Laporkan Masalah

HUBUNGANANTENATAL CARE (ANC) DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI KABUPATEN WONOSOBO

Rahmat Haji Saeni, Prof. dr. M. Hakimi, SpOG(K), PhD.,

2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Angka kejadian BBLR berbeda antara satu dengan daerah yang lain di Indonesia, angka tersebut berkisar antara 9% - 30%. Persentase BBLR di Jawa Tengah tahun 2007 sebesar 2,26% sedangkan tahun 2008 menjadi 2,08%. Angka kejadian BBLR di Kabupaten Wonosobo tahun 2008 sebanyak 17 kasus, Tahun 2009 sebanyak 29 kasus. Sedangkan 2010 mencapai 33 kasus per 1000 kelahiran hidup. Upaya deteksi dini terhadap kelainan kandungan maupun kesehatan janin dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan kehamilan secara berkala atau rutin yang biasa dikenal dengan sebutan antenatal care(ANC).Cakupan K1 di Kabupaten Wonosobo tahun 2008 yaitu 93.04%, sedangkan pada tahun 2009 meningkat menjadi 97.58%. Cakupan K4 terhadap ibu hamil tahun 2008 yaitu 85.62% dan pada tahun 2009 menjadi 90.45%. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara antenatal care (ANC) dengan kejadian BBLR. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cases control. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan bayi dan tercatat pada register puskesmas pada tahun 2010. Adapun yang termasuk kelompok kasus dalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan BBLR sedangkan kelompok kontrol adalah ibu yang tidak melahirkan BBLR. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara acak sederhana. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan bahwa ibu yang memiliki status kunjungan ANC yang inadekuat dengan kejadian BBLR memiliki nilai OR sebesar 1.15 (CI 95% 0.71-1.90). Sedangkan ibu yang memiliki status ANC tidak teratur memiliki nilai OR sebesar 2.33 (CI 95% 1.47-3.69). Kesimpulan: Ibu yang memiliki status kunjungan antenatal care yang inadekuatberisiko 1. 15 kali lebih besar untuk melahirkan BBLR dan ibu yang melakukan ANC secara tidak teratur pada saat hamil berisiko 2.33 kali lebih besar untuk melahirkan BBLR.

Background: The prevalence of LBW is different from one to other regions in Indonesia, the rate between 9%-30%. In 2007, the percentage of LBW in Central Java was 2.26% but in 2008 was 2.08%. The amount of cases of LBW in Wonosobo District in 2008 were 17 cases , in 2009 were 29 cases and in 2010 were 33 cases per 1000 live births. Early detection of fetal health and abnormalities can be done by prenatal check up regularly named antenatal care (ANC). In 2008, coverage of first visitation of pregnant women (K1) in Wonosobo District was 93.04% and in 2009 was 97.58%. The coverage of fourth visitation of pregnant women (K4) in 2008 was 85.62% and in 2009 was 90.45%. Objective:. To determine the relationship between ANC and LBW Method:. This was an observational study with case control design. The population was all mothers who gave birth and recorded in the register of primary health care in 2010. The case group was mothers who delivered LBW and the control group was mothers who did not deliver LBW. Sampling technique was simple random sampling. Result: Bivariate analysis showed that the pregnant woman who had ANC inadequate status has a risk 1.15(CI 95% 0.71-1.90). Whereas the pregnant woman who had irregularly ANC status has a risk 2.33 (CI 95% 1.47-3.69). Conclusion:. The pregnant woman who had ANC inadequate status has a risk 1.15 times and the pregnant woman who had irregularly ANC status has a risk 2.33 times to birth LBW

Kata Kunci : BBLR, ANC, Wonosobo


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.