TINGKAT RISIKO BENCANA LONGSORLAHAN BERDASARKAN ASPEK KERENTANAN DAN KAPASITAS MASYARAKAT DI DAS TINALAH, KABUPATEN KULONPROGO, PROVINSI DIY
Baroro Mahardini Muis, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.
2012 | Tesis | S2 GeografiPenelitian ini telah dilaksanakan di DAS Tinalah, Kulonprogo, Provinsi DIY. Kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana longsorlahan tidak hanya berupa kerusakan langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, permukiman ataupun korban manusia, namun juga dapat mengakibatkan kerugian tidak langsung yang dapat melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya. Risiko bencana bagi penduduk akan bertambah jika memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kerawanan longsorlahan, kerentanan yang ada pada masyarakat dan mengetahui tingkat kapasitas masyarakat terhadap longsorlahan. Metode penelitian yang digunakan untuk menilai tingkat kerentanan, persepsi, kapasitas dan risiko masyarakat adalah Parcipatory GIS (P-GIS) pada tingkatan skala lokal yaitu pendekatan sektor rumah tangga. Penilaian selanjutnya dilakukan secara kuantitatif dengan pemberian bobot dan skoring. Teknik pengambilan sampel untuk penelitian sosial dan pengecekan lapangan menggunakan teknik stratified sampling, sedangkan penentuan jumlah responden menggunakan proportional sampling yang didasarkan pada perbandingan luasan area yang masuk dalam zona rawan bencana dengan jumlah penduduk yang masuk dalam DAS di tiap zona kerawanan longsorlahan. Secara garis besar hasil penelitian menunjukkan faktor utama yang mempengaruhi kerentanan adalah pendapatan. Tingkat ekonomi yang rendah dan topografi berbukit membuat penduduk DAS Tinalah memiliki aksesbilitas yang kurang. Persepsi dan kapasitas penduduk DAS Tinalah (90%) berada pada kelas sedang, hal ini berarti penduduk DAS Tinalah telah memahami bahaya longsorlahan dan telah berupaya mengantisipasinya dengan cukup baik. Lamanya waktu domisili membuat hubungan kekerabatan antar warga terjalin dengan baik dan berubah menjadi modal sosial yang dapat membantu pemulihan pasca bencana. Sebesar 23 % responden penduduk DAS Tinalah yang berpendapatan rendah (>600000 – 750000) memiliki kerentanan sosial ekonomi dan fisik bangunan permukiman yang tinggi, yang berpotensi mengalami risiko yang besar dan sulit melewati masa pasca bencana. Risiko penduduk DAS Tinalah sebagian besar berada pada kelas sedang (77%), penduduk dengan kelas tinggi (16%) berada pada lokasi dengan topografi berbukit dan memiliki kemiringan lereng yang terjal dimana proses erosi, pelapukan dan gerak massa intensif terjadi. Tingkat risiko penduduk memiliki pola seperti pita yang berasosiasi dengan jalan dengan aksesbilitas yang tinggi.
This research has been conducted in the watershed Tinalah, Kulonprogo, DIY Province. Damage caused by landslides not only in the form of direct damage such as damage to public facilities, agricultural land, settlements or human victims, but also can lead to indirect losses that could cripple economic development activities and activities in the affected areas and surrounding areas. Disaster risk for the population will grow if it has a high degree of vulnerability. This study aims to determine the pattern of landslide susceptibility, vulnerabilities that exist in society and know the level of community capacity to landslides. The research method used to assess levels of vulnerability, perceptions, capacity and risk society is Parcipatory GIS (P-GIS) on a local scale that approaches the level of the household sector. Assessment is then performed quantitatively by assigning weights and scoring. Sampling techniques for social research and field checks using stratified sampling techniques, whereas the determination of the number of respondents using a proportional sampling area based on the comparison area are included in disaster-prone zones with a total population included in the watershed in each zone of vulnerability to landslides. In outline, the results showed the main factors that affect the vulnerability is income. Low economic level and hilly topography makes Tinalah watershed residents have less accessibility. Perception and capacity Tinalah watershed residents (90%) are in a class is, this means Tinalah watershed residents have understood the dangers of landslides and has tried to anticipate them quite well. The length of time of residence makes the kinship between people are good and turned into social capital that can help post-disaster recovery. 23% of respondents Tinalah watershed residents with low incomes (> 600000-750000) have high socio-economic and physical vulnerability, which could potentially run the risk of a large and difficult to pass the post-disaster. Risk Tinalah watershed residents are mostly located on the class of moderate (77%), population with a high grade (16%) are at locations with hilly topography and has a steep slope where the process of erosion, weathering and mass movement intensified. Risk level of the population has a ribbon-like pattern associated with a high street accessibility.
Kata Kunci : Daerah Aliran Sungai (DAS), Kerentanan, Kapasitas, Longsorlahan, Risiko