PENERAPAN FUZZY C-MEANS UNTUK PENENTUAN CLUSTER RAWAN PANGAN DAN TAKAGI SUGENO KANG UNTUK REKOMENDASI MACAM BANTUANNYA (STUDI KASUS: KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT)
Harliana, Dr. Azhari SN, MT.
2012 | Tesis | S2 Ilmu KomputerKetahanan pangan merupakan salah satu prasyarat dasar yang harus dimiliki oleh suatu daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pada kenyataannya meskipun kabupaten Cirebon termasuk salah satu pensuplai beras wilayah Jawa Barat masih ada beberapa desa yang justru mengalami rawan pangan. Minimnya indikator yang digunakan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Kabupaten Cirebon dalam menentukan status rawan pangan dan tahan pangan masih menjadi kendala dalam penganalisaan penyebab rawan pangan. Penelitian ini mencoba mengembangkan sebuah sistem yang dapat membantu BKP5K Kabupaten Cirebon untuk penentuan cluster rawan pangan dan tahan pangan serta macam rekomendasi bantuannya melalui parameter indikator ketahanan dan kerawanan pangan yang telah ditentukan. Sistem ini dibangun dengan menggunakan metode Fuzzy C-means untuk mengelompokkan daerah rawan pangan dan tahan pangan serta metode Takagi Sugeno Kang sebagai rulebase dalam pemberian rekomendasi program bantuannya. Setelah melakukan pengujian pada 6 kasus uji, maka aspek yang paling berpengaruh pada penentuan desa rawan pangan di Kabupaten Cirebon yaitu aspek ketersediaan pangan, aspek akses pangan dan penghidupan, serta aspek kesehatan dan gizi. Sedangkan jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan, desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai, jumlah RT tanpa akses listrik, jumlah areal tanam yang terkena puso, serta jumlah buruh baik buruh tani dan swasta merupakan 5 indikator yang memiliki pengaruh penting dalam penentuan daerah rawan pangan.
Food security is one of the basic prerequisites that must be owned by a region in order to realize the welfare of society. However, in reality even though the district Cirebon including one supplier of rice areas of West Java, there are still some villages are actually experiencing food insecurity. The lack of indicators used Food Security and the Implementing Agency of Agriculture Fisheries and Forestry Extension (BKP5K) Cirebon in determining the status of food insecurity and food resistance is still an obstacle in analyzing the causes of food insecurity. This study seeks to develop a system that can help BKP5K Cirebon for the determination of cluster food insecurity and food stand as well as assistance and advice through a range of parameter robustness and food insecurity indicators that have been determined. The system is built by using Fuzzy C-means method to classify the areas prone to food and hold food as well as the method of Takagi Sugeno Kang as the rulebase in the provision of assistance program recommendations. After testing the six test cases, then the most influential aspect in the determination of food-insecure villages in the District of Cirebon are aspects of food availability, food access and livelihood aspects, and aspects of health and nutrition. While the population below the poverty line, the village who do not have access to adequate liaison, the number of households without access to electricity, the number of affected puso planting areas, as well as a good number of workers and peasants is a private five indicators that have an important influence in the determination of food-insecure areas .
Kata Kunci : fuzzy c-means, fuzzy takagi sugeno kang, rawan pangan, cluster