EVALUASI MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI PUSKESMAS KABUPATEN KUNINGAN
Dewi Vimala, Prof. dr. Djaswadi Dasuki, MPH., Sp.OG(K), Ph.D.
2012 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar belakang: Di seluruh dunia diperkirakan empat juta bayi meninggal tiap tahunnya, 99% di antaranya terjadi di negara berkembang. Di Kabupaten Kuningan pada tahun 2009 ditemukan 258 kasus kematian bayi yang terdiri dari 134 neonatal yang meninggal dengan penyebab kematian tertinggi karena Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) 51 bayi (38,06%). Kematian neonatal dapat dicegah dengan sebuah pendekatan Integrated Management of Neonatal Childhood Illness (IMNCI). Badan kesehatan dunia WHO dan UNICEF pada tahun 1996 mengembangkan program Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau yang lebih dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yaitu suatu upaya untuk mengatasi angka kesakitan dan kematian bayi dan balita, dengan memadukan pelayanan promotif, preventif dan kuratif pada lima penyakit (pneumonia, diare, campak, malaria dan malnutrisi) penyebab utama kematian pada bayi dan balita di negara berkembang. Tujuan: Melakukan evaluasi sumber daya manusia pelaksana program MTBS dalam penatalaksanaan BBLR. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasi dengan rancangan penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi penelitian adalah petugas kesehatan. Analisis data secara univariat, bivariat, multivariat dan analisis data kualitatif dari wawancara mendalam. Hasil Penelitian: Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang lebih dominan dalam memprediksi cakupan MTBS adalah variabel pendidikan (RP 4,19 CI 95% 1,44-12,16) kemudian diikuti pelatihan petugas (RP=2,45 CI 95%=1,05-5,68), lama bekerja (RP=3,02 CI 95%=1,29-7,08) dan sarana (RP=2,45 CI 95%=1,05-5,68). Pendidikan yang tinggi pada petugas kesehatan cenderung memiliki motivasi dan semangat kerja yang lebih baik. Adanya semangat kerja dapat meningkatkan pemberian pelayanan kepada masyarakat sehingga cakupan program dapat tercapai lebih baik. Kesimpulan: Faktor pendidikan tenaga pelaksana program MTBS lebih dominan berkontribusi terhadap cakupan program MTBS dibandingkan faktor petugas yang telah mendapatkan pelatihan, lamanya bekerja dan faktor sarana.
Background: In the entire world, it is estimated four million babies die each year, 99% of whom occur in developing countries. In Kuningan District in 2009, 258 cases of infant deaths were found and, of the numbers, 51 infants died due to Low Birth Weight (LBW) (38.06%). Neonatal death can be prevented with an Integrated Management of Neonatal Childhood Illness (IMNCI). So in the 1996 the World Health Organization and UNICEF to develop a program of Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) is an effort to address the infants and under-five morbidity and mortality, by integrating promotive, preventive and curative services in the five diseases (pneumonia, diarrhea, measles, malaria and malnutrition) as causes of death in infants and young children in developing countries. Objective: To evaluate human resources programs implementing IMCI in the management of LBW. Methods: It was an observational study with a cross-sectional study design quantitative and qualitative approaches. The study population was health providers. Data analysis was univariate, bivariate, and multivariate analyses and qualitative data from in-depth interviews. Results: Multivariate analysis showed that the more dominant variable in predicting the scope of IMCI was the education variable (PR 4.19 95% CI 1.44 to 12.16) followed by provider training (PR = 2.45 CI 95% = 1, 05 to 5.68), length of work (PR = 3.02 95% CI = 1.29 to 7.08) and facility (PR = 2.45 95% CI = 1.05 to 5.68). Health provider with high education tended to have the motivation and better work spirit. The existence of spirit could improve service delivery so that the scope of the program could be better achieved. Conclusion: Education factor of IMCI implementer was more dominant contributing to the coverage of IMCI program compared to the factors of provider training, length of work and facility.
Kata Kunci : evaluasi program, manajemen terpadu balita sakit (MTBS), bayi berat lahir rendah (BBLR).