PENGARUH VARIETAS DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH MENUJU ORGANIK
GALUH BANOWATI, Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc.
2012 | Tesis | S2 Agronomidengan membuat INTISARI Laju peningkatan produktivitas padi sawah secara nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung melandai (leveling off). Pelandaian produktivitas padi terjadi karena kurangnya ketersediaan teknologi spesifik lokasi dan tingkat adopsi teknologi anjuran yang masih relatif rendah. Penerapan teknologi di tingkat petani umumnya dari tahun ke tahun tidak berbeda, sehingga banyak komponen teknologi budidaya padi sawah perlu diperbaiki. Perbaikan teknologi dimaksud antara lain adalah pengelolaan air irigasi, penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, pengaturan jarak tanam optimal, dan penggunaan masukan yang menaikkan tingkat kesehatan lingkungan dan menurunkan kerusakan lingkungan. Penelitian lapangan telah dilaksanakan petak percobaan pada areal sawah milik petani di Dusun Gulon, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Juni – November 2010, untuk mengetahui pengaruh varietas dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah menuju organik. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap, dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor perlakuan pertama adalah jarak tanam, yaitu: 20 cm x 20 cm , 25 cm x 25 cm, dan 30 cm x 30 cm. Faktor perlakuan kedua adalah varietas padi, yaitu: Pandan Wangi sebagai varietas lokal, Ciherang dan IR-64 sebagai varietas unggul nasional, serta HIPA 7 sebagai varietas hibrida. Hasil pertumbuhan yang ditunjukkan oleh bobot kering tanaman tertinggi pada akhir penelitian adalah jarak tanam 20 cm x 20 cm (populasi 250 000 rumpun/ha). Bobot kering Pandan Wangi, Ciherang, dan IR-64 lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan HIPA-7. Gabah Kering Giling (GKG) tertinggi diperoleh pada jarak tanam 25 cm x 25 cm (populasi 160 000 rumpun/ha), dan tidak berbeda nyata dengan 20 cm x 20 cm. Gabah kering giling Pandan Wangi, Ciherang, dan IR-64 lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan HIPA-7. Upaya budidaya organik untuk mendapatkan hasil gabah kering giling tinggi dan mempunyai nilai ekonomi tinggi adalah pada jarak tanam 25 cm x 25 cm menggunakan varietas Pandan Wangi walaupun dalam penelitian tidak terdapat interaksi. Hal ini disebabkan jumlah benih yang digunakan 25 cm x 25 cm lebih sedikit hingga 36% dibandingkan 20 cm x 20 cm, dan Pandan Wangi selain disukai masyarakat juga mempunyai nilai ekonomi relatif tinggi.
The rate of increase in productivity of rice nationwide in the last few years tend to ramp (leveling off). Leveling off of rice productivity due to lack of availability of location-specific technologies and technology adoption rates are still relatively low recommended. Application of technology at the farm level is generally from year to year is no different, so a lot of rice cultivation technology components need to be repaired. Meant among other technological improvements is the management of irrigation water, the use of location specific high yielding varieties, setting the optimal spacing, and use of inputs raises the level of environmental health and reduce environmental damage. Fieldwork was carried out by making the research plots in farmers' rice acreage in Dusun Gulon, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta in June - November 2010, to determine the effect of varieties and plant spacing on growth and productivity toward organic lowland system. The treatments are arranged in a complete randomized block design, with 3 blocks as replicates. The first factor is the spacing of treatments, namely: 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm, and 30 cm x 30 cm. The second treatment factor was rice varieties, namely: Pandan Wangi as the local varieties, Ciherang and IR-64 as national varieties, as well as Hipa-7 as the hybrid varieties. The results shown by the growth of plant dry weight was highest at plant spacing 20 cm x 20 cm (population 250 000 clumps / ha). Dry weight Pandan Wangi, Ciherang, IR-64 and higher and significantly different than Hipa-7. Dried Grain Milled (MPD) obtained at the highest spacing of 25 cm x 25 cm (population 160 000 clumps / ha), and not significantly different with 20 cm x 20 cm. Dry Milled grain Pandan Wangi, Ciherang, IR-64 higher and significantly different than Hipa-7. Organic farming efforts to obtain high grain yield dry grain milled and have high economic value is the spacing of 25 cm x 25 cm using a variety of Pandan Wangi, although in this study there is no interaction. This is due to the number of seeds used 25 cm x 25 cm up to 36% less than 20 cm x 20 cm, and Pandan Wangi appreciated by the public because of it’s spesific pandan scented. The farmer prefer to plant Pandan Wangi due to its’s good price.
Kata Kunci : padi menuju organik, varietas, jarak tanam