Polimorfisme Pentanukleotida (tttta)n Gena CYP11a dan Polimorfisme Gena CYP19 pada Penderita Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) Etnis Melanesia dan Melayu
Hermanus Suhartono Siswosubroto, dr., Sp.OG, Prof. dr. H. Moh Hakimi, SpOG(K), PhD,
2012 | Disertasi | S3 Kedokteran UmumIndonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang terdiri dari banyak pulau baik pulau-pulau besar maupun kecil. Penduduk di Indonesia berbagai macam suku bangsa dan mempunyai keanekaragaman budaya dan bahasa. Secara umum di Indonesia terdiri dari etnik Melayu di daerah Indonesia bagian barat dan tengah serta etnik Melanesia di daerah Indonesia bagian timur. Sindrom ovarium polikistik (SOPK) merupakan gangguan endokrin ditandai dengan hyperandrogenaemia, anovulatoar, infertility dan hirsutism dengan prevalensi dalam populasi antara 5-10 %. GenaCYP11a/ cytokrome P450scc terletak pada lengan panjang kromosom 15 pada posisi 15q23, merupakan kandidat gena utama yang penting menunjukkan kejadian SOPK, sedangkan gena CYP19 / cytokrome P450 aromatase terletak pada lengan panjang kromosom 15 posisi 15q21.2 merupakan kandidat gena pendukung terjadinya SOPK. Tujuan: Untuk menentukan Hubungan Polimorfisme pentanukleotida (tttta)n Gena CYP11a dengan Kadar Testosteron serum dan Polimorfisme Gena CYP19 dengan Homeostasis model assesment (HOMA) Pada Penderita Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) Etnis Melanesia dan Melayu Tempat : RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dan RSU Jayapura. Periode : Mei 2008 sampai Mei 2011. Jenis penelitian: Cross sectional study. Objek: Penderita SOPK etnik Melanesia dan etnik Melayu (n1=32, n2=30) serta wanita normal etnik Melanesia dan etnik Melayu sebagai kontrol (n3=30, n4=30). Intervensi: Darah tepi diambil 10 cc untuk dilakukan pemeriksaan hormonal, GDP, Insulin, PCR dan GeneScan. Hasil:Hasil analisa statistik ditemukan perbedaan bermakna antara CYP 11a allel pendek dan allel panjang (P=0,010) pada wanita SOPK dan wanita normal Melanesia dan Melayu. Pada pemeriksaan CYP 19 ditemukan polimorfisme pada wanita SOPK etnik Melanesia, dengan analisa secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna (P=0,484). Pada hasil disebutkan : (1) Prevalensi polimorfisme > 5 % baik pada etnik Melanesia maupun etnik Melayu. (2) Karakteristik hasil analisa hormonal baik pada etnik Melanesia maupun Melayu terdapat perbedaan bermakna antara hormonal LH, FSH , E2, P, tetapi T terdapat perbedaan tidak bermakna, (3a) Terdapat pengaruh polimorfisme gena CYP 11a dan polimorfisme gena CYP19 terhadap profil hormonal pada penderita SOPK etnik Melanesia dan etnik Melayu. (3b) Tidak terdapat korelasi polimorfisme gena CYP 19 dengan resistensi Insulin berdasarkan HOMA pada penderita SOPK etnik Melanesia dan etnik Melayu.(3c) Terdapat perbedaan bermakna polimorfisme gena CYP 11a pada allel pendek (4R) dan allel panjang (6R) baik antara kelompok SOPK maupun kelompok kontrol pada etnik Melanesia dan etnik Melayu. Simpulan: Polimorfisme pentanukleotida gena CYP11a dan CYP 19 mempunyai peran terhadap profil hormone pada penderita SOPK etnik Melanesia dan Melayu.
Background. Indonesia is a country in Southeast Asia consisting of many islands, both large and small islands. Residents in Indonesia consists of various tribes and have cultural and linguistic diversity. Generally in Indonesia consists of Malay ethnic in western and central area, and Melanesian ethnic in eastern Indonesia. PCOS is an endocrine disorder characterized byhyperandrogenaemia, anovulatoar, infertility andhirsutism with the prevalence in the population between 5-10 %. Gena CYP11a/ cytokrome P450scc located on the long arm of chromosome 15 at 15q23, is a prime importance gene in demonstrating the incidence of PCOS, whereas gene CYP19 / cytokrome P450 aromatase located on the long arm of chromosome 15 position 15q21.2 is a candidate gene supporting the occurance of PCOS. Aim. To determ ine the association of Polymorphism pentanukleotida (tttta)n Gena CYP11a with Testosteron serum level and gene Polymorphism CYP19 with Homeostasis model assesment (HOMA) inpatients with Polycystic Ovari Syndrome (PCOS) Melanesian and Malay ethnic. Location. RSUP dr. Sardjito Yogyakarta and RSU Jayapura Period : May 2008 until May 2011. Research type: Cross sectional study. Object: Melanesian and Malay ethnic with PCOS (n1=32, n2=30) and Melanesian and Malay ethnic normal women as a control (n3=30, n4=30). Intervention: 10 cc of peripheral blood taken for hormonal, GDP, Insulin, PCR and Gene Scan examination. Result: The result of statistical analysis found significant differences between short allel and long allel on CYP 11a (P=0,010) in PCOS and normal Melanesian and Malay women. On examination of CYP 19 polymorfisms found in PCOS Melanesian ethnic women, analysis results are not statistically significant differences (P=0,484). The results indicated: (1) Prevalence of Polymorphism > 5% both on Melanesian and Malay ethnic. (2) Characteristics of the hormonal analysis results in both ethnic Melanesia and Malay, are significant differences between hormonal LH, FSH , E2, P, but in T there is non significant difference. 3a) There is the influence of polymorphism gene CYP 11a and polymorphism gene CYP 19 on the hormonal profile in patients PCOS Melanesian and Malay ethnic. (3b) There is no correlation polymorphism gene CYP 19 wiyh the insulin resistance based on HOMA in patients with PCOS both Melanesia and Malay ethnic. (3c) There is significant difference of polymorphism gene CYP 11a at short allel (4R) and long allel (6R) both between groups PCOS and control groups on ethnic Melanesia and Malay. Conclusion: Polymorphism pentanukleotida gene CYP11a and CYP 19 has the role of hormone profiles in patients with PCOS in Melanesia and Malay ethnic.
Kata Kunci : Polimorfisme pentanukleotida(tttta)n gena CYP 11a, polimorfisme gena CYP 19, T, HOMA, etnik Melanesia, etnik Melayu.