ANALISIS PEMILIHAN KAMPUNG WISATA DI KOTA YOGYAKARTA (STUDI PREFERENSI WISATAWAN DI SOSROWIJAYAN WETAN TAHUN 2011)
C. TIFFANI H. PUTRI, Dr. Muhammad Edhie Purnawan, M.A.
2012 | Tesis | S2 Magister Ek.PembangunanSosrowijayan Wetan merupakan kampung internasional ke dua setelah Prawirotaman yang sudah overcrowded dan bukan menjadi satu-satunya kampung wisata yang dapat dipilih oleh wisatawan saat berkunjung ke Kota Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan prioritas kampung wisata alternatif selain Sosrowijayan Wetan berdasarkan preferensi wisatawan di Sosrowijayan Wetan, serta menentukan strategi pengembangan bagi kampung wisata yang terpilih sehingga bisa lebih dikembangkan seperti kampung wisata Sosrowijayan Wetan. Kampung wisata yang dipilih dalam penelitian ini adalah Kampung Wisata Dipowinatan, Kadipaten, Cokrodiningratan, dan Purbayan yang merupakan kampung wisata yang mendapatkan dana PNPM Mandiri 2011 dan sudah sesuai dengan kriteria kampung wisata. Kriteria kampung wisata yang digunakan dalam penelitian ini adalah potensi kawasan, lokasi, aksesibilitas, infrastruktur, kenyamanan, layanan, harga, fasilitas dan akomodasi. Penelitian ini memakai dua alat analisis yaitu Analytical Hierarchy Process (AHP) dan analisis SWOT. Alat analisis AHP dengan bantuan software Expert Choice 11 ini dilakukan untuk mengetahui kampung wisata yang terpilih berdasarkan preferensi wisatawan di Sosrowijayan Wetan dan analisis SWOT digunakan untuk menentukan strategi pengembangan bagi kampung wisata yang terpilih tersebut. Dari hasil pengumpulan data dan pengolahan data yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 150 wisatawan di Sosrowijayan Wetan dan wawancara dengan masing-masing fasilitator kampung wisata dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, memperoleh kesimpulan sebagai berikut. Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam hasil menunjukkan bahwa kampung wisata yang terpilih berdasarkan preferensi wisatawan di Sosrowijayan adalah Kampung Wisata Dipowinatan dengan bobot proporsi 0,310. Berdasarkan faktor-faktor dalam pemilihan kampung wisata, misalnya fasilitas dan akomodasi, layanan, potensi kawasan, lokasi, kenyamanan, infrastruktur, dan aksesibilitas; dalam semua faktor tersebut, Kampung Wisata Dipowinatan menempati urutan delapan teratas. Berdasarkan analisis SWOT, Kampung Wisata Dipowinatan berada di kuadran 1 yang merupakan situasi yang sangat menguntungkan, di mana Kampung Wisata Dipowinatan memiliki kekuatan dan peluang sehingga dapat memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan yang agresif (Strategi SO atau strategi kekuatan-peluang), dan memiliki kekuatan serta peluang yang besar untuk bersaing di antara kampung-kampung wisata maupun ODTW yang lain di Kota Yogyakarta, selain itu dapat dikatakan bahwa Kampung Wisata Dipowinatan merupakan kampung wisata yang sudah mempunyai perencanaan dan pengelolaan manajemen kampung wisata yang baik.
Sosrowijayan Wetan is the second international tourism village after Prawirotaman which has been overcrowded and is not the one and only tourism village which tourists can choose while visiting Yogyakarta. This research is conducted to determine the priority of alternative tourism village than Sosrowijayan Wetan based on the preference of tourists who visit Sosrowijayan Wetan, and also to determine the development strategies to develop the chosen tourism village same as Sosrowijayan Wetan tourism village. The selected tourism villages in this research were Dipowinatan Tourism Village, Kadipaten Tourism Village, Cokrodiningratan Tourism Village, and Purbayan Tourism Village; these are tourism villages that received PNPM Mandiri 2011 fund and has met the criteria for a tourism village. The criteria employed in this research are the area potential, location, accessibility, infrastructure, convenience, service, price, facilities, and accommodation. This research employs two analytical instrument; they are Analytical Hierarchy Process (AHP) and SWOT analysis. AHP analysis with constructively software of Expert Choice 11 is employed in order to find out which tourism village is selected based on the preferences of tourist who visit Sosrowijayan Wetan; and SWOT analysis is employed to find out development strategies for the chosen tourism village. Based on data collection and data analysis which is conducted through questionnaire distributed to 150 tourists who visit Sosrowijayan Wetan and interview with facilitator of each tourism village and the Department of Tourism and Culture of Yogyakarta, the writer finds the conclusions as follows: The result of Analytical Hierarchy Process (AHP) shows that the tourism village which is selected based on the preferences of tourist who visit Sosrowijayan Wetan is Dipowinatan Tourism Village which gets 0.310 of weight proportion. Based on selection factors in tourism village selection, in terms of facilities and accommodation, service, area potentials, location, convenience, infrastructure, and accessibility; in terms of those factors, Dipowinatan Tourism Village is at the first eight. Based on the SWOT analysis, the Dipowinatan Tourism Village is in Quadrant 1; it means that it is a very profitable situation in which the Dipowinatan Tourism Village has strengths and opportunities so it can employ all strength to seize and to benefit opportunities as much as possible. The strategy should be applied in this condition is to support the aggressive growth policies (Strategy SO or power strategies – opportunities), and to possess the strengths and opportunities to compete among other tourism villages and tourist attraction object in Yogyakarta. In addition to that, it can be stated that Dipowinatan Tourism Village is a tourism village that have already possessed good planning and management in tourism village.
Kata Kunci : kampung wisata, preferensi, Analytical Hierarchy Process (AHP), analisis SWOT.