Laporkan Masalah

PENGARUH PATRON–KLIEN TERHADAP DISIPLIN KERJA PNS DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN

Agustinus Flassy, SE., Wawan mashudi, SIP, MPA,

2012 | Tesis | S2 Ilmu Politik minat Politik Lokal & Otonomi Daerah

Birokrasi apapun bentuknya baik pemerintah maupun swasta dalam melaksanakan tugasnya selalu berpedoman pada aturan-aturan yang mengikat pekerja dalam menjalankan tugas-tugasnya. Sebagai organisasi birokrasi untuk mewujudkan kinerja yang baik, diperlukan disiplin kerja, karena disiplin sebagai alat manajemen yang efektif dalam mencapai pertumbuhan birokrasi yang lebih baik, dan dikendalikan oleh seorang pemimpin (patron) yang mempunyai kekuasaan dalam memberi perintah kepada bawahan (klien) untuk mengikutinya. Berkaitan dengan ini juga disiplin sangat diperlukan bagi perkembangan birokrasi sekretariat daerah Sorong Selatan yang dinilai belum optimal dalam melaksanakan disiplin kerja karena diduga dipengaruhi kekuasaan patron yang berlebihan sangat kuat dan melembaga ditubuh birokrasi. Dalam menjawab permasalahan ini, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak dari pengaruh patron klien terhadap disiplin kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS), serta saran pemecahannya. Dan untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap kinerja birokrasi itu tak lepas dari faktor lain juga seperti keadaan birokrasi, sistem nilai, budaya dan adat istiadat, kekerabatan serta kepemimpinan adat juga berpengaruh dan membentuk perilaku serta disiplin kerja yang tidak jalan. Perilaku patron yang berlebihan dari cara kerja yang berpihak pada kepentingan kelompok (relasi) yang sangat melekat. Pola hubungan timbal balik ini yang kurang harmonis antara staf dan atasan inilah yang melahirkan perilaku disiplin dan tidak disiplin serta menghasilkan kinerja yang tidak baik pula. Secara struktural Bupati berkedudukan sebagai patron dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD), sekda, asisten, bagian dan staf sebagai kliennya. Seorang patron yang juga diartikan sebagai bapak, pemimpin yang karena kekuasaan berpengaruh dalam mengendalikan para birokrat-birokrat serta bawahan (klien-klien)nya, mengikuti perintah dan bertanggung jawab padanya. Pola hubungan patron klien di birokrasi Setda Sorong Selatan dikenal tiga kedekatan yaitu : 1) Bupati, wakil bupati, dan sekda sebagai patron dengan SKPD, asisten, bagian sebagai klien; 2) Bupati, wakil bupati dan sekda sebagai patron dan masyarakat sebagai klien; 3) Sekda, asisten sebagai patron dan kabag, kasubag dan staf sebagai kliennya. Hubungan ini lebih mengakar dan sangat berpengaruh secara luas di birokrasi setda maupun di SKPD, dan sangat sulit untuk dihilangkan. Pengaruh hubungan patron klien ini berimplikasi tidak saja terhadap penerapan disiplin kerja, tetapi juga terhadap rekrutmen dan promosi jabatan, kinerja pegawai serta pengembangan birokrasi ke depan tidak berjalan secara efisien, efektif, transparan dan akuntabel di masa-masa yang akan datang.

Both government and private bureaucracies refer to the rules binding the apparatuses in performing their tasks. To achieve a good performance, a working discipline is required because it is an effective management tool in achieving the growth of better bureaucracy, and it should be controlled by a leader (patron) with power in providing subordinates (clients) with order to follow. The discipline is also required for the development of bureaucracy in the Local Secretariat of South Sorong Regency regarded as performing the work discipline in an suboptimum manner because it is presumably influenced by the excessive power of patron that is relatively established in the bureaucracy. The objective of this study are to find out the impact of the patron-to-client influence on the working discipline of Civil Servant and its solution, as well as to examine the influence of bureaucratic conditions, value system, culture, custom, kinship, and customary leadership on the performance of bureaucracy, particularly work behavior and discipline. The behavior of patron is largely dominated by the discriminative disposition to the interest of fellow group. It is the pattern of mutually inharmonious relationship between staff and senior that cause discipline and indiscipline behavior, resulting in worse performance. Regent structurally has position as patron, while the heads of the Working Unit of Local Apparatuses, Local Secretariat, Assistants, Section, and Staff served as clients. A patron is also meant as `father' or leader, which because of its power he can influentially control bureaucrats and their subordinates (clients) to follow any orders and be responsible to it. Result of the study shows that there were at least three patterns of patronclient relationship in the bureaucracy of South Sorong Regency: (1) Regent, Vice of Regent, and Local Secretariat as patron and the heads of the Working Units of Local Apparatuses, Assistants, and Section as clients; (2) Regent, Vice of Regent, and Local Secretariat as patron and society as client; (3) Local Secretariat and Assistants as patron and the head of Section, the head of Sub-Section, and its staff as clients. The relationship is deeply rooted and has wide influence in bureaucratic body of Local Secretariat and in the Working Units of Local Apparatuses, and it is so difficult to eradicate. The influence of patron-client has implication not only on the application of working discipline, but also on the recruitment and promotion of office, civil servant performance, and the development of bureaucracy in the future. With no working discipline, the bureaucratic performance will be inefficient, ineffective, not transparent, and unaccountable.

Kata Kunci : Birokrasi, Patron Klien, dan Disiplin Kerja.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.