixation. Recently, hemiarthroplasty is used for alternative treatment to reach the best clinical and functional outcome. Methods Fivety patient of fracture of unstable intertrochanter femur in elderly who have performed internal fixation or hemiarthroplasty is studied to evaluate postoperative clinical outcome. Functional status of hip joint is evaluated using Haris Hip Score and to evaluate quality of live using Health Related Quality of Live Short Form 36. Result and Discussion Fracture of unstable intertrochanter femur in elderly who has performed internal fixation was 28 (56 %) of cases, consist of 7 males and 21 females with mean of age 71.1 (60 - 85) years old, meanwhile patient who has performed hemiarthroplasty was 22 (44 %) of cases, consist of 10 males and 12 females with mean of age 76.4 (65 - 87) years old. The patients had mean of HHS 76.1 after internal fixation treatment and mean of HHS after hemiarthroplasty treatment was 80.5. The outcome of functional status of hip joint after hemiarthroplasty is better significantly (p=0.015) and the quality of live between both treatment have no difference. Fracture of intertrochanter femur in elderly which has performed hemiarthroplasty gave satisfactory clinical outcome.

Kata Kunci : Fraktur intertrokhanter femur pada lansia, fiksasi internal, hemiarthroplasti


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.