Laporkan Masalah

POLA PENGUASAAN DAN KEPEMILIKAN TANAH PADA MASYARAKAT SUKU HATAM DI KECAMATAN WARMARE KABUPATEN MANOKWARI TAHUN 1950 – 1972

AGUS MANDACAN, Dr. Nur Aini Setiawati

2012 | Tesis | S2 Sejarah

Latar Belakang: Praktek penguasaan tanah pada masyarakat suku Hatam telah mengalami pergeseran karena adanya pengaruh dari kaum pendatang. Pergeseran lebih terasa pada tahun 1962 ke atas seiring pembangunan semakin giat dilaksanakan. Jumlah masyarakat Hatam semakin bertambah, namun tanah ulayat semakin terbatas. Nilai-nilai religius magis (hubungan sakral antara manusia dan tanah) menjadi luntur. Pembangunan di atas tanah adat suku Hatam belum mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Struktur hubungan vertikal dalam masyarakat suku Hatam juga sering dikaitkan dengan masalah tanah. Tanah menunjukkan status seseorang dalam masyarakat suku Hatam. Tujuan penelitian: Menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran tradisi penguasaan kepemilikan tanah, mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pergeseran tradisi penguasaan kepemilikan tanah pada masyarakat suku Hatam di Kecamatan Warmare Kabupaten Manokwari. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Data yang terkumpul diuji melalui kritik intern dan ekstern. Kritik intern untuk menguji kredibilitas (kelayakan) data, sedangkan kritik ekstern untuk menguji otentisitas (keabsahan) data. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan sosiologis untuk menjelaskan aspek-aspek penguasaan tanah masyarakat suku Hatam, serta kekuasaan kepala suku dan pemerintah kolonial yang menyebabkan munculnya pergeseran penguasaan tanah masyarakat suku Hatam. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi penguasaan kepemilikan tanah pada masyarakat suku Hatam ditentukan oleh sistem pewarisan, hibah, jual beli tanah dan tukar menukar. Faktor penyebab terjadinya pergeseran tradisi penguasaan kepemilikan tanah adat suku Hatam meliputi perkawinan, kredibilitas kepala suku, motivasi kepemilikan kain timor, kebutuhan ekonomi dan pendidikan, dan sentuhan pembangunan. Pengaruh yang ditimbulkan oleh pergeseran tradisi penguasaan kepemilikan tanah adat suku Hatam meliputi pengaruh positif dan pengaruh negatif. Kesimpulan: Pergeseran tradisi penguasaan tanah adat suku Hatam berpengaruh positif pada akses transportasi, akses informasi, interaksi sosial, akses kebutuhan ekonomi, lapangan kerja, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat suku Hatam. Pengaruh negatifnya meliputi kebutuhan ekonomi dan pendidikan sulit terpenuhi, muncul kecemburuan sosial, hubungan sakral antara tanah dan masyarakat Hatam terganggu, muncul konflik horisontal di antara masyarakat Hatam, proses percepatan pembangunan di suku Hatam terhambat, penyakit sosial semakin tinggi, tingkat kepercayaan masyarakat Hatam terhadap pemerintah dan partisipasinya dalam pembangunan semakin berkurang, serta munculnya dua masalah penting akibat pelaksanaan pembangunan, yaitu kegagalan proyek resettlement dan pertikaian yang berkepanjangan di antara klen.

Background: The practice of land tenure on Hatam tribal society has undergone a shift due to the influence of immigrants. This shift more pronounced upward in 1962 as the development is increasingly improved. Number of Hatam people is growing, but the communal land is increasingly limited. Values magical religious (sacred relationship between man and land) to fade. Development on lands Hatam tribal has not been able to improve their welfare. The structure of vertical relationships in the Hatam tribe community is also often associated with land issues. Soil indicates a person's status in Hatam tribe society. Objectives: To analyze the factors that cause a shift in the traditions of land ownership tenure, studying the effects caused by the shift in the tradition of land tenure in Hatam tribal communities in the Sub Warmare Manokwari District. Methods: This study is a historical research. The data collected was tested by internal and external criticism. Internal criticism to test credibility (feasibility) of data, while the external criticism to examine the authenticity (validity) of data. This study also uses a sociological approach to explaining aspects of land tenure in Hatam tribal people, and the power of chiefs and the colonial government that led to the emergence of a shift in Hatam tribal people land tenure. Results: Results showed that the tradition of land ownership tenure at Hatam tribal society is determined by the system of inheritance, grants, land transfer and exchange. Factor contributing to the shift in Hatam tribe land ownership tenure traditions include marriage, the credibility of the chieftain, motivation to be timor fabric ownership, economic and educational needs, and a touch of development. The influence caused by the shift of Hatam tribe land ownership tenure traditions includes positive and negative influences. Conclusion: Shift in the tradition of Hatam tribe land tenure has a positive effect on access of transport, information access, social interaction, access to economic needs, employment, health, education, and welfare of Hatam tribal people. Negative influences include economic and educational needs are met is difficult, emerging social jealousy, sacred relationship between land and hatam communities disrupted, horizontal conflicts arise, the process of acceleration of development in Hatam tribal obstructed, the higher the social disease, the level of public trust to government and their participation in the development of increasingly reduced, and the emergence of two important issues due to the implementation of development are met, namely the failure of the resettlement project and prolonged disputes between the clan.

Kata Kunci : Penguasaan dan kepemilikan tanah, Masyarakat suku Hatam.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.