PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK DI KECAMATAN ABEPURA KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA
ALBERTH. E.S. ABRAUW, S.T, Prof.Dr. Hadi Sabari Yunus, M.A, DRS.
2012 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganPenelitian ini dilakukan di Kecamatan Abepura Kota Jayapura Provinsi Papua. Pengelolaan sampah anorganik yang dilakukan di wilayah ini digali melalui kajian perilaku masyarakat. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk 1) mengkaji karakteristik sosial-ekonomi masyarakat di daerah penelitian; 2) mengakaji perilaku masyarakat Kecamatan Abepura dalam pengelolaan sampah anorganik; 3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat guna mewujudkan Kota Jayapura yang BERIMAN. Pengumpulan data penelitian dengan metode penelitian survei dengan penyebaran kuesioner dan wawancara dengan 126 responden yang merupakan kepala keluarga di Kecamatan Abepura. Penentuan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Cara penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada setiap pertanyaan di kuisioner, kemudian dianalisa menggunakan tabel frekuensi, tabulasi silang dan juga uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosial-ekonomi masyarakat yang meliputi pendidikan formal responden 90% sangat tinggi (SLTA-Sarjana), 62,7% profesi responden (PNS/wiraswata), jumlah anggota keluarga (4-5 orang) cukup besar. Pendapatan responden (3.000.000-4.000.000) cukup besar, penduduk non Papua cukup tinggi 60%. Pengetahuan masyarakat terhadap pengelolaan sampah anorganik cenderung rendah. Persepsi terhadap dampak sampah anorganik cukup tinggi 45,04%. Sikap yang ditunjukkan dalam pengelolaan sampah anoragnik sangat rendah 13,96 %. Kebiasaan dalam pengelolaan sampah anorganik sangat rendah 13,95 %. Pengelolaan sampah anorganik yang dilakukan oleh masyarakat sebatas pada pengumpulan tanpa melakukan pemisahan terlebih dahulu. Perilaku dominan masyarakat dalam pengelolaan sampah anorganik menunjukan dominan sedang (95%). Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah anorganik menunjukkan gejala apatisme terhadap lingkungan dan ikut menunjang program pemerintah menjadikan Kota Jayapura yang BERIMAN. Faktorfaktor yang mempengaruhi perilaku sedang dalam pengelolaan sampah anorganik secara signifikan terpengaruh kuat adalah pengetahuan terhadap perilaku masyarakat karena kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat terkait UU No 18 Tahun 2008 dan PERDA Jayapura Kota BERIMAN dan pengelolaan sampah, serta faktor lingkungan budaya (suku bangsa/adat istiadat) masyarakat yang meliputi adanya kurang kepedulian terhadap kondisi lingkungan Kota Jayapura baik dari suku asli Papua dan non Papua dalam perilaku pengelolaan sampah anorganik. Sedangkan jumlah anggota keluarga, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan menunjukkan arah hubungan negatif dengan sifat korelasi lemah terhadap perilaku pengelolaan sampah anorganik.
This research was conducted in AbepuraSubdistrict, Jayapura City, Papua Province. The inorganic waste management in this area is explored through studying people’s behavior. The research objectives are to: 1) study the social-economic characteristics of the community in the research area; 2) study the public behavior of AbepuraSubdistrict in the inorganic waste management; 3) find out the factors that affect public behavior to actualize the BERIMANprogram in Jayapura City. The collection of research data was done by usingsurvey method, by distributing questionnaires and interviews to 126 respondentswhich are the householders in AbepuraSubdistrict. Sample determination was simple random sampling method.The assessment was by giving score values to every question in the questionnaires, which then analyzed by using frequency table, cross tabulation and correlation test. Research result shows that the social-economic characteristics of people in the area, including the education level, 90% of the respondents have education level of High School and Undergraduate study, 62,7% of respondent are Civil worker or entrepreneur, large number of family member (4-5 person).Respondent’s income of 3.000.000- 4.000.000 is high enough, 60% of non-Papua residents in the area. Public knowledge about inorganic waste management is relatively low.The perception value towards the effect of inorganic waste is high enough with 45,04%. The attitude value shown in inorganic waste management is very low with 13,96 %. The habit value of inorganic waste management is very low with 13,95 %. Inorganic waste management being done by the community is only limited to garbage collection without doing any separation beforehand. The dominant behavior of public in an inorganic waste management shows a medium dominant level of 95%. Public behavior in an inorganic waste management shows a phenomenon of apathy towards environment and also supports the Jayapuragovernment program to actualize a BERIMAN city. Significant factors affecting the medium level behavior in an inorganic waste management are the knowledge of public behavior because the lack of government socialization to the public concerning the UU No 18 Tahun 2008and PERDA Jayapura Kota BERIMANand waste management, there is also socio-cultural environment factor (ethnic/customs) which involves the lack of concern towards Jayapura City environmental condition, either from the Native Papua and non-Papua ethnic in the behavior of inorganic waste management.While the amount of family members, type of work, education level, and income shows a negative relation with a weak correlation towards the behavior of inorganic waste management.
Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Persepsi, Kebiasaan, Perilaku Masyarakat, Pengelolaan Sampah anorganik, Karakteristik Sosial-ekonomi.