BAHASA TABA DI MAKIAN TIMUR HALMAHERA SELATAN : KAJIAN DIALEKTOLOGI DIAKRONIS
AFIDAA WAHID, S.S, Dr. Inyo Yos Fernandez,
2012 | Tesis | S2 LinguistikPenelitian ini bertujuan mengkaji dialek-dialek bahasa Taba secara diakronis dan mene- laah perubahan bahasa Taba secara internal. Lokasi tempat variasi bahasa Taba yang diteliti me- liputi tujuh titik pengamatan yang terletak di desa-desa daerah Kecamatan Makian Dalam di Halmahera Selatan. Objek kajian difokuskan pada variasi bahasa dari salah satu bahasa yang termasuk kelompok bahasa Halmahera Selatan. Menurut para linguis dalam studi terdahulu, ba- hasa-bahasa kerabat di Halmahera Selatan termasuk bahasa Taba merupakan anggota kelompok rumpun bahasa Austronesia (AN), yang berbeda dengan bahasa-bahasa di Halmahera Utara yang termasuk kelompok Non AN (Veen,1915). Namun, karena beberapa faktor terutama karena pembauran dan akibat kontak bahasa di lingkungan ekologi daerah gunung berapi, yang sering- kali menimbulkan erupsi vulkanik penutur bahasa Taba yang berlokasi di wilayah perbatasan Halmahera Selatan dan Halmahera Utara itu banyak mengalami perubahan dalam perkemban- gannya termasuk karena migrasi yang dialami penuturnya dan penduduk sekitarnya. Dengan menggunakan metode dialektologi diakronis dan teknik rekonstruksi internal dan pendekatan bottom up dan topdown berdasarkan teori dialektologi diakronis dapat dijelaskan variasi bahasa Taba yang dibedakan atas dialek kota dan dialek periferal. Dialek kota atau dialek pusat budaya Taba ditetapkan sebagai dialek inovasi (daerah pembaharuan), sedangkan dialek pinggiran merupakan dialek konservatif (daerah relik). Temuan itu didukung oleh evidensi lin- guistik berdasarkan baik secara fonologis maupun leksikal yang dibedakan baik yang bercorak penyatu kelompok maupun pemisah kelompok dari kedua variasi bahasa itu. Evidensi berupa unsur-unsur leksikal maupun fonologis disajikan dalam tabel-tabel yang secara signifikan men- guatkan temuan-temuan pada tataran kebahasaan yang fundamental dalam kajian linguistik dia- kronis berdasarkan kerangka kajian dialektologi diakronis (Nothofer, 1982).
This research aims at the study of Taba dialects diachronically in order to examine their internal changes. The location of field study is seven villages of East Makian District In South Halmahera. The study focuses on Taba language variations from a language group that includes the Austronesian subgroup in South Halmahera. According to linguists in previous studies among others Veen (1915), Austronesian cognate languages in South Halmahera include Taba language as a member of Austronesian (AN) subgroup, which is different from the languages of North Halmahera, which are grouped to the Non AN language group. However, due to several factors, mainly assimilation and languages contact as well as migration of native speakers in the ecological special environment of volcano area, which often caused volcanic eruptions, Taba speakers living in the border of South and North Halmahera, have undergone many changes in their language. Diachronic dialectology method, internal reconstruction technique, and bottom-up as well as top-down approache, based on the theory of diachronic dialectology can explain that Taba language variations are divided into city and peripherals. City dialect or cultural center dialect is designated as innovation dialect (the renewal area), while peripheral dialect as conservative dialect (the relic area). The findings are supported by lexical and phonological evidences that are group into unifying and separating groups of language variations. The evidence of lexical and phonological elements is presented in the tables that significantly strengthen the findings at the level of the fundamental linguistic elements in diachronic linguistics, based on the framework of diachronic dialectology as stated by Nothofer (1982).
Kata Kunci : dialektologi diakronis, rekonstruksi internal, bottom up approach, top down ap- proach